Jakarta, TopBusiness – Indonesia memiliki potensi sumber daya mineral yang cukup guna dijadikan bahan baku baterei kendaraan listrik, namun diperlukan pendalaman riset yang memadai. Keanekaragaman mineral tersebut pada gilirannya sebagai penggerak bagi percepatan program pemerintah dalam rangka net zero emission.
Demikian rangkuman dari webinar Lembaga Kajian Nawacita (LKN) dengan tema “Kupas Tuntas Riset dan Inovasi Bahan Baku Baterei Merah Putih” yang diambil dari pernyataan peneliti Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik BRIN, Agus Haryono, Himawan Tri Bayu Murti Petrus (UGM), Johny Wahyuadi (UI), dan Zaki Mubarok (Kelompok Keahlian Metalurgi, FTTM-ITB) serta Direktur Utama PT Geo Dipa Energi, Riki Firnanda Ibrahim, di Jakarta, kemarin.
Agus menyatakan, pemerintah sekarang sedang hangat-hangatnya membicarakan tentang potensi industri baterei di Indonesia. Dalam Perpres 55 tahun 2019 terkait percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterei (KBLBB) untuk transportasi jalan.
“Apa-apa yang berkaitan KBLBB, termasuk baterei ini. Sekarang pemerintah mewajibkan untuk membangun fasilitas manufakturnya. Dan ini merupakan kesempatan bagi kita sebagai periset melakukan riset dan inovasi agar dimanfaatkan oleh industri,” papar dia.
Dikatakan Agus, Perpres 55 ada roadmap terkait dengan TKDN dari 2023-2026 minimal sudah 80 persen. Artinya ini target yang cukup ambisius, apalagi kalau melihat kendaraan baik roda empat maupun roda dua, sebagian besar 30-40 persen komponen dari KBLBB baterei.
Lanjut dirinya menguraikan, dtambah lagi dari komitmen Paris Agreement, pemerintah terakhir menyatakan bahwa akan menuju emisi net zero pada tahun 2060 atau lebih cepat dari 2060. “Ini tentu harus kita dukung karena kalau kita lihat dari inventarisasi emisi gas rumah kaca nasional. Ini sampai tahun 2019 pun Indonesia belum berhasil melakukan penurunan meskipun kenaikkan tidak signifikan, tetapi target untuk menurunkan emisi gas rumah kaca ini perlu upaya yang lebih gigih,” paparnya.
Menurut Agus, untungnya di Indonesia dari sumber bahan baku baterei dari graphite, tembaga, alumunium, mangan, nikel, cobalt masih ada kecuali graphite dan lithium, sehingga Indonesia bisa bermain dengan bahan baku secara optimal dengan mendirikan industri baterei maka bisa jadi pelaku utama di kemudian hari.
“Ini saatnya Indonesia menaiki ombak revolusi industri jilid 4, karena kita punya 30 persen cadangan bijih nikel itu ada di Indonesia dan dengan demikian Indonesia bisa menjadi pelaku utama untuk baterei sebelum munculnya inovasi-inovasi baru, yang mungkin tidak membutuhkan nikel. Siapa tahu yah muncul bahan lain, misalnya graphite, mungkin bisa dijadikan sebagai bahan baku utama untuk baterei. Nah mumpung sekarang nikel itu bahan baku utama untuk baterei, ini saatnya Indonesia untuk menjadi pemimpin bagi industri baterei di dunia,” ungkap dia.
Riki mengatakan, dalam 100 tahun mendatang Indonesia dapat memiliki daya saing tinggi di sumber daya alam, serta juga dapat memainkan peran unggul di dalam perubahan iklim, geothermal salah satunya.
Dalam pandangan Riki, sumber daya alam berbasis fosil tak akan sepenuhnya hilang. “Walaupun 2060 masih panjang, namun dunia masih cinta dengan fosil, ternyata dunia ini 85 persen pakai batu bara. Jadi tantangan untuk meninggalkan fosil menjadi tantangan kita semua, namun saya yakin Indonesia yang memiliki berbagai sumber energi bukan masalah tidak mau memakai fosil, namun Indonesia tetap akan menggunakan energi yang lebih berkelanjutan dan fosil akan dipergunakan sebagai manfaat-manfaat yang lebih tinggi,” ungkap dia.
Sehubungan dengan itu, dirinya berharap sumber panas bumi yang saat ini hanya dipergunakan sebagai tenaga listrik, juga bermanfaat untuk geothermal brine yang menjadi sumber bahan baku baterei. “Sumber batu baterei dari braine ramah lingkungan, karena braine tidak mengandung gas. Selain, juga bisa meningkatkan ekonomi tak hanya pemerintah pusat, tapi juga pemerintah daerah,” tutur dia.
Dikatakan Riki, ternyata harga dari mobil listrik 40 persen berdasar dari batu baterei. Kalau batu baterei tidak bisa dikuasai tentu tidak bisa menikmati sumber daya alam yang ada. Sehingga pihaknya melihat beberapa kemungkinan yang ada di lapangan. Selain, tetap mendukung program nasional.
“Terus terang sampai saat ini, siapa yang menjadi lembaga di depan untuk melakukan hal itu. Nah kami pun juga bukan lembaga yang pantas untuk menjadi peran pelopor. Walaupun lithium panas bumi bisa menjadi nilai komersil tetapi tetap kami dukung, khususnya di lembaga-lembaga riset dan kajian agar hal ini dapat terlaksana,” kata Riki.
Himawan menyatakan bahwa ekstrasi lithium perlu kajian. ketika berbicara soal lithium tak hanya berfokus pada lithiumnya saja, namun harus melihat secara lebih menyeluruh karena di dalam geothermal brine, itu komposisinya sangat-sangat kompleks.
“Nah yang paling signifikan sebenarnya adalah keberadaan silika. Sebelum ada lithium, sebetulnya silika sudah menjadi permasalahan di baterei. Proses ekstrasi mineral berharga dari geothermal. Silika menjadi tahapan awal yang harus kita kurangi, karena kalau silika memiliki konsentrasi yang tinggi nanti akan mengganggu teknologi pengambilan lithium karena terjadi fouling/blocking akan menjadi terak,” katal dia.
Dia sangat berharap ada kolaborasi antar-lembaga sehingga tercapai apa-apa yang diharapkan. “Pemerintah menyediakan ruang, tak hanya ruang tapi juga menyediakan fasilitas pendanaan yang luar biasa. Dari sisi institusi sendiri sekarang ego sektoralnya sudah tidak ada, terjadi facilities, sehingga harapannya kolaborasi, sehingga akhirnya geothermal bisa diwujudnyatakan. Geothermal bukan hanya energi, tapi harta karun dalam kedalaman. Apakah kita bisa merealisasikannya itu menjadi PR bersama,”pungkasnya.
Johny menjelaskan bahwa materi baterei diantaranya cobalt, lithium nikel, mangan, aluminum. “Kita punya lithium yang cukup banyak dan tersebar, jumlahnya menurut saya cukup banyak,” kata dia.
Dia menambahkan bahwa limbah Feronickel, terak nikel banyak sekali. Itu dapat sebagai bahan baku baterei. “Jangan limbah-limbah itu dibiarkan saja, tapi kita proses untuk kemakmuran kita,” ujar dia.
Zaki menilai, material untuk baterei untuk saat ini adalah Ni-sulfate yang digunakan dengan kemurniaan di atas 99 persen. Kenapa baterei EV berbasis Ni-Sulfat karena mempunyai densits energi (energi spesifik) yang tinggi, mempunyai kemanan yang baik, mempunyai umur pakai (durabilitas) yang baik dan relatif lebih murah jika dibandingkan tipe LCO.
Foto: Dokumentasi TopBusiness.id
