TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Transformasi Industri Gula, Ini Hasil Rumusan National Sugar Summit

Albarsyah
17 January 2022 | 09:13
rubrik: Business Info
Jika HPP Gula Dinaikkan, Inilah Dampaknya

Foto: istimewa

Jakarta, TopBusiness  –  Kesenjangan antara kebutuhan dan produksi gula masih cukup lebar, walaupun  Pemerintah telah berupaya mendorong pelaku usaha gula untuk meningkatkan produksi. 

Upaya  untuk meningkatkan produksi gula terus dilakukan melalui berbagai pendekatan, baik sisi teknis  melalui peningkatan produktivitas, ekstensifikasi lahan, perubahan pola kemitraan antara industri  dengan petani Tebu, restrukturisasi bisnis korporasi maupun penguatan riset dan inovasi. Hingga  seberapa besar upaya tersebut dapat memperkecil kesenjangan antara Stakeholder utama  pergulaan nasional, yaitu produsen dan konsumen? 

Dalam merespon situasi pergulaan nasional tersebut PT RNI (Persero) atau ID FOOD bersama  Asosiasi Gula Indonesia (AGI) dan Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) merespon melalui hasil  rumusan National Sugar Summit (NSS) yang terselenggara beberapa waktu lalu,menghasilkan  rumusan arah dan kebijakan industri gula nasional kedepan. 

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir berpesan bahwa kegiatan NSS dapat merumuskan hasil  keputusan yang nyata sebagai bagian dari transformasi ekosistem pangan. 

“Saya berharap BUMN yang bergerak di industri gula harus terus di-upgrade dan mengedepankan  kolaborasi dan menjadi motor penggerak di industri gula nasional,” jelas Menteri Erick kepada TopBusiness.id.

Direktur Utama ID FOOD sekaligus Ketua Dewan Pengarah AGI, Arief Prasetyo Adi, mengatakan  terdapat beberapa hasil rumusan bersama AGI dan IKAGI, diantaranya Resiliensi sektor pangan di  era pandemi mampu memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian nasional,  dengan pertumbuhan sebesar 14%, dimana subsektor perkebunan menyumbang 26,5% terhadap  PDB Pertanian secara keseluruhan. 

“Di bidang pergulaan, upaya peningkatan perlu terus ditingkatkan melalui perluasan lahan,  revitalisasi sarana produksi, kemitraan dan sinergi BUMN. Selain itu, pembentukan Holding Pangan  diharapkan dapat terus bersinergi dengan Pemangku Kepentingan dalam menciptakan ekosistem  pangan nasional, termasuk memberdayakan BUMDES untuk meningkatkan nilai tukar petani Tebu,” jelas Arief.  

BACA JUGA:   Pacu Dana Murah, BRI Agro Jalin Sinergi dengan Dapenbun

Rumusan lainnya sebagai upaya transformasi industri gula nasional adalah melalui penyediaan  lahan Tebu untuk pengembangan areal, disamping melalui kemitraan dengan petani Tebu, juga  dimungkinkan untuk memanfaatkan lahan Area Penggunaan Lain (APL), lahan HGU, lahan hutan  Produksi/Perhutani/Inhutani dan lahan adat/ulayat. 

Menurut Arief, para pelaku industri gula menilai bahwa isu Industri gula nasional yang masih  dihadapi antara lain produktivitas yang rendah dikisaran 72 ton/ha; rendemen Tebu rendah dikisaran  7,30%; dan tidak tercapainya optimalisasi kapasitas giling khususnyaPG-PG di Jawa karena pasokan  tebu yang kurang, keterbatasan kemampuan pendanaan dan inefisiensi produksi.  

Untuk itu, lanjut Arief, para pelaku industri gula baik Asosiasi maupun BUMN yang bergerak di  industri gula baik ID FOOD maupun PTPN III perlu melakukan transformasi dalam upaya  menciptakan ekosistem gula yang terintegrasi melalui sinergi Industri gula dalam mengoptimalisasi  lahan tebu, Peningkatan peran petani tebu rakyat melalui perbaikan / redesign hubungan kemitraan,  Penerapan inovasi dan teknologi future practices berbasis teknologi digital sepanjang rantai nilai  Industri gula, serta dukungan kemampuan pendanaan bagi Industri gula, antara lain dengan  mengimplementasikan PP No. 24/2015 tentang Penghimpunan Dana Perkebunan. Isu lainnya juga  terkait dukungan kelancaran penyediaan pupuk, benih Tebu unggul, dan alsintan, peningkatan  diversifikasi dan hilirisasi produk gula dan turunannya.  

Dalam penguatan ketahanan pangan khususnya pada industri gula di Indonesia, Arief  menambahkan bahwa hasil rumusan dengan para pelaku industri gula perlu dukungan dari lembaga  riset dalam pengembangan varietas unggul sesuai tipologi lahan yang memiliki potensi produktivitas  dan rendemen yang tinggi disertai program sosialisasi dan pemberian insentif kepada Pabrik gula  dan petani untuk melakukan perubahan varietas sesuai rekomendasi hasil uji. 

BACA JUGA:   Lagi, Piaggio Hadir Di Tebet

Selain dukungan Lembaga riset, perlu dikembangkan aplikasi sistem berbasis teknologi digital untuk  memperkirakan produksi dan permintaan gula, produksi tanaman tebu dengan dukungan citra satelit  dan citra drone di setiap tahap pertumbuhan tanaman di seluruh wilayah Indonesia dengan  mempertimbangkan pengaruh cuaca dan iklim. 

Sementara itu, Direktur Komersial ID FOOD, Frans Marganda Tambunan, menambahkan bahwa  sebagai salah satu BUMN yang bergerak di industri gula, ID FOOD akan terus melakukan perbaikan  kinerja dan pembenahan basic operation baik di budidaya tebu maupun di pabrik pengolahan. 

“Perbaikan ini dilakukan melalui pemurnian varietas penggunaan pupuk berimbang untuk  meningkatkan produktivitas tebu perhektar. Perbaikan pada peralatan mesin juga dilakukan berkala  untuk tetap menjaga performa giling tebu,” kata Frans. 

Frans melanjutkan bahwa pada tahun 2021 lalu PT RNI, PTPN dan BUMN sektor lain seperti BRI,  Perhutani, Pupuk Indonesia (PIHC), Askrindo dan Jasindo bersinergi melakukan kegiatan pertanian  terpadu, yang melibatkan semua Stakeholder disetiap mata rantai, mulai dari pemilihan lahan, jenis  komoditi, pendampingan teknis budidaya, permodalan, pemasaran sampai pada asuransi pertanian  dalam Program Makmur, dengan tujuan peningkatan produktivitas dan perbaikan kualitas produk  serta peningkatan kapabilitas petani untuk mencapai kecukupan ketersediaan pangan.

“Hasil musim giling tebu tahun 2021, PT RNI mampu menurunkan biaya produksi gula menjadi  Rp.9,890/kg atau turun 6.2% dari musim giling 2020. Pada musim giling 2022 kedepan, kami  menargetkan efisiensi biaya produksi gula menjadi Rp 9,300/kg. Efisiensi ini akan dilakukan melalui  perbaikan di sisi budidaya untuk meningkatkan potensi rendemen serta serta program – program  perbaikan di bidang tebang dan angkut tebu demikian juga kesiapan pabrik sehingga kelancaran  giling dan pasokan tebu terus dapat dioptimalkan,” pungkas Frans. 

BACA JUGA:   Dipimpin Accel, Pluang Kantongi Pendanaan Senilai US$ 55 Miliar

Foto: Istimewa

Previous Post

Berikut, Nilai Transaksi Saham dan SBN Modal Asing

Next Post

Huawei Hadirkan MateBook D15 Baru

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR