Jakarta, TopBusiness – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk terus memacu program Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) yang sudah mengadopsi pendekatan penciptaan nilai bersama atau Creating Share Value (CSV) serta standar ISO 26000.
Untuk itu, dalam menjalankan program CSR tersebut mulai dari kebijakan, strategi dan tata kelolanya sudah senantiasa mengedepankan prinsip-prinsip itu. Langkah ini pun telah berhasil mewujudkan perusahaan yang bertanggung jawab serta secara bisnis menjadi lebih efisien berdasar pengukuran-pengukuran dari Social Return on Investment (SROI).
Kondisi tersebut tentu saja selaras dengan Visi dan Misi perseroan yakni dengan Visi: “Menjadi perusahaan penyedia solusi bahan bangunan terbesar di regional” dan Misi ke-3 yaitu “Fokus menciptakan perlindungan lingkungan dan tanggung hawab sosial yang berkelanjutan.” Plus, sesuai dengan RJPP-Inisiatif ke-6, Sustainability Road Map, dan Aspirasi Pemegang Saham.
Sehingga, perusahaan BUMN holding yang aktivitas usahanya memproduksi dan memperdagangkan solusi bahan bangunan dengan enam merek semen yakni Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa, Dynamix, Semen Andalas, dan Thang Long Cement itu dalam menjalankan dukungan capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) itu melalui pendekatan CSV.
“Dengan begitu, dalam menjalankan program CSR dan TJSL ini kami adalah perusahaan yang menciptakan nilai bersama dengan mengatasi tantangan sosial sebagai bagian dari strategi inti perusahaan mencapai kapitalisasi pasar yang lebih tinggi dan keunggulan kompetitif,” demikian disampaikan oleh General Manager of CSR SIG, Edy Saraya saat mengikuti proses penjurian TOP CSR Awards 2022 yang digelar majalah TopBusiness, Rabu (16/2/2022).

Proses penjurian yang dilakukan secara virtual itu, Edy Saraya didampingi oleh tim CSR SIG lainnya yakni Abdul Manan dan Adie. Presentasi Edy disampaikan di depan tim Dewan Juri yaitu Aj Boesra, Melani Hariman, Benyamin De Haan, Ermon Idrus, Sulistio, dan Kusuma Prabandari yang merangkap sebagai moderator.
Dalam presentasi yang mengangkat tema ‘The Responsible Company is a Key Strategy for Sustainable Business Growth: SIG Practical Insight’ itu, Edy memaparkan, komitmen SIG dalam pembangunan dan bisnis berkelanjutan itu adalah, SIG berkomitmen penuh dan melakukan adaptasi agar mampu terus menjalankan sustainability yang sejalan dengan TPB (SDGs).
Untuk itu, kata dia, komitmen perseroan diwujudkan dalam empat pilar keberlanjutan, yaitu, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, iklim dan energi, ekonomi sirkuler, serta masyarakat dan komunitas.
“Sebagai salah satu BUMN, SIG bertanggung jawab untuk memberikan manfaat positif bagi negeri terutama pada bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan,” kata Eddy lagi.
Dalam hal pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, SIG berupaya untuk terus berinovasi demi terciptanya solusi berkelanjutan dan penguatan rantai pasok (supply chain). Dalam hal ini, strateginya adalah solusi berkelanjutan dengan menghasilkan produk dan layanan inovatif untuk memitigasi peningkatan permintaan atas sumber daya yang terbatas; serta peningkatan rantai pasok dan pengembangan kemitraan yang berorientasi pada keberlanjutan.
Untuk iklim dan energi, SIG akan terus mendukung komitmen Indonesia pada COP21 (tahun 2015) untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) pada tahun 2030 sebesar 29% dengan upaya sendiri atau 41% dengan bantuan internasional. Sehingga, strateginya pengurangan emisi GRK (CO2), pengurangan emisi udara signifikan (debu/partikulat, NOx, SOx), pengurangan konsumsi energy.
Dengan target di 2024-nya, kata Edy, berupa menurangi 16% emisi CO2 spesifik cakupan 1 (per cement equivalent) dari basis tahun 2010, 67% faktor terak, dan 15% thermal substitution rate.
Dalam hal ekonomi sirkuler, SIG berkomitmen untuk menggunakan seluruh material dalam proses produksi secara bertanggung jawab. Strateginya, penggunaan bahan baku dengan efisien melalui pengembangan produk serta pemanfaatan sumber daya terbarukan (berbahan dasar limbah) sebagai bahan bakar alternatif.
Adapun untuk target 2024 itu, SIG memanfaatkan 1,8 juta ton limbah (strategi pertama) dan 1,9 juta ton limbah (strategi kedua) sebagai bahan bakar alternative.
Untuk komitmen terhadap masyarakat dan komunitas, perusahaan sangat menghargai karyawan dan komunitasnya, makanya SIG menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dan memastikan manajemen proaktif terhadap para pemangku kepentingan. Dengan strategi mempromosikan kesehatan dan keselamatan bagi karyawan serta konstraktor, lalu yang strategi kedua menciptakan shared value untuk komunitas.
“Dalam hal ini target di 2024 ini, zero fatality, LTIFR lebih dari atau sama dengan 0,90, serta sebanyak 7,2 juta orang (2024) dan 8,6 juta orang (2030) menerima manfaat melalui program community development,” terang Edy.
Program CSR yang Ber-CSV
Banyak program CSR yang bisa disebut sebagai program unggulan yang sudah digarap oleh SIG saat ini. Program CSR dan TJSL tersebut terutama sudah mengcover masyarakat di 126 desa yang berada di ring 1 dari sekitar sembilan pabrik yang dikelola anak usaha perseroan.
Sembilan pabrik semen (plant cement) itu antara lain ada di Tonasa, Narogong, Cilacap, Padang, Aceh, Rembang, Tuban, Gresik yang telah mengelola dan memberi manfaat program TJSL perseroan. Seperti di Gresik ada enam desa, di Tuban ada 26 desa, di Rembang ada 6 desa, dan sebagainya.
Program TJSL SIG ini dibedakan dalam tiga hal yakni Program TJSL Non pendanaan usaha mikro dan kecil (PUMK), program TJSL dengan PUMK, serta BUMN untuk Indonesia.
– Program Pengelolaan CSR dan Pemberdayaan Masyarakat
Dalam rangka mengurangi limbah, contoh progam CSR atau TJSL untuk mengelola dampak yang ditimbulkan dari proses bisnis, seperti pemakaian raw material alternative & project clean development mechanism (CDM).
“Seperti limbah batubara fly ash dan valley ash, serta gypsum dari limbah Petrokimia. Kami menggunakan limbah industri batubara itu dan gypsum dari industri di tempat lain. Seperti di PLN dan Petrokimia Gresik. Kami gunakan semua dengan angkutan dan tenaga kerja vendor dari masyarakat sekitar,” papar Edy.
“Untuk kegiatan CSR, kami di pabrik semen ini penggunaan bahan baku alternative itu untuk dekarbonisasi yang saat ini dilakukan sudah mencapai 7% dan harapannya pada tahun 2060 nanti bisa mencapai 100% mengganti batubara,” imbuhnya.
Selain alternative fuel, kata dia, SIG juga menggunakan raw material fuel, bagaiamna mereka itu bisa memanfaatkan sekam padi, serat oil, tempat penggergajian kayu, dan lainnya digunakan sebagai bahan bakar alternative yang sumbernya berasal dari masyarkat sekitar.
Selanjutnya program penurunan Indeks Pemakai Clinker (Bahan ½ Jadi) yakni mengurangi penggunaan energy bahan bakar dan emisis gas CO2. Seperti penggunaan copper slag yakni limbah pabrik smelting dan limbah dari Krakatau Steel, serta penggunaan material pozzolan/trass.
Lalu ada juga teknologi hijau di pabrik Rembang dan pabrik Indarung VI. Kemudian juga program penghijauan green belt dan reklamasi paska tambang.
“Masyarakat ikut berkontribusi dalam penyediaan bahan bakar alternative perusahaan dan berdampak positif ke masyarakat. Seperti adanya penyerapan tenaga kerja oleh setiap vendor sebanyak 20-25 orang. Dan omset yang diperoleh untuk setiap vendor rata-rata Rp350 juta per bulan,” tuturnya.
Terkait limbah yang digunakan perseroan sendiri SIG justru mendapat bayaran dari penggunaan limbah dari perusahaan lain. “Seperti kita menggunaan sludge oil dari Chevron di Bojonegoro, mereka menggunakan limbah mereka harus bayar ke SIG. Jadi pabrik semen sebagai polluter pay. Kalau tidak, akan menjadi limabh B3 yang berbahaya. Pendapatan kami dari polluter pay lebih dari Rp100 miliar,” kanta bangga.
– Program Penghematan Energi & Pengurangan Emisi
Program-programnya seperti program perusahaan implementasi WHRPG (Waste Heat Recovery Power Generation), hal ini berupa terobosan dalam peningkatan efisiensi terkait penggunaan energi listrik di pabrik semen.
Dalam hal ini telah me-reduce 39 mega watt (MW) dengan rincian WHRPG di Pabrik Indarung telah me-reduce 8,5 MW sehingga telah mereduksi emisi gas CO2 sebesar 43 ribu ton per tahun. Juga di pabrik Tuban me-reduce 30,5 MW atau mereduksi emisi gas CO2 sekitar 140 ribu ton per tahun. “Totalnya kami telah mereduksi emisi gas CO2 sebanyak 183 ribu per tahun,” katanya.
Sejak 2009 lalu, kata dia, SIG juga telah memanfaatkan biomass sebagai bahan bakar alternative. Jenis biomass yang dimanfaatkan meliputi: Sekam padi, serbuk gergaji dan cocpeat. Program ini bertujuan diversifikasi energy melalui penggunaan energy terbarukan biomass; mengurangi penggunaan sumber daya alam; bepartisipasi dalam upaya penurunan GRK; dan pengembangan program CDM.
“Tekait dengan penggunana bahan alternative kami itu, ada sekam pagi, serabut kelapa, srebuk gergaji, ampas tebu, sabut kelapa sawit, dan lainnya dari masyarakat sekitar. Tapi di masing-masing tempat berbeda. Misal di Tonasa kami gunakan kelapa sawit kalau di Tuban kita gunakan sekam. Di mana masyarakat itu mempunyai potensi yang cukup banyak,” terangnya.
UMKM Naik Kelas
SIG melalui anak usahanya Semen Gresik telah membentuk enam Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di desa-desa ring 1 di pabrik Rembang. Agar BUMDes ini bisa menjalankan program kemitraan dari SIG maka dibentuk satu perusahaan PT SMOR (Sinergi Mitra operasi Rembang) yakni sahamnya 52% oleh SIG dan 48% dari enam BUMDes itu.
Peran BUMDes ini sangat besar berupa menciptaan rantai pasok bagi kebutuhan SIG dan bagi masyarakat meningkat income yang besar. “Bagi SIG menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial, seperti dividen sekitar Rp1,19 miliar, produksi lancar, perjalanan perkantorkan lancar, tersedianya tenaga kerja terampil, juga derajad lingkungan terjaga baik.”
“Adapun bagi masyarakat bermanfaat, dividen Rp1,11 miliar, lalu tenaga kerja yang terserap 534 orang, daya beli dan kesejahteraan masyarakat juga meningkat, angka pengangguran berkurang, dan tentu saja peningkatan sarana & prasana umum,” lanjt Edy.
Selain BUMDes banyak juga UMKM yang dibina perseroan. Hal ini terkait program kerja berupa strengthen social support through community imnvolvement & development (CID). “Dalam hal ini banyak mitra binaan yang naik kelas melalui peningkatan kapasitas usaha (membaik secara ekonomi dan mandiri),” terangnya.
IKM dan SROI Naik
Keberhasilan program CSR dan TJSL perseroan juga terlihat dari data statistic berupa Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) untuk tahun 2020-2021, SROI dan Social Lisence Index (SLI) yang meningkat di beberapa wilayah operasional SIG. Di mana pengukuran ini ke depannya bakal dilaksankan di seluruh wilayah operasional SIG.

Selain melaksanakan pengukuran melalui IKM dan SLI, perseroan juga melakukan evaluasi perbaikan melalui pengukuran dengan menggunakan metode SROI.

Metode ini dilakukan untuk membantu mengelola dan memahami hasil perubahan (outcome) sosial, ekonoi, dan lingkungan. SROI meletakan nilai moneter pada manfaat sosial dan kemudian memandingan manfaat yang diterima.

FOTO-foto: TopBusiness.
