Jakarta, TopBusiness – Dinas Perdagangan Kota Surakarta mempunyai strategi yang dinilai berhasil, lantaran mampu menggabungkan jasa transportasi online dengan kegiatan transaksi di pasar-pasar tradisional, saat pandemi Covid-19 mendera.
Ketika sesi pendalaman materi presentasi berjudul Pasar Rakyat Yang Modern, Milineal dan Berdaya Saing, Kepala Dinas, Heru Sunardi, menyatakan bahwa pihaknya di kala pandemi Covid-19 mempunyai strategi yang bisa dikatakan berhasil.
“Strategi yang paling berhasil terkait dengan menggandeng jasa layanan online dengan Grab, Go Jek termasuk tumbas sembako yaitu di saat masyarakat tidak boleh ke luar rumah tapi belanja mereka terpenuhi cukup dengan aplikasi Grab, Go Jek dan lain sebagainya,” kata Heru, dihadapan Dewan Juri TOP BUMD Awards 2022, yang berlangsung secara virtual di Jakarta, Selasa (01/03/2022).
Sebaliknya, ada strategi yang masih perlu waktu, seiring harus melakukan sosialisasi dan mengedukasi terhadap pedagang-pedagang di pasar tradisional, lantaran terkait dengan kemampuan dan pemahaman sistem digital.
“Ini perlu waktu terkait dengan transaksi non tunai pedagang. Karena yang namanya pasar tradisional itu identik dengan orang-orang tua sehingga apabila dengan transaksi non tunai pedagang ini masih perlu pendampingan perdagangan,” ungkap dia.
Kendati begitu, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi dan memberikan arahan akan pentingnya sistem digital untuk menunjang bisnis dan kinerja para pedagang di waktu-waktu mendatang. “Apabila itu (transaksi non tunai) tidak kita lakukan, akan ketinggalan karena milenial sekarang ke pasar, kemana-mana tidak usah bawa uang tunai,” ujar dia.
Selain itu, dirinya juga membeberkan bagaimana cara menjaga kebersihan sehingga pasar-pasar tak terkesan kumuh dan kotor, yaitu dengan melakukan kerjasama berupa kerja bakti dengan pihak pedagang secara berkala.
“Pada saat kita membangun pasar itu, baru. Jadi dagangan itu kita zonasi. Yang kelompok sayur yah sayur, buah yah buah, kering yah kering dan sebagainya sehingga bisa mengurangi kekumuhan yang ada di pasar. Yang selanjutnya kami juga menerapkan satu minggu sekali paling tidak, pedagang itu membersihkan tempatnya sendiri-sendiri karena pasar sudah dari keramik. Misalkan, ikan, ayam itu mereka seminggu sekali harus membersihkan supaya kotoran-kotoran yang menempel di keramik itu bisa hilang termasuk kiosnya,” jelas Heru.
Diakui dia, pihaknya akan sulit untuk membersihkan kotoran sampah pasar, apabila harus dilakukan secara sendiri. Karenanya, dibutuhkan kerjasama dengan pihak pedagang pasar tradisional. “Bagaimana, yuk kerjasama supaya minimal satu minggu bekerja bakti, walaupun kami sudah menyediakan tenaga kebersihan di tiap-tiap pasar namun tanpa dukungan dari pedagang,” kata dia.
Soal beberapa pasar sempat mengalami penutupan sementara akibat adanya PPKM, Heru pun mengakui akan hal itu. Dikatakan, saat penutupan tak ada penolakan yang berarti dari para pedagang dan masyarakat, sebab sudah terjalin pengertian Dinas Perdagangan Kota Surakarta dengan para paguyuban.
“Kalau dulu-dulu itu yah agak-agak sulit, istilahnya. Namun dengan pemahaman bersama bahwa ini adalah bagian untuk memutus mata rantai dan penularan, mereka juga akhirnya juga sadar. Yang mengingatkan adalah paguyubannya. Jadi yang mengingatkan adalah teman pedagangnya, yang kita bentuk paguyuban. Karena yang mengingatkan dinas akan menimbulkan persepsi macam-macam, kalau yang mengingatkan temannya ternyata lebih soft dan cukup berfungsi,” papar dia.
