TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

CSR Oke Asmin Bara Bronang: Perusahaan Maju, Masyarakat Sejahtera dan Pintar

Busthomi
8 March 2022 | 21:11
rubrik: CSR, Event
CSR Oke Asmin Bara Bronang: Perusahaan Maju, Masyarakat Sejahtera dan Pintar

Jakarta, TopBusiness – Nama perusahaan PT Asmin Bara Bronang atau PT ABB di sektor pertambangan sudah sangat masyhur. Kinerja perusahaan cicit dari PT Astra International Tbk itu tetap oke, meski di tengah pandemi, terlebih perusahaan adalah produsen batubara premium dengan kualitas  CV GAR 6.500 kcal/kg.

Namun hebatnya, kinerja perusahaan yang ciamik segaris juga dengan program pertanggungjawaban sosialnya atau Corporate Social Responsibility (CSR) yang juga menawan. Baik kepada masyarakat maupun lingkungan sekitar, PT ABB senantiasa bertanggung jawab untuk mengatasi dampak dari aktivitas bisnisnya itu.

Dalam sesi penjurian TOP CSR Awards 2022 yang digelar Majalah TopBusiness, pada Rabu (2/3/2022) secara virtual itu, Tim CSR PT ABB yang saat itu diwakili oleh Wiwin Suhartanto selaku Head of CSR Department ABB, Erdhani Febriyanto selaku GM of CSR Department, Muhammad Rum sebagai Divison Head of CSR Department, dan tim CSR lainnya, Reza Alfiansyah, Ali Ismail Pangatur, Roni Oktoberi menggambarkan dengan gamblang program yang telah diusung oleh perseroan itu.

Dalam pemaparan presentasi yang bertajuk ‘Tetap Pintar di Masa Pandemi Melalui Jaringan Rumah Pintar’ itu, Wiwin mengawali soal kiprah PT ABB di lokasi tambangnya yakni di kawasan Kalimantan Tengah.

Perusahaan yang berdiri tahun 1993 itu mengantongi kontak karya batubara generasi ketiga atau Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) itu dengan pemerintah sejak 1999 untuk menggarap konsesi batubara di Kalteng. Izin ini berlaku untuk pengusahaan penambangan batubara selama 30 tahun di wilayah Konsesi di tiga blok, Mamput, Bekanon, dan Merangun. Semuanya berada di Kabupaten Kapuas dan Murung Raya, Kalteng.

Cadangan batubara yang tersimpan di wilayah izin ABB itu berdasarkan pengukuran pada 2015 silam sebanyak 509.895.800 MT berada di total luas area sebesar 24.980 hektar. Batubara ABB sendiri dikenal sebagai batubara A-Plus, lantaran berupa batubara premium tersebut. Dan batubara kelas premium yang dijual itu memiliki nilai AFT tinggi (>1.500 derajat celcius).

Karena menghasilkan produk A-Plus tersebutlah, PT ABB sendiri menjadi A-Plus sebagai Visi, Misi, dan Nilai Perusahaan. Visinya adalah ‘To be A-Plus Coal Mining Company’ dan Misinya: Deliver A-Plus presents to All Stakeholder, through: BE-APLUS, yakni Be asset to the Nation, Extraordinary effort to develop community around the mine area, Aligning all the business process for substantiate growth, Product excellence in all aspects, Leading and motivating human aspect to its fullest, Using high standards to manage the company, Strong culture.

BACA JUGA:   HC-PHE Menciptakan Leader Serba Bisa

Dan BE A-PLUS juga menjadi nilai persuahaan, yani akronim dari Believe, Excellence, Accountability, Proactive, Leading, Unity, dan Sincercity. “Sehingga dengan Nilai A-PLUS itu bisa menciptakan A-Plus Coal, A-Plus People, dan A-Plus Partnership,” ujar Wiwin. “Plus, ditopang Pilar Segitiga A-Plus. Ini adalah cara Asmin dalam menjalankan operasional bisnis prosesnya yang terdiri dari A-Plus People, A-Plus System, dan A-Plus Product, sehingga menciptakan APlus Coal.”

Dengan kondisi operasional bisnisnya itu, PT ABB sendiri tak pernah alpa untuk berbagi dengan masyarakat sekitar. Bahkan tak hanya itu, justru yang terpenting dari itu semua adalah senantiasa bertanggung jawab untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan dari aktivitas bisnisnya tersebut dengan menggelar sederet program CSR, terutama di Desa Barunang, Kecamatan Kapuas Tengah, Kab Kapuas, Kalteng.

“Sehingga grand design dari program CSR-nya itu akan menciptakan perusahaan yang aman, bersahabat, bermanfaat, dan menjadi aset bagi stakeholder. Makanya grand design-nya disebut ‘From Charity to Mandiri’,” kata Erdhani, menambahkan.  

Cerdaskan dan Sejahterakan Masyarakat

Dalam pemaparan yang disampaikan oleh Wiwin dan kerap dibantu oleh Erdhani dan Muhammad Rum itu, PT ABB memiliki banyak program CSR unggulan yang sudah mengadopsi prinsip Creating Shared Value (CSV) atau Berbagi Manfaat Bersama dan ISO 26000 SR. Maka tak aneh jika dalam gelaran TOP CSR Awards 2020 dan 2021 lalu, PT ABB mendulang apresiasi Bintang 5.

Dalam program unggulan tersebut, tercatat ada enam program yang dikembangkan di empat sektor yakni pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. Pertama, Program Pendidikan Kampung Harate (pendidikan). “Program Pendidikan ini dilaksanakan secara menyeluruh baik hardware, software maupun brainware untuk Pendidikan Formal dan Informal (Mendukung SDGs 4 Pendidikan),” kata Erdhani.

“Ada tiga manfaat dan keunggulan, yakni meningkatkan jumlah siswa ke sekolah, menurunnya jumlah siswa putus sekolah, dan meningkatkan jumlah angka kelulusan siswa,” sambungnya.

Kedua, Program Kesehatan Kampung Barigas (Kesehatan). Program Kesehatan ini dilaksanakan secara menyeluruh baik yang bersifat Promotif, Preventif maupun Kuratif (Mendukung SDGs  3 Kesehatan).

Dengan manfaatnya, turunnya jumlah frekuensi masyarakat sakit setiap bulan, bebas gizi buruk, turunnya jumlah siswa tidak masuk karena sakit, bebas kematian ibu karena melahirkan, turunnya penderita diare, dan turunnya sakit kulit/Dermatitis.

BACA JUGA:   Acara Puncak TOP CSR Awards 2022 Digelar Hari Ini

Ketiga, Program Ekonomi Kampung Mandiri Lestari (Ekonomi). Program ekonomi yang dilaksanakan melalui program Integrated Farming System dan Micro Farming System (Mendukung SDGs 1, 2, 8).

Dan terbukti, kata mereka, program ini memiliki manfaat, meningkatkan pendapatan masyarakat terdampak, mengurangi kerusakan hutan akibat ladang berpindah dan penambangan illegal, mengurangi ketergantungan pada perusahaan, meningkatkan kelembagaan masyarakat, dan swasembada pangan.

Keempat, Program Lingkungan PRANARAKSA CENTER (Lingkungan). Program Lingkungan ini dilaksanakan dalam bentuk Konservasi Buah Langka asli Kalimantan Tengah dengan melibatkan masyarakat Desa (Mendukung SDGs 13 dan 15).

“Dan sangat bermanfaat yakni meningkatkan kesadaran masyarakat akan pelestarian lingkungan, populasi keanekaragaman buah langka asli Kalteng tetap terjaga, menjadi pusat Keanekaragaman Hayati di wilayah Kalteng,” kata Erdhani lagi.

Kelima, Program Rehabilitasi DAS dengan Sistem Swakelola Kemasyarakatan (Lingkungan). Program Lingkungan ini dilaksanakan dalam bentuk pelibatan seluruh masyarakat Desa secara swakelola pada rehabilitasi DAS Kapuas di Kecamatan Mentangai (Mendukung SDGs 13 dan 15). Program ini bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pelestarian lingkungan, mengurangi emisi karbon dari hutan rawa gambut, dan mengubah hutan rawa gambut menjadi hutan dengan tanaman local yang fast growing.

Keenam, Program Tetap Pintar selama Pandemi Covid19 Melalui Jaringan Rumah Pintar (Pendidikan). Program Pendidikan ini dilaksanakan untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran siswa dan peningkatan ekonomi masyarakat selama Pandemi Covid-19 (Mendukung SDGs 1, 2, 3).

Sehingga di masa pandemic, sebut Wiwin, dengan program ini sangat bermanfaat karena tidak ada penurunan aktivitas dan kualitas pendidikan di wilayah remote area (Desa Barunang) selama masa pandemi tersebut.

“Juga, masyarakat tersebut mendapatkan alternatif peningkatan ekonomi selama masa pandemi covid-19 dan program ini memberikan peningkatan skill dan keterampilan untuk masyarakat,” ungkap dia.

Adopsi CSV

Salah satu program yang sangat gamblang mengadopsi CSV adalah Program Ekonomi Kampung Mandiri Lestari. Digambarkan Erdhani, program ini berupa Program Pertanian Terpadu (Integrated Farming System – IFS) yang berfokus pemanfaatan sumberdaya lahan dan pemasaran terpadu melalui Koperasi Taraku Mandiri. 

Bahkan, program ini dibangun dalam landasan Tripple Buttom Line di mana dari sisi: Ekonomi bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat dan Swasembada Pangan. Dari aspek Lingkungan, mengurangi degradasi hutan karena ladang berpindah, serta kerusakan lingkungan akibat penambangan emas liar.

“Serta dari sisi sosial yaitu menciptakan kemandirian masyarakat dengan pemberian pelatihan, pemenuhan kebutuhan dasar dan sarana ekonomi melalui Koperasi,” kata Erdhani.

BACA JUGA:   SKK Migas Galang Bantuan untuk Bantu Korban Gempa Cianjur

Dan dengan program ini, semua pihak merasakan manfaatnya. Bagi perusahaan ABB sendiri dapat terpenuhinya kebutuhan logistik catering dari produk petani binaan yang sebelumnya di-supply dari pihak luar operasional perusahaan.

Sementara bagi masyarakat yang terdiri dari beberapa kelompok seperti, Kelompok Tani Barunang, Kelompok Tani Tumbang Mamput, Kelompok Tani Penderawah, dan Kelompok Tani Merangun, secara ekonomi kelompok tani tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari hasil bertaninya dan dapat menjadi sumber penghasilan tetap karena mampu untuk memenuhi kebutuhan logistik di perusahaan.

“Sementara untuk lingkungan pun terjadi penurunan aktivitas masyarakat yang sebelumnya merusak lingkungan dan tingginya degradasi hutan karena sudah beralih pada Sistem pertanian terpadu,” jelas Erdhani.

Tata Kelola CSR

Sebelum lahirnya program-program CSR inovatif itu, PT ABB sendiri sudah melakukan identifikasi dan analisis masalah ketika menyusun tata kelola CSR tersebut. Tercatat, ada empat aspek yang diidentifikasi yakni, aspek Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam, Social Culture, dan Dampak Pertambangan.

Untuk SDM, lanjut Wiwin, diketahui bahwa di sana, pengetahuan & keterampilan terbatas, kesadaran dan motivasi kerja yang kurang, rendahnya disiplin dan budaya kerja profesional, tidak terbiasa hidup dengan aturan kerja yang mengikat, SDA yang melimpah tetapi belum dikelola dengan maksimal.

Lalu di aspek SDA, adanya kondisi, kebergantungan masyarakat yang tinggi dengan alam serta pengeksploitasian SDA tanpa diimbangi dengan kegiatan rehabilitasi serta kesadaan akan pendidikan dan kesehatan yang masih kurang.

Selanjutnya, di aspek Sosial Culture, bahwa di sana berlakunya hukum adat yang masih kuat, peran tokoh masyarakat yang masih dominan dibandingkan dengan tokoh formal, budaya minum yang masih kental dari segala aktivitas di desa, kebergantungan masyarakat ke perusahaan yang masih cukup tinggi, serta budaya konservatif dan menolak pembaharuan (masih menerapkan paradigma lama).

Dan terakhir untuk aspek Dampak Pertambangan, adanya kondisi perubahan rona SDA, perubahan fungsi hutan, perubahan keanekaragaman hayati dan sumber daya hutan non kayu, menurunnya aktifitas ekonomi pertambangan, serta terjadinya mobilisasi kependudukan.

“Dengan segala aspek itu, maka disimpulkan yakni rendahnya kualitas kehidupan masyarakat, sehingga social mapping-nya dilakukan untuk menyusun strategi CSR yang tepat dalam mengatasi problem-problem yang menghambat operasional penambangan,” pungkas Wiwin.

FOTO: TopBusiness

Tags: PT Asmin Bara BronangTOP CSR Awards 2022
Previous Post

Erick: UEA Apresiasi Keberhasilan Transformasi BUMN

Next Post

Pemanfaatan FABA dan UMKM Rombong Biru, CSR Unggulan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR