Jakarta, TopBusiness – Lembaga kajian ekonomi dan keuangan, Indef menilai, di tengah pengendalian Covid-19 yang semakin baik, optimisme terhadap pemulihan dan akselerasi ekonomi pun meningkat. Hal ini sudah digejalai pada awal 2022 ketika ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,01 persen (y-o-y).
Namun seiring dengan eskalasi ekonomi global yang dipicu invansi Rusia terhadap Ukraina, Bank Dunia memangkas pertumbuhan ekonomi global dari 4,1 persen menjadi 2,9 persen.
“Revisi ini tentunya mempertimbangkan perkembangan ekonomi pada emerging market termasuk Indonesia. Alagi inflasi tinggi pada sepanjang semester I 2022 yang mecapai 3,19 persen dan sudah menyentuh 4,35 persen pada Juni 2022 (Y-o-Y) di dalam negeri, berpotensi menghambat pemulihan daya beli yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi,” terang Direktur Indef, Tauhid Ahmad, di Jakarta, Rabu (6/7/2022).
Terlebih, hal ini diperkuat dengan terjadinya trend penurunan upah riil buruh sepanjang semester I 2022 lalu. Meskipun secara nominal upah mengalami peningkatan, namun inflasi yang terlalu tinggi menyebabkan pendapatan riil tergerus cukup dalam.
Dari sisi produksi, terjadi trend penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari S&P Global sepanjang semester I 2022. Indeks tersebut terus mengalami penurunan dari 53,7 pada Januari 2022 dan sudah menyentuh 50,2 pada Juni 2022. Hal ini diperkirakan membuat Prompt Manufacturing Index pada triwulan II 2022 dari Bank Indonesia mengalami perlambatan.
“Dari sisi eksternal, inflasi yang sangat tinggi mencapai 8 persen di Amerika Serikat memaksa kenaikan suku bunga dan berdampak terhadap pelemahan nilai tukar mata uang domestik di berbagai negara termasuk Indonesia,” katanya.
Hingga pertengahan 2022, The Fed telah menaikkan tingkat suku bunga acuannya ke level 1,75 persen. Kenaikan ini tentunya akan membawa pengaruh besar terhadap kondisi keuangan global termasuk kondisi pasar keuangan dan arus modal ke Indonesia.
Merosotnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar itu berimplikasi terhadap meningkatkan biaya impor. Dalam kondisi ketergantungan terhadap barang modal dan bahan baku impor, maka hal ini akan memengaruhi struktur biaya pada sektor riil, sehingga kenaikan harga barang tidak dapat dihindari.
“Ekspektasi akselerasi ekonomi di fase pemulihan ekonomi nampaknya harus tertunda akibat eskalasi global yang tidak kunjung berakhir. Alih-alih mengalami akselerasi, perekonomian dunia pun dihadapi pada tantangan resesi di tengah pemulihan pasca pandemic,” jelasnya.
Pasalnya, ketegangan geopolitik akibat invansi Rusia ke Ukraina ternyata berdampak cepat dalam mendisrupsi sisi suplai dan “mengganggu” rantai pasok dunia. Hal inipun yang kemudian mendorong peningkatan inflasi global dan lonjakan harga komoditas pangan serta energi.
“Sementara di sisi domestik, masalah klasik masih terus menghampiri sendi-sendi ekonomi bangsa. Mulai masalah lonjakan harga pangan dan energi, dilema fiskal dan moneter hingga masih lemahnya produktivitas perekonomian,” pungkas dia.
FOTO: Rendy
