TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Indef: Waspada, Stagflasi Ekonomi di Indonesia Mulai Terlihat

Busthomi
6 July 2022 | 15:08
rubrik: Ekonomi
Kinerja Apik Hutama Karya Rampungkan DDT Manggarai-Jatinegara di Tengah Pandemi

Jakarta, TopBusiness – Lembaga kajian ekonomi dan keuangan, Indef menilai, gejala Stagflasi ekonomi sudah mulai terlihat ketika terjadi inflasi yang tinggi, namun di saat yang bersamaan pertumbuhan ekonomi tumbuh melempem.

Sinyal ini, menurut laporan Indef itu, diperkuat dari apa yang dialami Amerika Serikat ketika mengalami laju inflasi tinggi, namun disertai dengan pertumbuhan ekonomi yang rendah.

Saat ini, tingkat kemiskinan Indonesia memang menurun, namun begitu belum mancapai kondisi yang lebih baik lagi dibandingkan periode sebelum pandemi.

Pada Maret 2020 angka kemiskinan Indonesia 9,78 persen menjadi 10,19 persen (September 2020) dan 10,14 persen (Maret 2021). Memasuki September 2021, angka kemiskinan kembali ke single digit pada level 9,71 persen, lebih rendah dibandingkan Maret 2020.

Meskipun sudah menurun, disebut Indef, namun tidak serta merta memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat, karena di situasi yang bersamaan, peningkatan upah nominal jauh lebih rendah dari inflasi yang terjadi.

“Dalam upaya mitigasi perlambatan ekonomi, APBN sejatinya menjadi shock absorber untuk menjaga stabilitas perekonomian serta menjaga proses pemulihan ekonomi nasional yang tengah berlangsung,” ungkap Direktur Indef, Tauhid Ahmad, di Jakarta, Rabu (6/7/2022).

Namun sayangnya, lanjut dia, kemampuan fiskal pemerintah belum teruji, sebab tahun 2022 merupakan periode persiapan memasuki tahun politik. Sehingga, secara siklus APBN saat mendekati tahun politik maka akan diikuti dengan kenaikan belanja pemerintah yang cukup signifikan.

“Di sisi lain, pada 2023 defisit APBN tidak bisa lagi di atas 3 persen. Ditambah dengan kebutuhan anggaran pembangunan IKN dan juga kenaikan subsidi energi yang melambung tinggi, tentu akan memberatkan kemampuan fiskal. Akumulasi kompleksitas masalah fiskal ini membuat peran APBN sebagai shock absorber sangat diragukan,” katanya.

BACA JUGA:   Reformasi Subsidi Energi Urgent, INDEF Wanti-wanti APBN Tekor

FOTO: Istimewa

Tags: ekonomi nasionalindefinflasistagflasi ekonomi
Previous Post

Inflasi Tinggi Disebut bisa Hambat Pemulihan Daya Beli

Next Post

Indeks Menjauhi Level Psikologis

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR