Jakarta, TopBusiness – Praktek Governance, Risk, and Compliance (GRC) yang diimplementasikan oleh PT Mass Rapid Transit Jakarta (Perseroda) sudah tak diragukan lagi. Dengan memiliki level kematangan atau maturity level dari GRC itu, tak aneh jika PT MRT tak hanya sukses dari sisi bisnis, melainkan tetap berhasil dalam menciptakan pelayanan prima antara lain berupa zero accident baik bagi karyawan maupun penumpang.
Alhasil, dengan pondasi GRC tersebut, PT MRT pun relative sukses dalam transformsi bisnisnya menuju “Beyond Normal” dengan cara Network Provider, Urban Platformer, dan City Regenerator. Sehingga kiprah MRT Jakarta ini tak hanya sebatas menjalankan bisnis yang biasa-biasa saja.
Demikian sepenggal pembuka presentasi dari PT MRT Jakarta saat mengikuti penjurian wawancara TOP GRC Awards 2022 yang disampaikan langsung oleh Direktur Utama MRT Jakarta, William Sabandar, yang digelar secara virtual, Kamis (7/7/2022). Top GRC Awards 2022 ini digelar Majalah TopBusiness bekerja sama dengan sejumlah lembaga GRC terkemuka di Tanah Air, antara lain Asosiasi GRC Indonesia, Perkumpulan Profesional Governansi Indonesia, CRMS Indonesia, IRMAPA, ICoPI, dan lainnya.
Dalam proses penjurian itu, pihak MRT sendiri menghadirkan jajaran top management lengkap. Mereka yang hadir adalah, Komisaris Utama M. Syaugi, lalu jajaran komisaris lainnya, Mukhtasor (Komisaris), Adnan Pandu Praja (Komisaris), dan Rukijo (Komisaris). Dari jajaran Direksi juga lengkap, selain Dirut William Sabandar, ada Silvia Halim (Direktur Konstruksi), Roy rahendra (Direktur Keuangan & FCM), Farchad Mahfud (Direktur Pengembangan Bisnis), dan Muhammad Effendi (Direktur Operasi & Pemeliharaan).
Selanjutnya, tim lain yang hadir adalah Rendy Alhial (Sekretaris Perusahaan), T Hikmatullah (Kadiv IA), Said Ichsan (Sesdekom), Teuku Firmansyah (Corporate Strategy Principal), Prima Margareth (Kadep GCA – Corsec), Prayoga W (Corporate Strategy Division Head), dan Andaru Dianpranaya (Specialist Corsec), dan Shella Adinda (Internal Audit Principal).
“Apapun bisnisnya, landasaan korporasi kemana mereka bergerak, GRC adalah hal yang paling fundamental. Jadi ini yang dilakukan di MRT,” kata William saat membuka presentasi penjurian itu. Tema presentasi sendiri adalah “The Role of GRC in Digital Transformation and Support to the G20 Presidency.”
GRC Terintegrasi di MRT Jakarta
Dalam kelengkapan system dan infrastruktur GRC, dalam GRC terintegrasi ini terdiri dari tiga struktur yakni Pedoman GRC Terintegrasi, Penerapan Business Continuity Management, dan Penilaian GRC Maturity. Dalam hal ini ditopang tiga aspek GRC yang saling berkaitan.
Yakni, di satu sisi ada Good Corporate Governance (GCG) Divisi Corporate Secretary yang memiliki Infrastruktur GCG (Pedoman, Prosedur, Kebijakan) dan Penilaian Skor Penerapan GCG. Di sisi lain ada Risk Management Divisi RMQA yang terdiri dari Infrastruktur Manajemen RIsiko, Penggunaan sistem Enterprise Risk Management, dan Penilaian Skor Risk Maturity. Dan sisi ketiganya Compliance yang terdiri dari Penerapan ISO Manajemen Terintegrasi, SMAP, dan SMKI serta Penilaian Skor Efektivitas Sistem Pengendalian Internal.
Dan sebagai Tone at the Top itu, beberapa jabatan memiliki peran penting masing-masing. Komisaris Uama berperan memimpin peran pemantauan dan pengawasan proses GRC, dibantu oleh Dewan Komisaris dan Komite Komisaris (Komite Pemantau Risiko dan Sekuriti, Komite Audit, dan Komite SDM & Pengusahaan); serta melakukan pengawasan, memberikan saran dan nasihat.
Untuk Direktur Utama berperan setting tone at the top dan Dirut juga sebagai Role Model dalam implementasi GRC. Lalu untuk Sekretaris Perusahaan berperan sebagai pengelola Good Corporate Governance di lingkungan Perseroan, memastikan bahwa day-to-day GCG practices diimplementasikan, memastikan rencana aksi pengembangan GCG di lingkungan Perseroan dijalankan berdasarkan hasil rekomendasi penilaian assessment GCG, dan menjalankan Komunikasi Publik.
Lebih jauh ditegaskan William, praktek dalam GCG-nya adalah pedoman dan kebijakannya terkait dengan Code of Corporate Governance, Board Manual, Code of Conduct, Whistleblowing System, Pengendalian Gratifikasi, Pedoman Pengambilan Keputusan, Pengendalian Benturan Kepentingan, Pedoman Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara, Pedoman Hubungan Perseroan dengan Anak Perusahaan dan/atau Perusahaan Patungan.
Sementara terkait dengan Risk Management pedomannya adalah Kebijakan Dewan Komisaris tentang Komite Pemantau Risiko dan Sekuriti, Piagam Komite Pemantau Risiko dan Sekuriti, Traktat Komitmen Direksi Pengelolaan Risiko, Kebijakan, Pedoman, SOP & WI Manajemen Risiko, SOP dan WI Pengisian Aplikasi Sistem ERM, Kebijakan Persyaratan dan Tugas Risk Officer, Surat Tugas Penunjukan Risk Officer, Kebijakan Komite Manajemen Risiko, Penetapan Risk Appetite & Risk Tolerance oleh Direksi, Penetapan Top Risk setiap bulan oleh Komite Manajemen Risiko.
Dan terkahir soal Compliance, pedomannya terkait Sistem Manajemen Terintegrasi (Mutu, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Keselamatan Perkeretaapian, Lingkungan, dan Pengamanan); Implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP); dan Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SMKI).
Dengan Skor penilaian GCG di tahun 2021 yang naik 0,54 di posisi 90,67 atau “Sangat Baik” dari assessor Divisi Internal Audit (dengan pengawasan BPKP Provinsi DKI Jakarta). Untuk Skor Risk Maturity naik 0,08 menjadi 3,81 dari nlai 5 tertinggi atau “Defined” atau skor Risk Conformity di angka 93,07 atau naik 7,66 dan skor Risk Culture di posisi 7,59 atau tetap. Dan untuk Compliance dilihat dari skor Evaluasi SPI di angka 84,89 atau naik 3,08 alias “Efektif” dengan assessor BPKP DKI Jakarta.
Dengan Skor kematangan GRC Terintegrasinya adalah untuk komponen Learn maturity levelnya 3,21, komponen Align di 3,47, komponen Perform di 3,67, dan komponen Review di 4,00. Sehingga rata-rata skor maturity level-nya sebesar 3,58 dari skala 5,00 atau “Defined”.
“Skor 3,58 itu menunjukan praktik GRC Terintegrasi saat ini berada pada tingkat maturitas Defined (menuju managed). Tingkat maturitas Managed (skor 4) dan Optimized (skor 5) menjadi orientasi dan arah peningkatan praktik GRC Terintegrasi Perseroan sesuai dengan roadmap hingga 2026 nanti. Dan tiap tahun nantinya ditargetkan akan terus meningkat dari 3,58 (2021), menjadi masing-masing di 2022 (3,66), 2023 (3,91), 2024 (4,09), 2025 (4,23), dan 2026 (4,35),” terang William.
Keberhasilan Kinerja Bisnis dan Keuangan
Dengan keberhasilan dalam GRC itu, pada peraturan yang ada maka salah satu kebanggaan dan keberhasilan kiprah PT MRT tersebut di tahun lalu adalah mendulang penghargaan internasional yakni untuk Proyek Fase 1 MRT Jakarta berupa Award of Merit dalam ajang FIDIC Project Awards 2021 dari lembaga internasional Federation Internationale Des Ingenieurs-Conceils).
Selain itu, keberhasilan lain adalah dalam key performance index (KPI) korporasi MRT Jakarta sudah melampaui target dengan realisasi skor KPI korporasi per 31 Desember 2021 adalah 104,53% atau melebihi target 100% yang dicanangkan perseroan. “Ini berdasarkan laporan keuangan audited No. 00320/2.1032/AU.1/06/1726-1/1/III/2022,” katanya.
Adapun kinerja dari sektor keuangan juga sangat membanggakan. Bahkan performa di 2022 lalu, seklipun masih pademi sudah bisa melewati tahun 2019. Dengan total pendapatan usaha adalah Rp1,355 triliun dengan total beban pokok pendapatan sebanyak Rp989,99 miliar, laba kotor mencapai Rp365,921 miliar, dengan laba komprehensif atau laba bersih di angka Rp105,699 miliar, adapun EBITDA peruasahaan di angka Rp681,896 miliar.
“Untuk laba kotor yang di angka Rp365,921 miliar itu naik 236,31% dari tahun 2020 yang di angka Rp108,806 miliar, bahkan lebih tinggi dari 2019 yang di angka Rp172,815 miliar. Dengan asset yang terus melonjak di angka Rp19,868 triliun, ekuitas neto naik 9,93% (yoy) menjadi Rp19,083 triliun, dan libilitas yang terus menurun ke posisi Rp785,852 miliar atau turun 24,24% (yoy),” paparnya.
Hebatnya lagi untuk pendapatan ini justru banyak berasal dari pendapatan non-farebox (non-tiket) yakni mencapai Rp473,57 miliar. Atau naik dari tahun lalu di posisi Rp382,67 miliar. Pendapatan farebox ini berasal dari Indoor and Outdoor Advertising, Telco Service Collaboration, Naming Rights, Payment Gateway Partnership, Expanding Retail Business, dan Co-working Space at The Station.
Transformasi Bisnis ‘Beyond Normal’
Disebutkan William, kesuksesan melakukan trasnformasi bisnis ini memang tak lepas dari praktek adanya GRC terintegrasi yang diterapkan oleh manajemen PT MRT. Sehingga, pihaknya pun menggelar rencana jangka panjang perseroan 2022-2030 nanti.
Dalam hal ini, dilakukan dalam tiga langkah yakni pertama, Berdaya Saing, yakni perusahaan menciptakan nilai untuk semua pemangku kepentingan agar senantiasa relevan dan memiliki daya saing; kedua, Berkelanjutan, Perusahaan menetapkan inisiatif strategis pengembangan GRC Terintegrasi dan keberlanjutan yang relevan bagi stakeholder; dan ketiga Berdikari, Fokus utama Perseroan adalah mengurangi ketergantungan terhadap subsidi dan lebih banyak menggunakan konten dalam negeri.
Ditambahkan Komisaris Utama M. Syaugi, dalam hal transformasi bisnis beyond normal ini, maka segala kebijakan yang diambil perusahaan tak lagi melulu bersifat normative. “Karena di tingkat pejabat itu banyak yang normative, maka kami tak lagi mau seperti itu. Salah satunya terkait pembiayaan di MRT. Dari dulu, kita ini selalu kacamata kuda, maunya hanya dari Jepang. Tapi saat ini lebih kompetitif dan beragam. Pendanaan bisa datang dari AS, China, Inggris, Korea Selatan, dan negara G20 lainnya. Makanya, MRT ini ikut mendukung Presidensi G20,” beber Syaugi.
Kembali dilanjutkan Willim, untuk mencapai Beyond Normal itu, Pertama, Network Provider dengan langkah (1) mempertahankan pelayanan prima di masa pandemic; (2) melanjutkan pembangunan konstruksi fase 2; dan (3) mengembangkan jalur Fase 3 dan 4.
“Dalam hal ini, kami menciptkana Safety yang zero accident dan Security yang zero crime. Dengan ketepatan waktu tempuh kereta per lintas sebesar 99,96%, ketepatan waktu berhenti di stasiun di angka 99,97%, dan ketepatan kedatangan kereta di stasiun di angka 99,94%. Dengan customer satisfaction index (CSI) 2021 di angka 88,29 atau naik 1,65 dari tahun sebelumnya,” jelasnya.
Bahkan berdasar riset LPEM FEB UI, investasi MRT Jakarta menciptakan nilai tambah baru bagi perekonomian yakni sebesar Rp587,6 triliun Nilai Tambah Bruto Nasional (0,08% dari total PDB nasional 2020) dan sebesar Rp362,4 triliun Nilai Tambah Bruto DKI Jakarta (0,65% dari total PDB DKI Jakarta 2020).
Plus, adanya penciptaan kesempatan kerja nasional sebanyak 19,5 juta (10,5 juta di DKI). Dengan pendapatan rumah tangga nasional sebesar Rp260,6 triliun (Rp139,4 triliun di DKI). Dan kontribusi MRT mengurangi kemacetan DKI sebesar 3% melalui peningkatan kecepatan rata-rata di ruas jalan utama atau total nilai penghematan sebesar Rp1,9 triliun. Serta MRT ikut memperbaiki kualitas lingkungan melalui penurunan emisi PM10 di wilayah DKI Jakarta sebesar 18% dengan total nilai penghematan mencapai Rp2,2 triliun.
Kedua, Urban Platformer menuju Beyond Normal melaui cara (1) Building Block Transformasi Digital, (2) Tujuan Utama & Program Percepatan Transformasi Digital, (3) Implementasi Inisiatif Transformasi Digital bagi Korporasi, (4) Implementasi Inisiatif Transformasi Digital bagi Pengguna.
“Dan hasil analisis STEI ITB atas kesiapan Transformasi Digital MRT Jakarta sebagai organisasi yang siap dan mampu memulai proses transformasi digital adalah: 85%. Dengan begitu, MRT Jakarta telah mengidentifikasi 97 inisiatif yang mencakup 4 tujuan utama dari Transformasi Digital di seluruh Unit Kerja,” kata William lagi.
Ketiga, City Regenerator menuju Beyond Normal yaitu (1) Inisiatif Pemeliharaan Lingkungan, (2) Kawasan Berorientasi Transit (TOD), (3) Kerja sama Penataan Stasiun KAI, dan (4) Inisiatif Energi Terbarukan.
Dukung Presidensi G20
Dalam hal ini, MRT Jakarta juga terus mendukung kolaborasi global dalam mendukung Presidensi G20 ini. Seperti dengan AS dilakukan Kolaborasi MRT Jakarta untuk dukungan kajian pengembangan Clean Energy & Green Financing, serta Kolaborasi MRT Jakarta untuk daur ulang sampah plastic. Dengan Inggris berupa dukungan dari Secretary of State for International Trade dan perusahaan di Inggris untuk mendukung Fase 3 dan Kolaborasi MRT Jakarta untuk capacity building, project delivery, & TOD.
Selain itu juga ada kolaborasi dengan Perancis yakni Kolaborasi MRT Jakarta untuk operasi, perawatan rolling stock, serta sistem & infrastruktur tiketing terintegrasi Kolaborasi MRT Jakarta untuk Urban Regeneration. Dengan Uni Eropa berupa Pembentukan formasi & pembiayaan Fase 3 & 4 Uni Eropa serta Pengkajian proyek Urban Regeneration dan capacity building.
Lalu dengan Jepang yakni Komitmen Percepatan pembangunan fase 2 dan pendanaan jalur timur-barat serta Minat pengusaha dan investor Jepang untuk investasi pembangunan TOD pada jalur MRT. Lalu Korea Selatan berupa Komitmen Ministry of Land, Infrastructure & Transportation (MOLIT) dan Konsorsium Korea untuk membangun Fase 4. Dan ASEAN berupa kerjasama classroom training & Job Shadowing pada railway operator Ho Chi Minh Metro.
“Dengan tiga sector prioritas yang dikerjasamakan yakni penguatan arsitetur kesehatan global, transformasi digital, serta transisi energy,” pungkas William.
FOTO: TopBusiness
