Jakarta, TopBusiness – Implementasi manajemen risiko dan kepatuhan atau dikenal dengan istilah GRC (Governance, Risk and Complience) menjadi komponen vital dalam mencapai visi dan misi perusahaan.
Oleh sebab itu, PT Waskita Toll Road (WTR) sebagai perusahaan investasi di bidang konstuksi jalan tol berkomitmen untuk berinovasi dalam penguatan sistem kepatuhan (GRC) di perusahaan salah satunya dengan pemanfaatan teknologi melalui Aplikasi Waskita Risk Management (WaRM).
Demikian pernyataan Alex Siwu selaku Corporate Secretary PT WTR dalam wawancara penjurian TOP GRC Awards 2022 yang diselenggarakan Majalah TopBusiness melalui saluran zoom, Kamis (7/7/2022).
WTR Group telah berhasil menerapkan Aplikasi Waskita Risk Management (WaRM) untuk mengimplementasikan manajamen risiko yang terintegrasi dan terdigitalisasi, sehingga memudahkan manajemen dalam mengambil keputusan berbasis risiko. “Apa yang kita bangun, keberhasilan secara GRC dalam tahun-tahun sebelumnya, di mana kita sudah menerapkan aplikasi Waskita Risk Manajemen, jadi digitalisasi terhadap pelaporan maupun pelaksanaan dari risk manajemen di dalam perushaan,” terang Alex.
Tapi itu sebenarnya bagian dari total seluruh proses GRC yang kita lakukan, karena dengan adanya identifikasi resiko, mitigasi terus program adalah bagian dari proses kita melakukan GRC dalam perusahan dibantu dengan sistem digitalisasi,” lanjutnya.
Masih menurut Alex, sebagai komitmennya terhadap penerapan GRS, PT WTR dalam proses selalu berusaha agar tidak ada intervensi dari pihak manapun yang bisa mengakibatkan proses bisnis terganggu. Bahkan dalam proses aktivitas investasi perusahaan selalu melibatkan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) dan Jamdatun (Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara).
“Prosedur yang sudah kita laukukan itu sudah benar-benar menerapkan propses GCG dan GRC di mana kita senantiasa dalam proses investasi ini direview bahkan dipantau oleh BPKP dan juga Jamdatun dari sisi GRC-nya,” paparnya.
“Jadi benar-benar kita berusaha utuk melakukan sebersih mungkin dan tidak ada intervensi-intervensi yang akhirnya menjadi bisnis ini prosesnya tidak governance (tidak sesuai prinsip tata kelola),” imbuhnya.
Implementasi Manajemen Risiko
Dalam presentasinya berjudul ‘Praktik Implementasi GRC’, Alex menjelaskan secara konprehensif prinsip-prinsip dasar implementasi GRC hingga infrastruktur penunjang lainnya, teerutama di bidang manajemen Risiko.
Dalam implementasi manajemen risiko, WTR menjalankan prinsip-prinsip seperti Identifikasi Risk Profile, Risk Maturity Level, Penerapan ISO 31000 dan Penerapan Three lines of defence.
Identifikasi Risk Profile, merupakan upaya WTR dalam menetapkan kemunginan terjadinya dan dampak suatu kejadian yang menghambat pencapaian tujuan atau sasaran organisasi supaya dapat dilakukan penanganan risiko secara tepat dan cepat. Misalnya Risiko Finansia, Risiko Investasi dan Divestasi, Risiko Reputasi, Risiko Operasional Jalan Told an lain sebagainya.
Risk Maturity Level, dalam pengukuran maturitas, aspek-aspek penilaian terhadap implementasi manajemen risiko menggunakan ISO 31000:2018 sebagai risk management best practice yang akan dikembangkan di lingkungan PT Waskita Toll Road Adapun metodologi yang digunakan dalam pengukuran maturitas manajemen risiko yaitu melalui review data dan analisa data kuesioner.
Penerapan ISO 31000, Efektivitas penerapan manajemen risiko bergantung pada integrasi manajemen risiko dengan tata kelola Perusahaan termasuk pada saat pengambilan keputusan. Kerangka Kerja yang digunakan mengacu kepada ISO 31000 yang disusun dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip manajemen risiko dan karakteristik Perusahaan, dimana WTR terus melakukan evaluasi penerapan dan proses manajemen risiko, mengidentifikasi serta menangani kekurangan yang terdapat di dalamnya.
Penerapan Three lines of defence, dalam rangka mendukung pelaksanaan tata kelola manajemen risiko dan terciptanya “kesamaan bahasa” dalam penerapan manajemen risiko, WTR menggunakan pendekatan Tiga Lini Pertahanan (Three Lines of Defense).
Berkat implementasi GRC, WTR telah menunjukan kinerja positif berdasarkan target dan capaian perusahaan. Bahkan visi ‘Menjadi Perusahaan Terdepan di Indonesia dalam Investasi Jalan Tol’ rasanya tak berlebihan jika visi itu telah terwujud. Hal ini dibuktikan dalam waktu empat tahun WTR telah memiliki panjang ruas jalan tol sekitar 1018 km dan menjadi perusahaan ranking dua setelah Jasa Marga.
“Visi ini (terdepan) sebenarnya sudah tercapai karena kami sempat menjadi nomor dua terbesar setelah Jasa Marga, jadi dalam waktu empat tahun kita bisa memiliki panjang ruas tol sekitar 1018km. Itu menunjukan bahwa kami dalam wktu singkat hanya bisa mencapai 80% dari kapasitas panjang ruas tol Jasa Marga (1400km) walupun dalam prosesnya kami memang bersinergi dengan Jasa Mrga dalam membangun jalan tol,” pungkas Alex.
Penulis: Abdullah Suntani
