TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Terapkan GRC Terintegrasi, Pengelolaan Jalan Tol Jasa Marga Tetap Profitable di Tengah Pandemi

Busthomi
19 July 2022 | 08:41
rubrik: Event, GCG
Terapkan GRC Terintegrasi, Pengelolaan Jalan Tol Jasa Marga Tetap Profitable di Tengah Pandemi

Jakarta, TopBusinesss – Kinerja PT Jasa Marga (Pesero) Tbk (IDX: JSMR) masih tetap positif dengan mampu mencatatkan laba bersih atau profitbilitas. Padahal pandemi Covid-19 telah menggerus banyak sektor bisnis, termasuk perusahaan pengelola jalan tol, seiring makin sepinya arus mobilitas masyarakat akibat pembatasan dan pelarangan aktivitas di jalanan.

Namun begitu, dengan ditopang sederet inovasi dan efisiensi keuangan, plus didukung dengan implementasi Governance, Risk, & Compliance (GRC) yang mumpuni, dengan manajemen risiko bisa dikelola dengan baik, tentu saja telah berdampak positif terhadap kinerja perseroan.

“Perseroan bisa melalui badai pandemi ini dan sekaligus bisa memilih proyek yang potensial. Sehingga dengan adanya pandemi ini membuat kami semakin kokoh. Bagaimana kami melewatinya? Ya banyak pelajaran yang bisa kami ambil,” tutur Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Jasa Marga, Ade Wahyu saat mengikuti proses penjurian TOP GRC Awards 2022, Rabu (13/7/2022) lalu.

“Kami ini sudah memiliki 13 ruas tol yang sudah mature. Dan itu sangat membantu ketika masa pandemi tersebut. Awalnya, walaupun kami mempunyai 18 ruas tol yang sudah konstruksi dan beroperasi dirasa membebani, akan tetapi dengan 13 ruas tol ini kami bisa tetap menjaga cashflow dengan baik. Alhasil, Jasa Marga tidak terlalu besar dampaknya dari pandemi ini,” sambung Ade lagi.

Pernyataan Ade itu menjawab sederet pertanyaan dari dewan juri TOP GRC Awards 2022, di mana perseroan kali ini kembali terpilih menjadi salah satu nominasi pemenang ajang ini. Acara penjurian ini diselenggarakan majalah TopBusiness dan bekerja sama dengan sejumlah lembaga terkemuka di bidang GRC di Tanah Air, antara lain Asosiasi GRC Indonesia, Perkumpulan Profesional Governansi Indonesia, CRMS Indonesia, IRMAPA, ICoPI, dan lain sebagainya.

Disebutkan Ade, perseroan juga melakukan efisiensi keuangan. Dan kebijakan itu sangat penting karena itu lah kunci untuk bertahan di saat krisis. “Bagaimana kita cari seefisien mungkin dalam pengelolaan ruas tol kami, dengan tetap mengedepankan standar mutu layanan dan standar mutu keamanan yang diberikan. Bagi kami, dalam kondisi ini cash is king. Kita kelola cashflow yang baik, lalu lakukan negosiasi dengan pebankan untuk relaksasi, dan alhamdulillah kita bisa lalui dengan baik. Semua itu berlangsung karena ditopang oleh implementasi GRC.”

Dalam proses penjurian itu, Ade didampingi oleh tim manajemen yang membawahi GRC di Jasa Marga. Ada Nixon Sitorus selaku Corporate Secretary; Devi Lusyana, Risk & Quality, Health, Safety and Environment Group Head; Haning Pangastuty, Group Head Corporate Finance & Investor Relation; Trias Andriyanto, Group Head Corporate Planning & Portofolio Management; Agung Laksana Pranata, Group Head Legal & Compliance; Siti Sarah Internal Audit Senior Group Head, dan lainnya.

Di kesempatan yang sama, Nixon menambahkan, selama ini Jasa Marga konsisten dalam menjalankan governance yang baik, selalu comply terhadap aturan yang berlaku, dan senantiasa mengelola risiko sebagai perusahaan Tbk. Apalagi, bisnis di sektor pengelolaan jalan tol termasuk bisnis yang risiko tinggi.

“Dengan begitu, kita konsisten dengan Visi-Misi perusahaan dan didukung dengan nilai perusahaan AKHLAK selaku BUMN. Alhasil kita tetap sukses dalam mengelola jalan tol ini. Bahkan kami siap mewujudkan Visi perusahaan, yakni ‘Menjadi Perusahaan Jalan Tol Nasional Terbesar, Terpercaya dan Berkesinambungan’,” terang Nixon.

BACA JUGA:   Dari Tambang ke Pemberdayaan Ekonomi Lokal: Cara Petrosea Jadikan CSR sebagai Pengungkit Bisnis Berkelanjutan

Nixon pun mengurai potensi risiko dari pengembangan jalan tol ini. Termasuk di dalamnya dalam mengerek pendanaan untuk membiayai satu proyek jalan tol. Menurut dia, jalan tol ini saat di awal pembangunan yang paling utama adalah pendanaan. Dari situ akan dikaji layak atau tidak layak untuk dibangun. Kalau jalan tolnya layak akan dikaji lebih lanjut ke depannya. Hingga akhirnya ikut tender mulai dari pembebasan lahan hingga mencari pendanaan, termasuk pendanaan dari pemerintah.

“Namun begitu, karakteristik jalan tol memang sarat risiko. Makanya, mengapa kita harus hati-hati, tetap govern dan memperhatikan risiko yang ada, plus comply terhadap semua aturan? Karena kita punya negative cashflow yang cukup panjang. Kalau industry jalan tol itu nafasnya harus panjang antara 35-50 tahun,” lanjut Nixon.

Karakteristik pertama, investasi jangka panjang dengan masa Payback Periode 15-35 Tahun; kedua, biaya konstruksi tinggi; ada dana talangan; deficit Cash flow di tahun awal operasi (>10 tahun).

Meski begitu, lanjut Nixon, Jasa Marga tetap konsisten mengaspali jalan tol di negeri ini. Karena memiliki beberapa alasan positif yang bisa menjadi multiplier effect ke banyak sektor. Pertama, Efisiensi Transportasi Waktu tempuh lebih singkat, konsumsi BBM lebih sedikit dan biaya pemeliharaan kendaraan berkurang. Kedua, Pengembangan Kawasan Pemukiman Baru, kawasan pemukiman dapat berkembang dengan pesat karena adanya akses jalan tol yang kemudian disusul dengan pertumbuhan Kawasan perdagangan.

Ketiga, Penyerapan Tenaga Kerja Tidak hanya untuk perusahaan utama yang mengoperasikan jalan tol, namun pembangunan di skala proyek pun menyerap begitu banyak tenaga kerja. Keempat, Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Kawasan yang dibuka dan dihubungkan dengan jalan tol secara simultan dan saling terkoneksi akan menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi dan social.

Kelima, Mengurangi Beban APBN, mengandalkan pembangunan jalan dari dana APBN akan membuat pembangunan infrastruktur lambat. Dengan adanya jalan tol, Pemerintah dapat lebih fokus mengelola dana APBN untuk program peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dan keenam, Meningkatkan Pendapatan Daerah Pemasukan secara langsung kepada pendapatan daerah yang dilalui jaringan jalan tol melalui pembayaran PBB dan pajak reklame. Selain itu, meningkatkan pendapatan daerah sebagai efek pertumbuhan ekonomi.

Kinerja Bisnis dan Keuangan

Sepanjang 2021 lalu, dipaparkan Nixon, keberhasilan Perseroan dalam meningkatkan kinerjanya dapat dilihat dari pencapaian pendapatan usaha di luar konstruksi sebesar Rp11.776,4 miliar atau tumbuh 22,8% dibandingkan tahun 2020. Hal ini menunjukan komitmen Perseroan untuk mendorong realisasi penyesuaian tarif di tahun 2021.

Selain itu, Perseroan terus mengupayakan pengendalian beban usaha yang tercermin dari pencapaian EBITDA sebesar Rp7.675,5 miliar atau tumbuh 28,3% dari tahun sebelumnya. “Adapun untuk meningkatkan profitabilitas di tahun 2021, Perseroan melakukan aksi korporasi dimana laba bersih tercatat sebesar Rp1.615,3 miliar atau Rp1,61 triliun alias meningkat 222,4% dari tahun 2020,” tegasnya.

BACA JUGA:   Berkat Akad Syariah Komplet, BPRS Hikmah Wakilah Lolos dari Ujian Pandemi

Kinerja keuangan yang apik di masa pandemi itu juga tak lepas dari Perseroan yang melakukan mitigasi risiko dengan beberapa skema rencana aksi. Lagkah itu meliputi: melakukan prioritisasi program kerja baik beban maupun belanja modal dengan tetap menjaga pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM), mengupayakan relaksasi dan/atau restrukturisasi pendanaan untuk menekan biaya keuangan, dan me-review jadwal pengoperasian proyek sesuai dengan kondisi Perseroan.

“Keberhasilan pelaksanaan mitigasi risiko ini membawa Perseroan tetap dapat mempertahankan kinerjanya dengan mencatatkan laba bersih yang masih positif di tahun 2021 sebesar Rp1.615,3 miliar serta menjaga stabilitas margin EBITDA di level 65,2% secara konsolidasi serta pendapatan usaha sebasar 11,776,4 miliar,” ujarnya.

GRC di Jasa Marga

Dalam implementasi GRC, dijelaskan Agung, dari sisi struktur organisasi Jasa Marga telah menempatkan Risk and QHSE Group dan Legal & Compliance Group yang merupakan Unit yang mengelola Tata Kelola Perusahaan, Manajemen Risiko dan Kepatuhan (Governance, Risk & Compliance). Hal ini tertuang dalam SK Direksi No. 128/KPTS/2021 tentang Struktur Organisasi PT Jasa Marga (Persero) Tbk serta SK Direksi No 11/KPTS/2022 tanggal 31 Januari tentang Uraian Jabatan.

“Dengan didukung oleh komite-komite GRC. Seperti Komite Audit, Komite Nominasi dan Remunerasi, Komite Risiko dan Hukum, Sekretaris Dekom, Komite Manajemen Risiko, Komite Pengarah Teknologi Informasi, dan Corporate Secretary,” ujar Agung.

Tugas komite itu, antara lain, seperti Komite Audit yang berada di bawah Dewan Komisaris dalam pelaksanaan tugasnya mengawasi serta memberikan nasihat kepada Direksi agar dalam menjalankan kepengurusan Perusahaan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Adapun untuk Komite Manajemen Risiko berada di bawah Direksi yang melakukan penetapan terhadap Kebijakan, Manual, Risk Appetite, Risk Tolerance, Kriteria Risiko, Profil Risiko Perusahaan serta rencana tindak lindung, Arahan untuk meningkatkan efektivitas penerapan manajemen risiko, Hasil audit internal atau hasil evaluasi lainnya terhadap proses manajemen risiko, Realisasi Hasil Pengolahan Risiko Korporasi, serta Perbaikan sistem manajemen risiko secaraberkelanjutan.

“Plus Corporate Secretary di bawah Direksi. Sekretaris Perusahaan atau Corporate Secretary ini merupakan unit kerja di bawah Direksi yang melaksanakan fungsi sekretaris perusahaan yang salah satu tugasnya adalah memastikan aspek keterbukaan informasi perusahaan terbuka,” katanya.

Selain itu, dari sisi kebijakan GRC yang menopangnya juga sudah lengkap. Salah satunya tekait good corporate governance (GCG), misalnya. Selain aturan eksternal, seperti regulasi dari Kementerian BUMN, Otoritas Jasa Keuangan, dan lainnya, aturan dari internal juga cukup banyak seperti Sistem Manajemen Anti Penyiapan (SMAP), pedoman GCG, benturan kepentingan, penanganan gratifikasi, whistle blowing system, pengadaan barang dan jasa, serta aturan lainnya. Dengan skor yang didapat dari implementasi GCG ini sangat tinggi yakni 98,20 di akhir 2021 lalu dengan tren yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Tahun 2021 lalu masih self assessment. Tapi kalau di tahun 2020 lalu dilakukan oleh external assessor. Asesmen GCG Jasa Marga periode tahun 2020 dilaksanakan dengan menggunakan kriteria dan metodologi yang ditetapkan oleh Kementerian BUMN yaitu berdasarkan Keputusan Sekretaris Kementerian BUMN Nomor: SK-16/S-MBU/2012 tanggal 06 Juni 2012,” katanya.

BACA JUGA:   Infrastruktur GRC Lengkap, Kinerja BPR Karanganyar Makin Mantap

Hal yang sama juga dilakukan terhadap manajemen risiko dan manajemen kepatuhan. Di mana aturan yang disusunnya sudah begitu lengkap. Ditambahkan Sarah, terkait dengan manajemen risiko ini, dalam identifikasi risiko ada Sembilan risiko yakni, regulasi dan pasar, strategis, likuiditas, operasional, proyek, kredit, hukum, reputasi, serta kepatuhan.

Dalam hal risk management, kata Sarah, praktek pengelolaan risiko ini sudah bagus. Hal ini terlihat dari risk maturity index yang berada di posisi 3,89 dari skala 5 di akhir 2021 lalu, bahkan lebih bagus dari rencana awal di level 3,80 atau lebih baik dari tahun sebelumnya. Dan terus ditargetkan meningkat di tahun-tahun ke depan. Yakni 2022 (4,00), 2023 (4,10), dan 2024 (4,20).

Selain itu kematangannya juga terlihat dari Integrated Risk Management (IRM) yang sudah berbasisi ISO 31000:2018 dan praktek Three Lines of Defense yang sudah komplit. Mulai dari line pertama: manajemen risiko dan pengendalian risiko; line kedua: kerangka, kebijakan, da metodologi manajemen risiko; serta line ketiga: jaminan dan pengawasan risiko yang independen.

Selanjutanya soal manajemen kepatuhan, dijelaskan Devi, dalam hal mekanisme kepatuhan yang dilaksanakan dalam perusahaan Jasa Marga ini berdasarkan mekanisme yang ada pada pelaksanaan GCG di perusahaan. Dengan kriteria keberhasilan implementasi Kepatuhan antara lain, tidak ada teguran/Zero Sanction akibat pelanggaran/temuan terhadap kepatuhan).

“Adapun untuk implementasi Manajemen Kepatuhan Sistem Manajemen Kepatuhan ini dikelola oleh Governance & Compliance Department di bawah Risk & Quality Management Group serta di bawah Corporate Secretary,” jelas Devi.

Keberhasilan GRC Terintegrasi

Sarah kembali memaparkan, dalam hal keberhasilan implementasi GRC ini, Jasa Marga telah merasakan beberapa hal yang yang membanggakan manajemen dalam 1-2 tahun terakhir dengan adanya GRC Terintegrasi ini.

Pertama, meskipun dalam kondisi pandemi, Perusahaan telah berhasil mengoperasikan beberapa proyek ruas-ruas jalan tol seperti : Jalan layang Jakarta-Cikampek, Balikpapan-Samarinda, Manado-Bitung, Cinere-Serpong, Serpong-Kunciran, Kunciran-Cengkareng.

Kedua, Perusahaan walau dalam kondisi pandemi yang berdampak pada krisis finasial, Perseroan tetap dapat menghasilkan kinerja laba yang positif. Ketiga, penerapan e-payment 100%, yakni transaksi tol elektronik. Ini telah berdampak baik bagi keselamatan dan kesehatan karyawan operasional disaat pandemi, sehingga karyawan opersional bekerja dalam bekerja tetap terlidungi dari wabah pandemic.

Keempat, Perusahaan terlah berpartisipasi dalam pengadaan Vaksinasi Bersama BUMN dengan total peserta sebanyak lebih dari 12.000 Karyawan di lingkungan PT Jasa Marga (Perusahaan Induk, Anak Perusahaan dan Mitra).

“Adapun tekait hal-hal yang menonjol dan layak dijadikan benchmark dalam implementasi GRC di perusahaan adalah terkait Kerangka, Kebijakan, Tata Kelola dan Prosedur Manajemen risiko, juga soal Struktur Organisasi dan Tata Kelola Manajemen Risiko, lalu tekait Strategi Pembangunan dan Penerapan Manajemen Risiko serta Budaya Manajemen Risiko, juga mengenai Penerapan Risk Based Budgeting & Risk Based Audit, dan terkait soal Metode Pengukuran Risk Maturity Index,” beber dia mengakhiri.

FOTO: TopBusiness

Tags: PT Jasa Marga TbkTOP GRC Awards 2022
Previous Post

Perekonomian RI Terus Membaik, Kinerja Airlangga Hartarto Diapresiasi

Next Post

Bank KB Bukopin Jual Kredit Macet dan Berisiko Rp 2,65 Triliun

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR