Jakarta, TopBusiness – Sebanyak belasan juri yang merupakan para juri dari ajang TOP BUMD Awards yang diselenggarakan oleh majalah TopBusiness melakukan road show ke wilayah Solo Raya dan Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 24-27 Agustus 2022.
Roadshow para juri ini dilakukan dalam rangka memberikan pembekalan ke para BUMD di daerah tersebut agar mereka bisa terus memperbaiki kinerjanya. Sehingga diharapkan mereka kemudian bisa mendapat apresiasi di ajang TOP BUMD itu di level yang lebih tinggi.
Acara kunjungan ke BUMD ini diawali di BUMD PT Perumdam Tirta Makmur (Perseroda) yang merupakan milik Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Para juri pun langsung disambut oleh Plt. Direktur PDAM Tirta Makmur, Dwi Atmojo Heri, beserta jajarannya. Acara tersebut bertajuk ‘Part to be a Successful BUMD, Pembekalan bagi Pimpinan BUMD di Solo Raya dan Yogyakarta, digelar di kantor PDAM tersebut, pada Rabu (24/8/2022).
Beberapa juri yang mengunjungi PDAM tersebut antara lain adalah, M. Lutfi Handayani selaku Pemimpin Redaksi Majalah TopBusiness, Prof. Wahyudin Zarkasih (Guru Besar di Unpad, ahli strategic keuangan dan manajemen keuangan), Ben De Han (pakar strategic management, SDM, dan teknologi digital), Nathan (pakar Governance, Risk, and Compliance), Eri Sumarso (pakar GRC dan SDM), Ina Sawitri (expert di pengembangan SDM, CSR, dan pengembangan UMKM), Kusuma Perbandari (pakar dalam kepemimpinan, dan menguasai ilmu Grafologi), Melani K. Hariman (Ahli di manajemen keuangan dan investasi, serta pencetus Economic Value Added); dan As’ad Nugroho (pakar GCG dan environment, social, and governance).

Saat menyambut para juri, Heri yang saat itu didampingi antara lain, Retnowardhani, Kabag Administrasi dan Keuangan; Hasyim, Kabag Teknik; Kusmanto, Kabag Hubang; Kelapa SPI, Bambang Suratno; Kepala Cabang Selatan, Nurholis; Kepala Cabang Utara, Tono tersebut mengaku sangat bahagia.
“Ini penghormatan bagi kami yang didatangi para dewan juri. Kami ucapkan terima kasih kepada [penyelenggara] TOP BUMD Awards 2022, kami dapat [TOP BUMD] Bintang 4. Ini kebanggaan yang tidak hanya kami saja yang merasakan, bahkan kami keluarga besar pemerintah Sukoharjo. Sebab, Ibu Bupati [Etik Suryani] dalam setiap event itu disampaikan olehnya, bahwa Perumda Tirta Makmur mendapat Top BUMD Bintang 4,” cerita dia.
“Ini merupakan penggugah semangat kami keluarga besar Perumda Tirta Makmur. Sehingga dengan ini [penghargaan] akan menunjukkan keberadaan jati diri kami, bahwa perusahaan kami adalah perusahaan yang bonafid. Karena di tengah gelombang Covid ini, banyak perusahaan yang merugi, tetapi kami bisa bangkit dan bisa meraih laba, dan menyetor income [PAD] ke daerah,” sambungnya.
Heri pun mengurai kondisi dari PDAM yang dikelolanya. Untuk kondisi obyektif di Perumda Tirta Makmur saat ini memiliki 119 karyawan dengan peta layanan di 11 kecamatan, dari 12 kecamatan yang ada di Sukoharjo. Satu kecamatan tersebut adalah Kecamatan Weru yang belum terlayani karena memang jangkauannya sampai saat ini masih susah dialiri pipa perusahaan.
Selanjutnya, jumlah pelanggan itu per hari ini, sekitar 37.500 pelanggan. Yang terdiri pelanggan niaga dan rumah tangga. Dengan jumah sumur 20 dan delapan IPA.
Adapun untuk ketercakupan pelayanan dilihat dari jumlah penduduk masih kecil yakni 14% dari total penduduk yakni 911.966, sehingga prospeknya itu masih sangat luas. “Jadi, jumlah penduduk yang terlayani itu sebanyak 135 ribu. Atau sekitar 14% yang bisa kami layani,” katanya dengan menambahkan posisi tingkat NRW di posisi 33,5% atau masih tergolong tinggi.
Saran Juri
Lutfi menambahkan, dengan adanya pembekalan ini pihaknya berharap PDAM ini bias terus meningkatkan kinerjanya. Di mana saat ini dibuktikan dengan penghargaan Bintang 4, dan diharapkan di tahun mendatang bisa meraih Bintang 5. Dan jika bisa mempertahankannya, diharapkan mampu meraih penghargaan Golden Trophy yakni yang mendulang Bintang 5 berturut-turut dalam tiga tahun. Dan bahkan mampu mengantongi Diamond Trophy yakni meraih Bintang 5 selama lima kali berturut-turut.
“Artinya tak ada batas maksimal dalam rangka melakukan pelayanan dan tidak ada ruang tertutup untuk improvement untuk ke depannya,” kata Lutfi.
Dia berharap, semua BUMD di Indonesia dapat semaksimal mungkin meningkatkan kinerjanya, meningkat layanannya, dan semakin besar kontribusinya dalam pembangunan di daerah. Karena salah satu KPI (key performance index) salah satunya menjalanakn tugas dari Pemda.

“Salah satunya dalam hal penyediaan air minum dan air bersih. Sehingga semakin bagus dan meningkat pelayanan, maka diharapkan akan meningkat kualitas pembangunan dan masyarakat di daerahnya. Dan pada akhirnya berdampak ke pembangunan di seluruh Indonesia.”
Salah satu peningkatan pelayanan yang disarankannya, misal, PDAM tersebut berhasil menerapkan prinsip GRC dengan kuat. Sehingga bisa menjadi benchmark bagi PDAM lain, karena ini sebagai PDAM pertama yang melakukan GRC dengan baik.
Terkait hal itu, pakar GRC Subramaniam Anbanathan mengupas soal pentingnya GRC di dalam pengelolaan perusahaan termasuk BUMD di sector air minum ini. Kata dia, terkait dengan pengelolaan air ini, ada beberapa isu penting. Pertama, yang paling menarik adalah bagaimana mengoptimalisasikan sisitem air bersih. “Sehingag dalam implementasi GRC itu, focus utamanya di situ dulu. Jangan lari kemana-mana dulu. Jadi yang utama itu optimize how to water service,” terangnya.
“Karena mimpi kita tentunya, ke depan adalah kalau GRC ini kita terapkan di PDAM Tirta Makmur itu bisa jadi benchmark luar biasa bagi PDAM lain. Jangan menyerah dulu. Terkadang ada yang biang, ‘Pak, boro-boro mengurusi GRC soal risk aja susah banget”. Ini kan pesimis. Jadi jangan membendung diri. Focus utama adalah bagaimana kapasitas system air bersihnya. Jadi ada kata sistemnya. Itu sesuatu yang terintegrasi secara keseluruhan,” ujar dia.

Isu kedua, yang menarik itu rencana kapasitasnya atau water capacity planning. Dalam water capacity planning ini sudut pandangnya adalah logistic of water supply,” katanya. “Jangan berpikir, GRC itu mungkin hanya bisa dilakukan oleh perusahaan besar saja. Saya rasa tidak tuh. Justru perusahaan kecil juga bisa kok. Kalau kita mau.”
Dan isu ketiga, terkait inovasi. Salah satunya adalah melukan inovasi dengan mebuat air kemasan. Dan ii sudah dilakukan oleh banyak perusahaaan PDAM ini.
Dia melanjutkan, praktek GRC juga bisa melihat dari tiga clusterpelanggan yang pelanggan social, non social, dan niaga/industry. “Bisa tidak dalam tiga segmentasi ini kalau dalam konteks GRC harus dilihat dalam value proposition. Dan salah satu yang diajarkan adalah customer segmentation. Kalau kita lihat segmentasi kita itu social, non social, atau industry. Dan itu perlakuannya beda, sekalipun airnya itu sama. Jadi GRC yang dibangun itu berdasar segmentasi,” papar Nathan, panggilan akrabnya itu.
FOTO: TopBusiness
