Jakarta, TopBusiness – Anggota Komisi XI DPR Kamrussamad mendukung komitmen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk meningkatkan penerapan Governance, Risk, dan Compliance (GRC) atau Tata kelola, Risiko, dan Kepatuhan pada industri jasa keuangan.
“Ketua OJK menyatakan kemarin kalau badai ekonomi masih panjang. Bisa 10 tahun ke depan. Sehingga, GRC di industri keuangan sangat vital,” ujar Kamrussamad dalam keterangannya, Rabu (31/8/2022).
OJK, lanjut Kamrussamad, juga perlu segera reformasi struktural dan Sumber Daya Manusia (SDM). Sebab, carut marut industri keuangan diakibatkan profesionalisme dan mental pengawas yang rendah.
“Kalau belajar dari krisis ekonomi yang melanda Asia Timur mulai tahun 1997 serta pelemahan ekonomi global tahun 2008 hingga 2015, di antara penyebab utamanya adalah masalah pada sistem tata kelola perusahaan,” terang Kamrussamad.
Ia menambahkan, pelaksanaan tata kelola, pengelolaan risiko dan pelaksanaan kepatuhan yang tidak terintegrasi dapat menimbulkan koordinasi yang lemah, dan inefisiensi dalam biaya. Selain itu, juga membahayakan perekonomian nasional.
“Saat ini OJK mengawasi sistem keuangan dengan total aset lebih dari Rp 19.418 triliun. Ini terdiri dari ektor perbankan Rp 9.431,42 triliun, IKNB Rp 2.6771 triliun, dan pasar modal Rp 7.309 triliun,” kata Kamrussamad.
Untuk itu, menurutnya, komitmen OJK perkuat penerapan Governance Risk Management and Complience (GRC) pada industri jasa keuangan perlu didukung.
Tantangan Bisnis
Secara terpisah, Ketua Penyelenggara TOP GRC Awards 2022 M Lutfi Handayani juga menilai bahwa dunia bisnis ke depan menghadapi ketidakpastian, baik akibat pesatnya perkembangan teknologi digital yang mendorong disruption, pandemi covid-19, serta tahun politik menjelang Pilpres 2024.
“Lalu apa yang dilakukan pelaku bisnis di tengah ketidakpastian ini? Tentu kita berharap bisa membangun kapabilitas atau kemampuan perusahaan untuk mencapai tujuan bisnis secara andal di samping mengatasi dampak ketidakpastian yang terjadi agar bisnis tetap bisa bergulir dan berkelanjutan,” kata Lutfi dalam sambutan Webinar TOP GRC Awards 2022, Selasa (30/8/2022).
Menurut Lutfi, seiring meningkatnya tantangan bisnis yang penuh ketidakpastian ini, pendekatan GRC juga terus mengalami perubahan dan penyempurnaan. GRC sekarang tidak sekadar bicara tentang protective value atau upaya untuk melindungi aset dan nilai perusahaan, tapi sudah mengarah pada creating value.
“Pesatnya perkembangan tenologi digital juga mendorong perkembangan GRC ke depan menjadi GRC yang berbasis artificial intelligence yang didukung IQ atau information quality. Ketersediaan informasi yang baik tentu akan memudahkan manajemen dalam mengambil keputusan bisnis di tengah ketidak pastian ini,” tutur Lutfi.
