
Jakarta, businessnews.id — Neraca pembayaran Indonesia (NPI) triwulan IV/2013 kembali tercatat surplus sebesar USD 4,4 miliar. Itu setelah selama tiga triwulan terakhir mengalami defisit. Perbaikan NPI triwulan IV/2013 ditopang defisit transaksi berjalan yang menurun cukup tajam menjadi USD 4,0 miliar atau 1,98% dari produk domestik bruto (PDB). Demikian dikatakan oleh Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia, Tirta Segara, di Jakarta (Jumat, 14/4).
Defisit ini jauh lebih rendah dari defisit triwulan sebelumnya yang sebesar USD 8,5 miliar (3,85% PDB) maupun perkiraan awal Bank Indonesia.
Surplus NPI triwulan IV/2013 juga ditopang oleh peningkatan surplus transaksi modal dan finansial yang mencapai USD 9,2 miliar. Itu lebih besar dari surplus pada triwulan sebelumnya sebesar USD 5,6 miliar.
“ Surplus NPI triwulan IV/2013 pada gilirannya mendorong kenaikan cadangan devisa dari USD 95,7 miliar pada triwulan III/2013 menjadi USD 99,4 miliar pada Desember 2013. Atau setara 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.”
Pihaknya menilai bahwa NPI triwulan IV/2013 yang kembali tercatat surplus tidak terlepas dari kontribusi positif bauran kebijakan yang telah dilakukan Bank Indonesia bersama dengan Pemerintah dalam menurunkan defisit transaksi berjalan dan memperkuat ketahanan sektor eksternal.
Kata dia, penurunan defisit transaksi berjalan terutama didukung oleh naiknya surplus neraca perdagangan barang, yang bersumber dari bertambahnya surplus neraca perdagangan nonmigas, dan menyempitnya defisit neraca perdagangan migas.
Surplus neraca perdagangan nonmigas meningkat karena ekspor nonmigas kembali tumbuh positif (3,8% year on year) didukung kenaikan ekspor manufaktur sejalan meningkatnya permintaan dari AS dan Jepang, nilai tukar Rupiah yang cukup kompetitif, dan koreksi harga komoditas yang semakin terbatas. “Di samping didorong pula oleh peningkatan ekspor sumber daya alam terkait dengan antisipasi pemberlakuan Undang-undang tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba).” (ABDUL AZIZ)