TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

‘Samudera Biru’ di Sesaknya Pasar Properti

Achmad Adhito
8 December 2022 | 11:18
rubrik: Business Info
‘Samudera Biru’ di Sesaknya Pasar Properti

Sumber Ilustrasi: Istimewa

Strategi Samudera Biru Terlihat Ditekuni Indonesian Paradise Property. Sejauh mana pengembang tersebut lepas dari badai Covid-19?

Tatkala pasar properti di Indonesia bisa diibaratkan sebagai samudera yang telah merah oleh darah persaingan bisnis, tidak demikian dengan perusahaan properti yang satu ini: PT Indonesian Paradise Property, Tbk. Ya, begitulah, perusahaan publik dengan kode saham/emiten INPP tersebut, memang gemar meluncur ke samudera biru yang masih senyap, belum penuh oleh darah persaingan bisnis antar-perusahaan properti.

Dengan kata lain, perusahaan tersebut memang gemar menggunakan Strategi Samudera Biru (Blue Ocean Strategy), sebuah konsep sekaligus panduan praktik yang sejatinya tidaklah asing bagi pebisnis di semua bidang—hanya saja, entah kenapa, yang serius menekuni konsep ini tidaklah banyak.

Apa sejatinya Strategi Samudera Biru itu”? Dikutip dari berbagai referensi, secara ringkas dapat dipaparkan bahwa itu merupakan strategi untuk menciptakan pasar tersendiri, dalam kondisi kompetisi bisnis yang sudah sangat ketat. Dengan strategi itu, pebisnis mengkreasikan sebuah pasar baru yang tanpa pesaing—atau setidaknya minim pesaing.

Dengan pasar baru nan masih sunyi itu, pebisnis akan leluasa mendapatkan profit tanpa melalui upaya yang banyak menghasilkan darah, atau pun tanpa tercemari oleh darah deras para pesaing.

Bermula dari Hotel

Lantas, sejatinya seperti apa contoh nyata Strategi Samudera Biru oleh Indonesian Paradise Property? Jajaran manajemen Indonesian Paradise Property, kerap mengisahkan hal tersebut dalam sejumlah kesempatan.

Perhatikan, Komisaris Indonesian Paradise Property, Agoes Soelistyo Santoso, bercerita ringan tentang lahirnya Harris Hotel Kuta Tuban Bali, dalam sebuah kesempatan.

Bagi dia, faktor lokasi yang tepat, memang merupakan hal penting bagi pengembang properti. Tetapi selain lokasi, ada faktor lain yang penting, yaitu kreativitas-inovasi dalam rancangan proyek. “Jadi, syarat sukses bisnis properti, bukan sekadar modal besar,” kata dia.

Nah, di tahun 2000, Tuban masih kawasan pemukiman. Tetapi, Indonesian Paradise Property, toh berani membangun hotel di situ. “Memang di akhir 1990-an, traveling masih konsumsi orang kaya. Tetapi kami memprediksi bahwa orang menengah pun sejatinya butuh traveling,” kata Agoes.

BACA JUGA:   Kementerian PUPR Resmikan Museum Wiswakarma

Kemunculan penerbangan LCC (low cost carrier) memudahkan orang menengah untuk traveling. “Maka kami masuk ke bisnis hotel untuk orang menengah di Tuban. Itu adalah hotel bintang tiga plus.”

Harris Hotel Kuta Tuban Bali kemudian menjadi trend setter di perhotelan nasional. “Saat ini, sudah ada sekitar 50 Hotel Harris,” kata Agoes.

Agoes menjelaskan bahwa sedari awal berdiri di tahun 2002, Indonesian Paradise Property menonjolkan faktor kreativitas-inovasi. Dengan demikian, Indonesian Paradise Property menjadi pengembang unggul yang berbasis kreativitas-inovasi.

Sampai di sini, kita bisa melihat bahwa dalam lahirnya Harris Hotel Kuta Tuban Bali, Indonesian Paradise Property meluncur atau pun mengkreasikan suatu Strategi Samudera Biru, bukan? Bayangkanlah, saat masyarakat kelas menengah belum terlalu banyak yang meluncur ke dunia traveling, perusahaan properti tersebut menciptakan pasar baru dengan membesut sebuah hotel bintang tiga plus. Dan deteksi dini tersebut terbukti manjur, terlihat dari berjamurannya Harris Hotel setelah itu.

Pusat Belanja Samudera Biru

Contoh lain samudera biru besutan Indonesian Paradise Property, adalah FX Sudirman. Ini adalah sebuah pusat belanja modern yang berlokasi di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta. Adapan pemiliknya adalah PT Aneka Bina Laras, nan merupakan anak perusahaan dari Indonesian Paradise Property.

Dihimpun dari berbagai referensi, dapat disebutkan bahwa dulu saat nama yang digunakan masih Sudirman Place, pusat perbelanjaan tersebut senyap dari tenant atau pun pengunjung. Kemudian, pusat belanja tersebut diubah total menjadi sebuah pusat gaya hidup; hingga kini, konsep ini sangat digemari oleh generasi muda atau pun eksekutif muda pengunjung properti tersebut.

Sejak sekitar tahun 2008, sebuah konsep nan sangat unik, khas, dan berbeda, telah hadir di pusat perbelanjaan tersebut. Semisal, di mal tersebut, ada banyak restoran yang bisa dipilih oleh pengunjung.

BACA JUGA:   Geo Dipa Minta Daerah Tak Persulit Investasi di Era New Normal

Yang menarik yakni adanya fasilitas tertentu yang tak bisa ditemui pengunjung di pusat belanja lain di Jakarta. Satu di antara itu adalah fasilitas untuk komunitas olah raga, yakni locker room dan shower room. Dengan fasilitas tersebut, komunitas olah raga bisa mengunakan FX Sudirman sebagai sebuah titik bertemu.

Selanjutnya, di FX Sudirman pun ada layanan personal shopper, yang akan membantu berbelanja kebutuhan para pengunjung. Berbagai fasilitas hiburan dan outlet merek-merek ternama pun ada di pusat perbelanjaan tersebut.

Sebuah Strategi Samudera Biru terlihat berhasil dihadirkan di FX Sudirman, bukan? Perhatikan saja, sebuah konsep yang khas dan berlainan dengan properti pesaing, telah muncul di FX Sudirman. Walhasil, FX Sudirman hingga saat ini punya positioning tersendiri dalam ketatnya persaingan antar-pusat belanja modern di Jakarta.

Melewati Dampak Covid

Setelah berlalunya masa berat dampak Covid-19 ke sektor properti, bagaimana rencana ke depan Indonesian Paradise Property? Dalam satu kesempatan, Presiden Direktur dan CEO Indonesian Paradise Property, Anthony Prabowo Susilo, mengungkapkan strategi pihaknya ke media massa.

Begini, ia menyebutkan bahwa kini Indonesian Paradise Property menitikberatkan pengembangan proyek baru, ke properti mixed use. Persiapan untuk langkah tersebut sudah berlangsung dua hingga tiga tahun.

Pasca-persiapan itu, Indonesian Paradise Property memulai konstruksi proyek-proyek tersebut di tahun 2023. Kemudian, proyek tersebut selesai masuk ke pasar pada tahun 2025. “Jadi, saat pasar tiarap, kami justru bergerak. Mayoritas proyek kami tersebut akan masuk pasar di 2025 atau 2026,” demikianlah ia mengimbuhkan.

Pada saat ini, sekitar 20 persen dari pendapatan perusahaan tersebut, berasal dari pendapatan berulang (recurring income).

Dari sisi perusahaan properti yang telah menjadi perusahaan publik, kini Indonesian Paradise Property berada di urutan terbesar keenam. “Itu kalau kita hitung dari segi nilai kapitalisasi pasar,” Anthony mengatakan.

BACA JUGA:   Mandiri Sekuritas Unggulkan BBRI, CMRY hingga TLKM

Indonesian Paradise Poperty telah berhasil melewati dengan baik masa Covid-19. “Bahkan saat pandemi pun, kami tetap mengembangkan hunian high rise di Makassar.”

Penelaahan wartawan situs TopBusiness.id ke laporan keuangan Q3 2022 perusahaan tersebut, menunjukkan sejumlah hal.

Antara lain, terlihat bahwa dari aspek laba operasional/laba usaha, perusahaan tersebut mencatatkan hasil baik di Q3 2022. Persisnya, di Q3 2022, perusahaan itu mendapatkan laba usaha di Rp48,35 miliar. Adapun di periode yang sama tahun 2021 (perbandingan year on year), Indonesian Paradise Property masih membukukan rugi usaha senilai Rp68,11 miliar.

Bagaimana dengan laba komprehensif setelah pajak? Di situ, perbaikan pun terlihat. Rinciannya: laba komprehensif pada Q3 2022 tercatat di Rp21,09 miliar. Sedangkan di periode yang sama tahun sebelumnya, masih ada rugi komprehensif setelah pajak, yang besarnya Rp74,58 miliar.

Pada pos laba komprehensif yang dapat diatribusikan ke entitas induk pun, ada perbaikan. Dalam hal ini, di Q3 2022, laba komprehensif yang dapat diatribusikan ke entitas induk, tercatat senilai Rp1,52 miliar. Adapun di periode yang sama tahun sebelumnya, ada rugi komprehensif yang dapat diatribusikan ke entitas induk, dengan besaran Rp74,58 miliar.

Di Q3 2022, total aset perusahaan properti tersebut—mencakup aset lancar atau juga aset tak lancar—di Rp8,94 triliun. Total jumlah liabilitas/kewajiban di Q3 di Rp3,21 triliun: lebih kecil daripada jumlah aset yang Rp8,94 triliun tersebut.

Jumlah liabilitas jangka pendek di Q3 yang di Rp975,16 miliar, lebih kecil daripada total aset lancar yang senilai Rp1,93 triliun.

Jadi, dari segi fundamen keuangan, bisa dikatakan bahwa Indonesian Paradise Property aman-aman saja, bukan?

Kini, apakah Indonesian Paradise Property akan terus mengintensifkan Strategi Samudera Biru dengan varian-varian tertentu? Marilah kita cermati bersama. Yang jelas, mungkin lebih baik meluncur di samudera biru nan senyap, ketimbang di samudera merah, bukan?

Tags: blue ocean strategyfx sudirmanharris hotelIndonesian paradise propertystrategi samudera biru
Previous Post

Pertamedika IHC Raih Tiga Sertifikat ISO

Next Post

Jadi Emiten ke-57, PADA Resmi Listing di BEI

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR