Jakarta-Thebusinessnews.Hingga Awal Kuartal II tahun ini masih minim perusahaan yang mencatatkan saham perdana (IPO) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI)
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK),Muliaman D Hadad menenggarai, minimnya jumlah perusahaan IPO disebabkan oleh rendahnya pengetahuan dan pemahaman publik terhadap manfaat investasi. “Perlu ada sosialisasi kadang-kadang ada perusahaan yang kurang paham,” ujarnya di Jakarta, Jumat (8/4).
Padahal, jelas dia, sejauh ini OJK terus mengupayakan pendalaman pasar modal dengan mendorong peningkatan jumlah investor dan meragamkan instrumen investasi. “Satu tanda negara akan maju, ditandai dengan semakin dalamnya pasar keuangan,” imbuhnya.
Menurut dia, pasar keuangan yang dalam tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan, namun bisa meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan pemanfaatan likuiditas. “OJK terus mendorong pendalaman ini, terutama di padar modal dan peran optimal bagi industri keuangan bukan bank,” tutur Muliaman.
Muliaman mengaku, sejauh ini OJK sudah cukup masif melakukan sosialisasi untuk meningkatkan jumlah investor di pasar modal. “Kemarin saya sudah bertemu pengurus Kadin untuk minta anggotanya yang (perusahaan) menengah bisa masuk bursa, begitu juga bank-bank BUKU II,” tegasnya.
Perlu diketahui, sepanjang tahun ini hanya ada tiga perusahaan yang mencatatkan saham perdana di pasar modal domestik, padahal BEI menargetkan 35 perusahaan listing hingga akhir 2016.
Lebih lanjut Muliaman menegaskan, BEI harus lebih intensif mencari perusahaan-perusahan untuk memperdagangkan saham di pasar modal. “Tito (Sulistio/Direktur Utama BEI) harus juga rajin turun untuk bisa mencari nasabah (emiten) baru. Saya kemarin sudah ke Kadin,” ucapnya.(Az)