Jakarta, TopBusiness – INDEF mencatat, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia 2022 secara kumulatif sebesar 5,31% ctc (cumulative to cumulative), angka tersebut meningkat dibandingkan 2021 sebesar 3,69% ctc. Sementara laju pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahunan (yoy/year on year) pada triwulan IV 2022 sebesar 5,01% yoy.
Namun begitu, capaian tersebut sedikit turun dibandingkan triwulan IV 2021, yakni 5,02% yoy. Penurunan juga terjadi dibandingkan triwulan III 2022, sebesar 5,72% yoy. “Meski lebih baik dibandingkan tahun 2021, akan tetapi perlu waspada dengan perlambatan yang terjadi pada triwulan IV tahun 2022,” demikian disebutkan dalam diskusi yang digelar INDEF, “Akselerasi Ekonomi di Ujung Tanduk: Tanggapan terhadap Kinerja Ekonomi Triwulan IV 2022,” Selasa (7/2/2023).
Dalam diskusi kali ini yang menjadi pembicara adalah, Eko Listiyanto – Wakil Direktur INDEF, Esther Sri Astuti – Direktur Program INDEF, Abdul Manap Pulungan – Peneliti Center of Macroeconomics and Finance – INDEF, dan Ahmad Heri Firdaus – Peneliti Center of Industry, Trade, and Investment – INDEF.
“Di sisi lain, awal tahun 2023, Indonesia menghadapi tekanan yang luar biasa dari berbagai dimensi. Inflasi Januari 2023 tetap tinggi yakni sebesar 5,28% yang disebabkan kenaikan makanan, minuman dan tembakau,” ujar Eko.
Sementara itu, perlambatan ekonomi global juga mulai terasa dengan menurunnya pertumbuhan banyak negara mitra dagang Indonesia yang berdampak terhadap penurunan pertumbuhan surplus neraca dagang Indonesia.
“Dengan situasi tersebut maka pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-tahun 2023 diperkirakan berada pada rentang 4,7% – 4,9% yoy,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, INDEF pun memiliki beberapa catatan yang dapat menggerus perekonomian tersebut: pertama, waspadai adanya deselerasi ekonomi. Meskipun pertumbuhan ekonomi secara kumulatif meningkat dari 3,7% (2021) ke 5,31% (2022), namun terdapat tren penurunan kinerja pertumbuhan tahunan antar triwulan selama 2022, dari 5,75% yoy di triwulan III ke 5,01% yoy di triwulan IV.
“Deselerasi ekonomi ini perlu diwaspadai karena diikuti dengan laju konsumsi rumah tangga yang berada di bawah laju pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, ekonomi global juga semakin menunjukkan perlambatan,” ungkap dia.
Kedua, pemulihan ekonomi Indonesia kalah kencang dengan negara tetangga. Capaian pertumbuhan ekonomi 2022 sebesar 5,31% yoy ternyata masih kalah dengan beberapa negara tetangga yang sudah merilis kinerja ekonominya hingga 7 Februari 2023 ini, yaitu Vietnam dan Philipina.
“Pada 2022 pertumbuhan ekonomi Vietnam mencapai 8,02% yoy sementara Philipina sebesar 7,6% yoy. Ini artinya pemulihan ekonomi Indonesia kalah kencang dibandingkan dengan kedua negara tersebut,” ujarnya.
Ketiga, tekanan daya beli meningkat. Menurut data INDEF, penurunan pertumbuhan ekonomi secara triwulanan diikuti dengan laju konsumsi yang masih moderat. Hal ini terjadi karena tekanan daya beli meningkat di triwulan IV, seiring inflasi yang masih di atas target pemerintah dan Bank Indonesia. Tanpa upaya memperbaiki daya beli, sulit rasanya ekonomi Indonesia dapat mempertahankan pencapaian 2022 ini.
Keempat, efek kenaikan harga BBM menyebar. INDEF mencatat, kenaikan harga BBM di bulan September 2022 yang mencapai 30% mulai menyebar dampaknya pada Triwulan IV Tahun 2022. Selain inflasi yang memberikan tekanan daya beli, pengeluaran transportasi dan komunikasi tumbuh 8,05% (yoy) atau melambat dibandingkan Triwulan III Tahun 2022 yang sebesar 12,87% (yoy).
Situasi yang sama dengan restoran dan hotel yang juga melambat dari 9,12% (yoy) menjadi 6,41% (yoy) pada periode yang sama.
Kelima, konsumsi pemerintah gagal lagi mengangkat perbaikan ekonomi. Konsumsi pemerintah menjadi lebih buruk dengan pertumbuhan -4,47% pada triwulan IV Tahun 2022 atau lebih buruk dibandingkan triwulan III Tahun 2022 yang sebesar -2,55%.
Selain disebabkan penurunan belanja Program Pemulihan Ekonomi Nasional, juga belum maksimalnya belanja barang turun sebesar 20,18%, kemudian belanja modal turun sebesar 0,33%, dan belanja sosial yang turun sebesar 7,27% dibandingkan tahun 2021 yang lalu.
Keenam, pertumbuhan sektor padat karya melamban. Pertumbuhan sektor yang padat karya relatif kecil, bahkan sektor pertanian dan industri tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor Industri, pertanian dan perdagangan yang memiliki pangsa tenaga kerja 62.2% justru tumbuh di bawah sector-sektor lain yang kedap terhadap penyerapan tenaga kerja.
“Di sisi lain, pada 2022 terlihat terjadi pergeseran struktur ekonomi menurut lapangan usaha, industri semakin mengalami penurunan pangsa. Sebaliknya sektor pertambangan mengalami lonjakan pangsa PDB dari 7,26% (2019) menjadi 12,22% (2022). Meskipun demikian, harapan terhadap perbaikan struktur dan arsitektur yang dapat mengakselerasi ekonomi Indonesia masih menjadi Tanya,” ujarnya.
Ketujuh, kemiskinan akan semakin memburuk. INDEF juga menyorot persentase penduduk miskin pada September 2022 yang sebesar 9,57%, meningkat 0,03% poin terhadap Maret 2022. Dengan situasi kenaikan harga BBM yang tetap dirasakan mulai Oktober hingga Januari 2023 maka efeknya akan terjadi pada bulan Maret 2023, sehingga diperkirakan angka kemiskinan semakin meningkat.
“Persoalan kenaikan harga beras hingga kelangkaan Minyakita menjadi tanda tekanan pada masyarakat miskin. Di sisi lain bahwa kenaikan cukai akan memengaruhi pengeluaran rumah tangga miskin untuk rokok. Termasuk bantuan sosial yang relatif lebih lambat di triwulan I karena persoalan administrasi bantuan social,” pungkasnya.
