Jakarta, TopBusiness – PT Pelabuhan Kota Langsa (Perseroda) alias PT Pekola terpilih menjadi salah satu finalis ajang TOP BUMD Awards 2023. Terpilihnya BUMD milik Pemerintah Kota Langsa, Aceh ini dalam ajang bergengsi tingkat nasional ini tak lepas dari kinerja bisnis dan layanan perusahaan yang cukup baik.
Sebagai BUMD aneka usaha, PT Pekola memiliki beberapa aktivitas usaha, yakni pengelolaan ekowisata Taman Hutan Kota Langsa seluas 48,22 Hektare (Ha). Aktivitas usaha lainnya adalah pengelolaan ekowisata Hutan Mangrove Kuala Langsa seluas 119 Ha, ekspor produk pertanian, perkebunan dan UMKM, ekspor cangkang kelapa sawit, dan event organizer.
Dalam sesi presentasi penjurian TOP BUMD Awards 2023 yang dilakukan secara daring, Jumat (24/2/2023), Direktur Utama PT Pekola Muhammad Nur menjelaskan bahwa ada visi yang ingin diwujudkan oleh manajemen yakni menjadikan PT Pekola sebagai perusahaan daerah yang sehat, maju, kompetitif dan produktif
Dari sisi kinerja bisnis, PT Pekola sudah menunjukkan peningkatan yang signifikan setelah dua tahun terkena dampak pandemi covid-19. Pada 2022, PT Pekola meraih pendapatan Rp 3,26 miliar, lebih baik ketimbang 2020 dan 2021 meraih pendapatan Rp 2,689 miliar dan Rp 2,173 miliar.
“Untuk revenue komposisinya 90 persen masih dikontribusi dari Taman Hutan Kota Langsa atau sekitar Rp 2,5 miliar,” kata Muhammad Nur.
Hadir dalam penjurian secara daring ini, Pj Walikota Langsa Said Mahdum Majid, Ketua DPRK Langsa Maimul Mahdi, Kabag Ekonomi Pemkot Langsa M Fauzi, Komisaris Utama PT Pekola Bahtiar MA, dan Direktur Operasi dan Keuangan PT Pekola Iswantara Adi N.
Dari sisi laba rugi, kinerja PT Pekola pada 2022 tumbuh cukup baik dengan meraih untung Rp 288,045 juta. Capaian ini lebih baik ketimbang pada 2020 dan 2021 yang secara berturut-turut rugi Rp 1,01 miliar dan Rp 236,52 juta. “Kerugian itu akibat pandemi covid-19,” ucap Muhammad Nur.
Laba PT Pekola bahkan sudah melampaui kinerja sebelum pandemi pada 2019 yang meraih laba Rp 240,99 juta. Sedangkan total aset PT Pekola pada 2022 mencapai Rp 2,915 miliar.
Sektor perdagangan dan kepelabuhanan, menurut Muhammad Nur, tahun 2023 ini, PT Pekola bekerja sama dengan PT Berkat Pelayaran Berjaya akan melakukan ekspor produk pertanian, perkebunan dan perikanan asal Aceh ke Malaysia dan Thailand dengan volume 100 ton per pengiriman. Frekuensi pengiriman seminggu dua kali. “Ekspor ini akan dilaunching nanti tanggal 7 Maret 2023 oleh Pak Gubernur (Aceh),” kata Muhammad Nur.
Sebelumnya atau pada 2021, PT Pekola juga mengekspor rokok daun nipah dengan volume 7,7 ton dengan dua kali pengiriman. Pada, 2020 di tengah pandemi covid-19, BUMD ini bekerja sama dengan PT Sultana Biomas mengekspor cangkang kelapa sawit ke Jepang dengan volume 40 ribu ton.
Untuk usaha sektor pariwisata, pada 2022 juga sudah menunjukkan pemulihan dari dampak pandemi covid-19. Jumlah kunjungan ke RTH Taman Hutan Kota Langsa sebanyak 252.620 pengunjung, sedangkan kunjungan ke Ekowisata Hutan Mangrove Kuala Langsa sebanyak 56.631 pengunjung.
Untuk kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Kota Langsa, Muhammad Nur mengatakan bahwa pada 2022 PT Pekola memberikan setoran bagi hasil keuntungan Rp 28.804.525, dan retribusi tahunan Rp 120 juta. Dua tahun sebelumnya perseroan tidak memberikan bagi hasil karena merugi.
Namun tahun 2019, PT Pekola memberikan bagi hasil kepada Pemkot Langsa Rp 26.900.111 dan retribusi tahunan Rp 72 juta.
Dukungan Pemkot Langsa
Sementara itu, Pj Walikota Langsa Said Mahdum Majid saat penjurian menambahkan bahwa dukungan Pemkot Langsa terhadap PT Pekola cukup besar. Pihaknya telah menginisiasi pembentukan PT Pekola yang awalnya sebuah perusahaan daerah, kemudian sesuai regulasi ditetapkan sebagai perseroda.
“Namun tetap sebagai BUMD Kota Langsa. Pemegang saham tunggal PT Pekola ini Pemkot Langsa,” ujar Said.
Pemkot juga memberikan kontribusi anggaran yang telah dikucurkan dalam bentuk pembangunan hutan kota maupun hutan mangrove yang kini dikelola oleh PT Pekola. “Sampai tahun 2022, sudah Rp 66,2 miliar dikucurkan melalui APBD Kota Langsa untuk PT Pekola,” ucap dia.
Menurut Said, Pemkot Langsa terus mendorong PT Pekola mengaktifkan kegiatan ekspor dan impor melalui Pelabuhan Kuala Langsa. Selama ini, kata dia, ekspor komoditas dari Aceh, khususnya di Pantai Timur banyak melalui Belawan maupun Tanjung Balai, Sumatera Utara.
“Awalnya kami kesulitan untuk mengaktifkan pelabuhan, namun setelah ditetapkan bahwa Pelabuhan Kuala Langsa ini sebagai pelabuhan ekspor dan impor maka kami bekerja keras untuk bisa mengaktifkan agar ekspor komoditas-komoditas Aceh melalui Pelabuhan Kuala Langsa,” papar Said.
Penetapan Pelabuhan Kuala Langsa untuk ekspor dan impor ini berdasar Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 24 Tahun 2019. “Dengan lahirnya Permendag bahwa Pelabuhan Kuala Langsa menjadi pelabuhan ekspor-impor, tanggal 7 Maret mendatang, Gubernur Aceh sendiri yang akan launching ekspor perdana hasil pertanian, perkebunan dan perikanan Aceh yang akan dikirim ke Malaysia dan Thailand,” tutur dia.
Said menjelaskan, tujuan Pemkot Langsa mendorong PT Pekola mengaktifkan pelabuhan yang utama adalah terbukanya lapangan kerja di sekitar pelabuhan dan masyarakat yang berprofesi sesuai kegiatan yang ada di pelabuhan. Selain itu juga untuk peningkatan PAD dan peningkatan ekonomi secara keseluruhan di Aceh.
“Bila pelabuhan ini sudah aktif, tentu restoran, perhotelan dan transportasinya, termasuk pedagang-pedagang asongan dan pedagang makanan yang ada di sekitar itu akan merasakan dampaknya,” kata dia.
Di samping meningkatkan ekonomi masyarakat di Pelabuhan, menurut Said, aktivasi Pelabuhan Kuala Langsa ini akan mengundang para pelaku ekonomi dari luar kabupaten dan kota di Aceh. “Ada delapan kabupaten dan kota hinterland di sekitar Pelabuhan Kuala Langsa untuk memanfaatkan pelabuhan ini sebagai pintu gerbang untuk ekspor ke luar,” ujar Said.
Untuk pengembangan wisata Hutan Kota Langsa, menurut dia, Pemkot Langsa telah membebaskan 9,6 hektare lahan dari PTPN, sehingga total luas Hutan Kota kini bertambah menjadi 40,2 Ha.
“Kita edukasi ke generasi yang akan datang bahwa ada jenis-jenis pohon yang hanya bisa dijumpai di hutan-hutan besar, tapi di Huta Kota ada seperti pohon Merbau, Meranti, Damar, Paharusa dan lainnya,” ujar dia.
