Jakarta, TopBusiness – Bagi Perum LPPNPI-Airnav atau Airnav, yang merupakan perusahaan berstatus milik negara (BUMN) dengan bisnis pengaturan lalu lintas penerbangan di Indonesia, tentu memiliki tanggung jawab besar dalam melaksanakan program tangung jawab sosial dan lingkungan atau TJLS.
Program TJLS ini merupakan bentuk kepedulian BUMN dalam skema corporate sosial responsibility (CSR). TJLS Airnav ini mengacu kepada strategi bisnis perusahaan dan esuai pula dengan UU No. 19/2023, PP No. 47/2012, PER-6MBU/09/2022, UU No. 40/2007 dan Perpres No. 59/2017. Regulasi tersebut untuk mencapai tujuan Pembangunan yang berkelanjutan (TPB dan SDGs Development Goals) dengan fokus pada 17 point dan 169 target serta capaian yang harus direalisasikan bagi seluruh BUMN.
Kinerja apik dan inovatif serta membangun sinergitas dengan masyarakat adalah salah satu kesuksesan bagi Airnav dalam memitigasi bencana dan risiko bencana. Bagi industri penerbangan banyak hal yang bisa menjadi ancaman penerbangan, sehingga setrilisasi di jalur penerbangan udara merupakan hal yang mutlak.
Terkait dengan hal tersebut, beberapa daerah memliki budaya yang keliru serta menjadi ancaman besar bagi seluruh industri penerbangan. Beberapa tahun belakangan ini, euforia masyarakat untuk menerbangkan balón udara yang terjadi di daerah Pekalongan, Magelang, Ponorogo, Ngawi, Madiun dan Wonosobo. Ancaman bencana tersebut, menjadi sebuah potensi yang baik karena dibangun sosialisasi intensif antara masyarakat komunitas balon udara yang tersebar di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur ini berubah total 100 derajat.
Airnav membangun kolaborasi apik dengan seluruh masyarakat komunitas balon udara se-Jawa. Caranya adalah masyarakat komunitas balon udara ini dilakukan pembinaan, dan menjadikan potensi bisnis dengan membangun “Café Balon Udara” di seluruh titik komunitas balón udara se-Jawa ini. Bagi masyarakat komunitas balón udara ini sepakat untuk tidak menerbangkan dan melepaskan balón udaranya ke udara dan harus ditambatkan dan diikat. Selain, masyarakat sudah sepakat dengan peraturan penerbangan hanya bisa maksimal ketinggian balón udara sebesar 150 meter saja.
Ditegaskan Manager Tangung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJLS) Perum LPPNPI-Airnav, Hermansyah, dengan terbangunnya sosialisasi serta memberikan pembinaan kepada seluruh komunitas balon udara. Dan masyarakat membangun komunitas balón udara untuk potensi bisnis pula, dengan produk “Café Balon Udara”. Sebuah ikon bisnis kuliner dan kerajinan kreatif bagi setiap daerah yang tergabung dalam komunitas balón udara. Serta secara rutin mengadakan festival Balon Udara. “Dengan membangun komunikasi apik ini, seluruh stake holder menjadi happy, dan masyarakat pun mendapatkan penghasilan tersendiri dengan balón udara ini”, tegas Hermansyah kepada Dewan Juri TOP CSR Awards 2023, yang berlangsung secara daring, di Jakarta, baru-baru ini.
Dengan bekerja sama dan bersinergi dengann komunitas balón udara, akhirnya terbangu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) balón craft, lalu batik dan sarung batik cap. Kegiatan rutin balón udara se-Jawa ini telah menjadi pertumbuhan perekonomian masyarakat di sekitar Jawa. Pembangunan perekonomian kerakyatan ini telah terbangun semenjak tahun 2018 lalu.
Keberdaan Airnav dalam membangun perekonomian masayarakat tidak hanya di sekitar Jawa semata. Berbagai kegiatan peningkatan dan pembukaan lapangan pekerjaan di sekitar bandara udara perintis seperti, Selayar-Maluku, Medan, Lampung, Papua, Takengon-Aceh, Pagar Alam, Menado.
Tak terkecuali, berbagai kegiatan vokasi kepada masyarakat dan karyawan di sekitar bandara yang terdampak Covid-19, Airnav memberikan pendidikan pemeliharaan AC dan listrik.
Kemudian, memberikan dukungan kepada UMKM untuk mendapatkan sertifikasi halal dengan kerjasama Badan Zakat Nasional (Baznas) dari tahun 2018. Untuk tahun 2023 ini akan dilanjutkan program ini dengan sasaran sebanyak 350 UMKM yang akan disasar mendapatkan sertifikasi halal.
Ada kepedulian Airnav dalam melindungi satwa langka dan hampir punah di Indonesia. Misalnya, perhatian Airnav dalam melindungi Elang Flores yang merupakan endemic di NTT. Juga menyelamatkan dan membangun konservasi kura-kura leher ular rote. Penyelamatan dan konservasi ini dibangun dengan pola keterlibatan masyarakat lokal setempat, agar seluruh masyarakat memiliki mindset dan rasa memilkii dan kepedulian untuk melindungi ke dua hewan yang sudah hampir punah di habitatnya.
Foto: Ilmiahku.com
