
Jakarta, businessnews.id — Pada Jumat (21/2) di Jakarta, Republik Indonesia, Ketua Umum Perbanas (Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional) Sigit Pramono mengatakan sebagai berikut ini. Bahwa jika berkaca pada sejarah terjadinya krisis keuangan, bisa dikatakan bila rentang waktu terjadinya krisis semakin pendek. Sehingga, siklus krisis diperkirakan lebih singkat. Bahkan Indonesia berpotensi menciptakan krisis ekonomi yang lebih buruk pada 2016.
Menurutnya, generasi yang sekarang hidup pada era krisis yang semakin sering; interval dari satu krisis ke krisis lainnya semakin pendek. “Dulu kita kenal krisis Melanesia di tahun 1930, kemudian di tahun 1965, dan berulang di 1998. Kini semakin singkat. Krisis di tahun 2008, lalu terjadi lagi di 2013.”
Situasi krisis di setiap periode menunjukkan karakter yang berbeda baik secara ekonomi maupun sosial. “Krisis 1998 berbeda dengan krisis 2008. Krisis di 1998 sangat kasat mata, karena krisis ekonomi dibarengi krisis politik yang memicu keresahan sosial,” ujarnya.
Dengan demikian, lanjut dia, secara umum masyarakat menilai bahwa di 2008 tidak terjadi krisis ekonomi. Padahal, jelas Sigit, pada 2008 terjadi krisis karena Rupiah tertekan, likuiditas perbankan ketat, dan sebagian besar indikator makro ekonomi melemah. (ZIZ)
EDITOR: DHI