Jakarta, TopBusiness – Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatatkan penerbitan surat utang di Indonesia mengalami penurunan sebesar 36,77% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 45,99 triliun pada semester I/2023.
Hala ini seperti disebutkan Kepala Divisi Pemeringkatan Korporasi Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Niken Indriasih saat konferensi pers virtual, di Jakarta, Selasa (18/7/2023). Menurut dia, faktor eksternal maupun internal berperan bagi penurunan surat utang tersebut.
“Ketidakpastian global akibat ketegangan politik masih menjadi alasan keengganan para pelaku usaha menerbitkan surat utang. Sementara alas an lainnya adalah kekhawatiran inflasi yang membuat The Fed cenderung menaikkan suku bunganya, sehingga membuat penerbitan surat utang menjadi kian mahal,” ujar dia.
Dijelaskannya, sektor yang paling banyak menerbitkan surat utang pada semester pertama adalah multifinance dengan capaian sebesar Rp15,11 triliun. Angka ini didominasi oleh obligasi atau bonds sebesar Rp13,6 triliun dan sukuk sebesar Rp1,5 triliun.
Sementara itu, sektor modal ventura menjadi yang paling sedikit meluncurkan surat utang. Secara rinci, penerbitan surat utang nasionalnya pada semester I/2023 berkisar di angka Rp240 miliar.
Sebelumnya, Pefindo juga mengaku sudah mengantongi mandat pemeringkatan surat utang senilai Rp61,30 triliun hingga akhir Juni 2023. Mandat tersebut berasal dari 41 perusahaan, baik berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ataupun non BUMN.
Pefindo mencatatkan penerbitan obligasi korporasi per Juni 2023, berasal dari 23 perusahaan non BUMN sebesar Rp 36,64 triliun. Sedangkan, 18 perusahaan BUMN menerbitkan surat utang sebesar Rp 24,66 triliun.
Perusahaan dari sektor industri bubur kertas dan tisu memiliki rencana emisi terbesar yaitu Rp 16,63 triliun. Disusul sektor perbankan Rp 7,6 triliun, sektor pertambangan Rp 7 triliun, multifinance Rp 5,6 triliun, serta perusahaan induk sebesar Rp 3,9 miliar.
Dari jenis penerbitan surat utang, Pefindo memeringkatkan jenis penawaran umum berkelanjutan (PUB) obligasi sebesar Rp 25,69 triliun, PUB obligasi Rp 14,05 triliun dan sukuk Rp 10,49 triliun.
“Perencanaan emiten di tahun ini cukup besar sebenarnya meskipun jumlah penerbitan surat utang hanya sedikit. Beberapa surat utang antara lain sudah terbit, namun sayangnya tidak diserap oleh investor sepenuhnya,” ungkap Direktur Utama Pefindo, Irmawati Amran, beberapa hari sebelumnya.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah penerbitan surat utang korporasi secara nasional sebesar Rp 46.31 triliun. Jumlah tersebut turun 36% dari penerbitan surat utang korporasi pada semester I-2022 yang tercatat sebesar Rp 72.73 triliun.
