Jakarta, TopBusiness – Hadir memberikan presentasi pada sesi penjurian TOP GRC Awards 2023, PT Pupuk Kujang mengungkap, sejumlah hal menarik seputar serta kinerja bisnis, dan tentu saja terkait juga dengan penerapan GRC perusahaan.
Antusiasme PT Pupuk Kujang pada sesi penjurian TOP GRC Awards 2023 kali ini juga begitu terlihat dari kehadiran segenap pucuk pimpinan perusahaan dengan hadirnya unsur direksi maupun komisaris. Pada kesempatan ini, Maryadi selaku Direktur Utama PT Pupuk Kujang juga turut memberikan paparan terkait kinerja produsen pupuk yang berdiri sejak tahun 1975 ini.
Sekilas mengenai PT Pupuk Kujang, sebagai perusahaan penghasil pupuk perusahaan ini diketahui memiliki pabrik urea dengan kapasitas 1,1 juta ton/tahun, pabrik ammonia dengan kapasitas 660 ribu ton/tahun,dan pabrik NPK dengan kapasitas 200 ribu ton/tahun.
Kinerja Bisnis
Dari sisi kinerja, tercatat dalam dua tahun terakhir, Pupuk Kujang berhasil meraih torehan positif dengan perolehan laba yang terus meningkat.
”Terkait kinerja tahun 2021 dan 2022, kami sampaikan bahwa tahun 2021 dalam bidang keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember 2021, PT Pupuk Kujang secara konsolidasi membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 527,829 miliar dengan posisi keuangan per 31 Desember 2021 ditutup sebesar Rp 9,166 triliun dan posisi kas dan setara kas sebesar Rp 1,137 triliun. Kemudian di tahun 2022 mengalami peningkatan secara konsolidasi di tahun berjalan meningkat laba kita menjadi Rp 1,072 triliun dengan posisi keuangan per 31 Desember 2022 ditutup sebesar Rp 9,461 triliun dan posisi kas dan setara kas sebesar Rp 1,288 triliun,” ungkap Maryadi di hadapan dewan juri.
Secara persente, disebutkan bahwa kinerja bisnis pada tahun 2022, laba perusahaan yang sebesar Rp1,072 triliun ini, tercatat hasil ini mengali peningkatan 377% dari RKAP di tahun 2022.
”Kontribusi laba diperoleh dari tingginya realisasi pendapatan dan penjualan sebesar 111% dari RKAP sampai dengan Desember 2022. Dan urea non subsidi tonasenya juga naik 200%, nilai penjualan 348%. Kemudian terkait dengan tonase kita juga ada peningkatan di amoniak sebesar 112% dan juga nilai penjualannya di amoniak 214%,” jelas Maryadi.
Tidak hanya itu rendahnya realisasi beban penjualan sebesar 90% dari RKAP dan adanya efisiensi biaya-biaya promosi dan pemasaran juga menjadi faktor lain dari meningkatnya laba perusahaan di tahun 2022.
Tak ayal dengan capaian kinerja yang demikian, performa keuangan perusahaan disebut dalam posisi hijau. ”Performa keuangan kita semuanya posisi hijau, baik EBITDA sebesar Rp1,8 triliun, CFO sebesar Rp1,2 triliun, kemudian ada utang kita Rp415 miliar, dan Debt to EBITDA juga kondisinya hijau semuanya,” ujar Maryadi.
Pada kesempatan ini, Maryadi juga mengungkap perihal milestone strategis perusahaan dari tahun 2020 hingga 2024, mulai dari operasionalisasi pabrik CO2, pembentukan pabrik katalis, program pembangunan gudang urea curah, pembangunan pabrik Dry Ice, pembangunan pabrik NPK Nitrat, hingga Engineering & procurement revamping ammonia K1A.
Maryadi berharap upaya yang dilakukan perusahaan ini bisa meningkatkan kinerja korporasi di tahun-tahun berikutnya, sehingga perusahaan ini bisa sustain menghadapi tantangan-tantangan ke depan.
“Jadi, secara komersial kami mempersiapkan seperti itu,” ujarnya.
Penerapan GRC
Berkaitan dengan penerapan GRC, dari sisi kelengkapan dan infrastruktur, Pupuk Kujang telah memiliki struktur organisasi terkait GRC yang memadai.
“Struktur tertingginya adalah RUPS. Dari sisi pengawasan di dewan komisaris ini ada tiga komite yang dibentuk. Yang pertama adalah Komite Audit, kemudian Komite Nominasi dan Remunerasi, serta Komita Pemantau Manajemen Risiko dan GCG. Dari sisi operasional (direksi) ini juga membawahi ada Satuan Pengawas Intern (SPI), kemudian Sekretaris Perusahaan, dan Unit Kerja Lain. Sekretaris Perusahaan juga membawahi ada Fungsi Tata Kelola, Manajemen Risiko dan Kepatuhan itu di Departemen MRTIK dan Departemen Hukum dan Administrasi Perusahaan,” ujar Ade Cahya Kurniawan, Sekretaris Perusahaan dan Tata Kelola PT Pupuk Kujang.
Berlanjut dalam implementasi GCG dan Manajemen Risiko, Pupuk Kujang juga telah menerapkan Three Lines Model, yang terdiri dari pertahanan lapis pertama adalah di user atau Unit KErja yang bertugas untuk menjaga lingkungan pengendalian yang kondusif, kemudian juga konsistensi pelaksanaan kebijakan dan prosedur manajemen risiko, dan pengendalian internal yang efektif.
Kemudian Pertahanan lapis kedua dari Departemen Manajemen Risiko dan Tata Kelola yang bertugas untuk mengembangkan dan memantau manajemen risiko perusahaan secara keseluruhan. Kemudian memonitoring dan melaporkan risiko-risiko perusahaan secara keseluruhan, serta memastikan penerapan risiko sesuai standar/ prosedur yang berlaku di perusahaan.
Pertahanan Lapis Ketiga adalah di SPI (Satuan Pengawas Intern) yang bertugas untuk melakukan review atas implementasi manajemen risiko yang diterapkan di perusahaan. Kemudian memastikan bahwa fungsi manajemen risiko dan fungsi proses bisnis unit kerja telah berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Masih terkait penerapan GRC, Pupuk Kujang juga sudah menerapkan apa yang disebut sebagai Sistem Manajemen Terintegrasi yang mencakup di antaranya Sistem Manajemen Keamanan Pangan (FSSC 22000), Sistem Manajemen Lingkungan (ISO 14001:2015), Sistem Manajemen K3, Sistem Manajemen Laboratorium (ISO 17025:2017), Sistem Manajemen Energi (ISO 50001:2018), Sistem Manajemen Pengamanan, dan Sistem Manajemen Mutu (ISO (9001:2015), dan menerapkan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (ISO 37001:2016).
“Untuk Implementasi GCG dan Manajemen Risiko, dapat kami sampaikan di tahun 2022 ini Alhamdulillah skor Assessment GCG di 95,26. Memang di tahun 2022 ini (kita) menggunakan asesor internal dan di tahun 2023 ini kita akan diases oleh BPKP. Kami dapat sampaikan ada lonjakan yang cukup signifikan di tahun 2020 di mana asesor yang sama ini kita tahun 2020 hanya mendapatkan 91,6, dan di tahun 2022 ini kita melonjak menjadi 95,26,” ungkap Ade Cahya.
Sementara untuk penerapan Maturitas Manajeman Risiko, Pupuk Kujang mendapatkan skor sebesar 3,05 di tahun 2022. “Ini memang naik dari penerapan tahun 2020, yaitu 3,0,” singkatnya.
Lebih jauh Ade Cahya juga mengungkap sejumlah inisiatif perusahaan, seperti penerapan BCMS atau Business Continuity Management System (ISO 22301) di tahun 2022 untuk mengantisipasi keberlangsungan usaha PKC dalam situasi darurat agar Perusahaan dapat senantiasa sustain.
Lalu, berikutnya Pupuk Kujang juga menerapkan Fraud Control System (FCS), di mana di tahun 2023 perusahaan berencan untuk melakukan perluasan FCS menjadi sepuluh unit kerja yang ada di PT Pupuk Kujang.
Tidak berhenti sampai di situ, Ade Cahya juga mengatakan bahwa perusahaan juga sudah menerapkan Risk Management Dashboard (SIMRISK) yang bisa diakses seluruh karyawan melalui notebook atau melalui HP Android.
Pada tahun 2022 juga PKC Bersama PT Pupuk Indonesia (Persero) telah dilakukan updating aplikasi penilaian GCG (SIAP) sehingga semakin memudahkan untuk upload evidence namun juga disertai fitur penilaian mandiri sehingga diketahui progress penilaian sebelum penilaian asesor eksternal dilakukan.
“Satu lagi Whistle Blowing System juga sudah terintegrasi dengan Pupuk Indonesia Group. Dan sistem WBS ini terus kita tangkap dan terus kita laporkan. Untuk gratifikasi Online, ini kita melalui web KPK, ini juga selalu secara periodik kita laporkan,” ujar Ade Cahya.
Adapun untuk Pakta Integritas, hal ini diterapkan tidak hanya untuk karyawan organic saja, tetapi juga untuk karyawan nonorganic dan sudah dilakukan secara online yang bisa dilakukan melalui Super App bernama DEMPLON singkatan dari Digital Employee Dedication.
“Untuk kepatuhan LHKPN di tahun 2022, Alhamdulillah wajib lapor LHKPN ini yang terdiri 246 orang, terdiri dari Dewan Komisaris, Direksi, Karyawan Eselon 1 sampai Eselon 3 ini sudah melaporkan sebelum akhir Maret tahun 2023,” pungkasnya.
Penulis: Fauzi
