Jakarta, TopBusiness – PT Prima Layanan Nasional Enjiniring alias PLNE kembali terpilih menjadi satu dari sekitar 600 perusahaan di Indonesia yang masuk menjadi finalis TOP GRC Awards.
Terkait hal tersebut, anak perusahaan PT PLN (Persero) ini beberapa waktu lalu mengikuti sesi presentasi dan wawancara penjurian TOP GRC Awards 2023 yang dilakukan secara daring.
Tim dari PLNE yang hadir dalam penjurian ini antara lain Direktur Utama PLNE Chairani Rachmatullah, Fritz Edward Siregar (Komisaris Independen), Martono (Direktur Keuangan dan SDM), Muhammad Firmansyah (Direktur Enjiniring), Kurnia Rumdhony (Direktur Pemasaran dan Pengembangan Usaha), Katherine Amaranila (Sekretaris Perusahaan), Hanung Natendra Sukandrio (Kepala Satuan Manajemen Mutu dan Risiko), serta Oka Hadisasmita (Kepala Satuan Pengawas Internal).
Dalam materi presentasinya yang berjudul Building resilient future through ESG & GRC, Chairani menjelaskan bahwa PT PLNE merupakan perusahaan yang bergerak di bidang konsultansi enjiniring ketenagalistrikan yang berdiri pada 2002.
Peran dari PLNE adalah mendukung PLN selaku induk perusahaan dalam meningkatkan produktivitas dan pemenuhan kebutuhan enjiniring di sektor ketenagalistrikan yang mencakup seluruh tahapan mulai dari planning, construction and operation. “Jadi PLNE sebagai provider power solution,” ujar Chairani.
Hal itulah yang membuat perolehan kontrak jasa enjiniring PLNE selama ini masih didominasi oleh kontrak dari PLN (Persero). Tahun 2022, nilai kontrak jasa dari PLN mencapai Rp 270,33 miliar ketimbang non-PLN Group yang hanya Rp 13,31 miliar. Sepanjang tahun 2022, PLNE mampu menambah 25 pelanggan baru. Sekitar 35 persen dari total penjualan merupakan produk pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
Dari sisi keuangan, menurut Chairani, kinerja PT PLNE tahun lalu tumbuh cukup baik, terutama dari sisi pendapatan yang mencapai Rp 536 miliar, melampaui target dalam RKAP 2022 yang sebesar Rp 431 miliar.
“Kenaikan signifikan berasal dari pendapatan enjiniring dan pendapatan jasa pengembangan enjiniring, masing-masing 25 persen dan 22 persen lebih besar dari target RKAP tahun 2022,” ujar dia.
Sedangkan bila dibandingkan dengan tahun 2021, pendapatan PLNE ada penurunan yang disebabkan oleh aksi korporasi share swap PT PPN dan PT PT Rekadaya Elektrika Consult (REC).
Tahun 2022, PLNE juga berhasil melakukan efisiensi yang terlihat dari beban operasi yang turun signifikan dari Rp 756,543 miliar pada 2021 menjadi Rp 460,42 miliar. Hal itulah yang mendorong laba perseroan tahun 2022 meningkat jadi Rp 86,043 miliar, ketimbang Rp 63,443 miliar pada 2021.
Dengan kinerja keuangan yang prima, kontribusi PLNE terhadap PLN (Persero) pun membaik. Tahun 2022, PLNE berkontribusi melakukan pembayaran dividen secara tunai sebesai 100 persen dari laba bersih 2021.
Sementara itu, kas dan setara kas Perseroan tahun 2022 terbesar sepanjang tiga tahun terakhir, dengan persentase pada cash on hand sebesar 53 persen dan notional polling sebesar 47 persen atau Rp 238 miliar.
Kontribusi pada pendapatan beyond kwh Perseroan mencapai 128 persen dari target yang telah ditetapkan dengan margin laba sebesar 52 persen dari total pendapatan. Perseroan juga telah berkontribusi dengan maintenance NAC sebesar 5 persen dari total biaya operasi.
Implementasikan GRC
Keberhasilan PLNE menorehkan performa yang mumpuni tak terlepas dari komitmen manajemen dalam mengimplementasikan governance, risk management, dan compliance management (GRC).
Untuk mendukung pelaksanaan GRC, PLNE telah memiliki komite atau organ mulai dari BoC (Komisaris), BoD (Direktur), Pemrakarsa (Business Process Owner), Governance dan Compliance (Pengulas), dan Pengawas Internal.
“Jajaran direksi kami juga telah tersertifikasi GRCP (Governance, Risk, Compliance Professional),” kata Chairani.
Pelaksanaan GRC di PLNE juga didukung oleh regulasi internal dan ekternal yang diterapkan perusahaan. PLNE juga sudah menerapkan GCG secara konsisten dan telah dinilai oleh BPKP dengan skor 88,309 pada 2022. “Kami juga sudah menerapkan WBS atau wistle blowing system,” ujarnya.
PLNE juga memiliki beberapa aplikasi pendukung implementasi GRC antara lain KMS (Knowledge Management System), DLI (Document Legal Information), SmartShare Enterprise, ada pula aplikasi Taker (Tata Kelola, Kepatuhan dan Risiko, Risk Monitoring and Early Warning System) dan aplikasi DM PLN-E (Directory Management).
Selain aplikasi-aplikasi tersebut, PLNE juga memiliki dashboard management, laporan survei kepuasan pelanggan, dan web PLN enjinering.
