
Denpasar-Thebusinessnews. Kebutuhan invetasi di efek ekuitas pada tahun diperkirakan akan mencapai Rp100 triliun. Kebutuhan itu hanya datang dari Dana Pensiun, Industri Asuransi dan Reksadana.
Hal itu disampaikan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio di Denpasar, Sabtu(1/10/2016),”Dari Industri Dana Pensiun, Asuransi dan Reksadana saja butuh efek ekuitas untuk investasi senilai Rp100 triliun,” ujar dia.
Jelasnya, Tito menyebutkan industri dana pensiun akan mengalihkan dana investasinya ke saham hingga Rp40 triliun.Sebab saat ini hanya 13% dari Rp217 triliun dana kelolaan Dana Pensiun masuk ke saham.” Padahal mereka butuh imbal hasil diatas 10% maka mereka harus tambahkan hingga 34% dana investasinya ke saham,” ujar dia.
Sehingga akan ada pengalihan investasi pendapatan tetap ke saham dan ditambah pertumbuhan investasi sebesar 4% sehingga butuh efek saham senilai Rp48 triliun.” Itu untuk total dana pensiuan di Indonesia,” ujar dia.
Selanjutnya, industr asuransi kata Tito butuh tambahan invetasi di efek ekuitas sebesar Rp25 triliun.Kebutuhan itu berasal dari pertumbuhan 18% dan Rp150 triliun telah dinvestasikan ke efek ekuitas dan dengan pertumbuhan 15% “Kalau 15% saja maka ada tambahan Rp25 triliun investasi ke saham,” terang dia.
Sementara Reksadana dengan tambahan nilai dana kelolaan mencapai Rp150 triliun dan 10%nya di investasikan ke efek ekuitas maka ada Rp10 triliun tambahan kebutuhan efek ekuitas.” Jika ditotal sekitar Rp90 triliun hingga Rp100 triliun saja dari institusi,” terang dia.
Untuk memenuhi ketersedian tersebut menjadi tugas BEI.” Uang sudah ada, tinggal nambah suply,”ujar dia. Sembari menambakan bahwa pihaknya terus mendorong BUMN dan anak usaha BUMN serta perusahaan swasta mengalang dana melalui proses IPO.(az)