Jakarta, TopBusiness – PT Digital Aplikasi Solusi atau yang akrab disebut Digiserve merupakan perusahaan yang bergerak di bidang ICT atau TIK (Teknologi Informasi Komunikasi). Digiserve merupakan Perusahaan cucu dari Telkom Group atau anak dari Telkom Metra.
“Kami ini adalah anak perusahaan di bawah Telkom Metra yang didirikan pada tahun 2014, semula merupakan perusahaan patungan (JV/joint venture) antara Telkom dan Telstra. Terhitung 1 September 2021 seluruh saham diakuisisi sepenuhnya oleh Telkom Metra. Jadi kita ini cucunya Telkom,” ungkap Buddy Restiady, Finance & Risk Management Director yang juga menjabat sebagai Plt Direktur Utama Digiserve.
Pernyataan Buddy ini disampaikan saat mengikuti penjurian TOP Human Capital (HC) Awards 2024 yang digelar majalah TopBusiness, pada Jumat (20/9/2024) lalu, secara online. Hadir dalam penjurian kali ini untuk mendampingi Buddy Restiady adalah Nieke L Garnia selaku Vice President Human Capital Digiserve dan Nani sebagai Senior Manager Human Capital Digiserve.
Digiserve sendiri menjadi salah satu finalis di ajang penghargaan TOP HC Awards 2024 ini. Dalam proses penjurian TOP HC kali ini, Buddy membeberkan sederet kiprah pengembangan HC yang sudah dijalankan Perusahaan selama ini. Hal ini juga yang disebutnya sebagai pembeda dengan Perusahaan lain terkait pengelolaan HC ini.
“Kami mengusung tema ‘Boost Employee Capability and Productivity to Maximize Corporate Value’. Jadi bagi kami, lebih memilih untuk memaksimalkan corporate value-nya, karena kalau value-nya itu sudah cukup tinggi bisnis itu akan mengikut saja. Makanya, apa sih Digiserve ini yang beda dalam hal pengelolaan HC-nya? Setidaknya ada lima hal dalam pengelolaan HC ini,” beber dia.
Pertama, dia menerangkan, terkait dengan digitalisasi. Nama Perusahaan sendiri adalah sangat digital, yaitu PT Digital Aplikasi Solusi. Tentu saja, kata dia, dalam implementasi pengembangan HC-nya ada beberapa aplikasi yang sudah digitalize untuk memudahkan operasional sehari-harinya.
Lalu kedua, terkait pengembangan program inclusive dan diversity. Sehingga, program-program di HC ini lebih menyasar kepada golongan minoritas di Perusahaan agar terus bisa tetap eksis dan dapat berkompetisi di internal Digiserve, dari berbagai level.
Kemudian ketiga, yang cukup menarik adalah adanya open communication di Perusahaan. Disebut Buddy, para karyawan ini bisa bertanya ke manajemen, termasuk bertanya ke top level secara terbuka melalui suatu mekanisme ‘anonymous box’. “Di sini, dari top level itu dapat menjawab apa saja dari pertanyaan-pertanyaan karyawan itu yang ditanyakan melalui ‘anonymous box’. Selain itu ada juga HC Clinic, ini sarana komunikasi ke teman-teman di HC,” ujar Buddy.
Keempat, ada bentuk penilaian terhadap karyawan yang dinilai secara 360 derajat atau namanya 360 Performance Review. “Ini konteksnya adalah lebih ke penilaian performance para karyawan,” ucapnya. “Dan yang kelima atau terakhir adalah alignment pengelolaan HC ini to support the business. Untuk mendukung bisnis. Ini lebih meningkatkan value di korporasi,” jelas dia.
Kinerja dan Pengelolaan HC
Lebih detail dijabarkan Buddy, secara bisnis, Digiserve sendiri merupakan Perusahaan yang memiliki tiga produk portofolio, yaitu manage network and security service, managed digital productivity, dan managed cloud service.
Saat ini, total talent atau karyawan di Digiserve sebanyak 150 talent, yang ditopang oleh 220 lebih sertifikasi (dengan asumsi satu orang biasanya memiliki 3-5 sertifikasi untuk mendukung atau men-support bisnis), dan memiliki proyek sekitar 400-an dengan me-manage lokasi di customer sekitar 14 ribu. Dan terdiri dari 200-an lebih pelanggan.
“Sepanjang 2023 lalu, kinerja kami berhasil mencatatkan sebanyak 362 kontrak pekerjaan dengan nilai total Rp413 miliar. Dengan revenue layanan MNS SDWAN (Software Defined Wide Area Network) tumbuh sebesar 26% dibandingkan 2022 seiring dengan penambahan sebanyak 2.000 site baru,” tegasnya.
“Adapun untuk Net Income secara bisnis tumbuh sebesar 54,7% dibandingkan tahun 2022 dengan improvement pada Gross Profit Margin. Jadi, perusahaan ini sedang emerging dan beberapa produk sedang banyak di kita. Dan improvement ini beberapa dilakukan di HC juga,” ujarnya.
Makanya performa apik di bisnis ini tak lepas dari kondisi pengelolaan HC yang terus membaik. Beberapa indikatornya itu seperti, mempertahankan Employee Engagement Score di angka 80.83%. Angka ini relative tinggi, karena memang di Telkom Group ini, kata dia, employee engagement harus tinggi. Juga adanya Great Place To Work (GPTW) Certification yang diikuti di tahun 2023 dan 2024 ini.
Plus, kata dia, saat ini untuk tingkat turnover rate mengalami penurunan dari 17% (2022) menjadi 10% (2023). “Ini tentu menjadi kabar baik. Dan mostly itu, mereka yang keluar (resign) dari kami karena adanya offering (penawaran) dari luar yang lebih baik. Bahkan itu offering-nya, yang kami tahu, ada juga yang terlalu tinggi, bahkan [level] yang di atasnya saja lewat. Baru mereka pindah,” terangnya.
Kembali Buddy menambahkan, salah satu pengelolaan dalam ranah HC yang diunggulkannya, salah satunya adalah terkait Reward & Performance Management. Dan ini dilakukan secara digital. Yaitu Objective Key Result (OKR) Methods untuk penilaian per individu dan 360 Performance Review atau penilaian secara holistik.
Penilaian 360 Performance Review ini, disebut dia, cukup unik. Pasalnya, untuk kinerja karyawan dinilai dari berbagai sisi. Baik dinilai dari atasan, dinilai dari samping atau orang selevelnya, juga dinilai dari bawahannya (kalau level manajerial).
“Sehingga kita harapkan kinerja seseorang itu tidak hanya dari OKR atau penilaian secara numbers (angka statistik), tapi penilaian kinerja menurut stakeholder di sekitarnya seperti apa, juga ada. Ini yang kita lakukan saat ini. Jadi penilaian ini benar-benar fair dan unik. karena penilaian ini tidak ada paksaan dan tidak ada tekanan, baik dari atasan, bawahan atau pun dari samping, bisa menilai orang tersebut secara fair,” tegasnya. “Dan impact-nya Perusahaan tentu akan memberikan reward berupa kenaikan remunerasi tahunan, performance bonus, dan sales incentive plan.”
Dari penilaian tersebut, tegas Buddy, Digiserve memiliki program pengembangan HC-nya, berupa Coaching & Mentoring. Selain itu, jika hasil penilaiannya masih kurang dari yang diharapkan bisa dilakukan Performance Improvement Plan (PIP), dan jika hasilnya bagus dilakukan Promosi Jabatan.
“Dan intinya, strategi dan pengembangan bisnisnya adalah secara simple berupa business follow the money, strategy follow the business, dan talent & organization follow strategy,” ungkap dia.
Maka dari itu, beberapa strategi bisnis Perusahaan tersebut akan menghasilkan transformasi organisasi berdasarkan strategi dan portfolio bisnis perusahaan dan tentu saja akan didukung oleh program-program pendukung dari HC. Seperti program job description regular update sampai dengan level Senior Manager, lalu ada Succession Plan Program untuk persiapan talent pool untuk VP dan Senior Manager, ada program Grow from within, juga GTE (Group Technical Expert) program, dan terakhir digitalisasi end to end business process.
