Jakarta, TopBusiness—Dana hasil efisiensi anggaran yang kini dilakukan pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto, sebaiknya dialihkan dengan skema tertentu. Yakni, dialihkan ke hal-hal yang bersifat efek berganda. “Semula, kan anggaran tersebut digunakan untuk perjalanan dinas, belanja ATK (alat tulis dan kantor), dan sejenisnya,” kata ahli ekonomi dari Indef, Eko Listianto, hari ini, dalam diskusi Zoom gelaran Indef.
Eko mengatakan bahwa, bila dana hasil efisiensi itu digunakan dengan tepat, tentu proses efisiensi itu bukanlah sebuah permasalahan. “Dana tersebut perlu relokasi ke hal yang mendorong efektivitas perekonomian kita,” ia menegaskan.
Dalam hal dorongan tersebut, menjadi kurang cukup bila dana itu sekadar digunakan untuk Program Makan Bergizi Gratis. “Jadi, dana tersebut harus realokasi ke sektor efek berganda, dan tidak semata untuk aspek politik.”
Ia pun menegaskan, “Bila dana hasil efisiensi itu dialokasikan dengan tepat ke sektor efek berganda, maka pertumbuhan ekonomi kita tak akan terganggu.”
Perekonomian Indonesia ternyata tak tumbuh sesuai target pada tahun 2024. Adapun di asumsi makro APBN, pertumbuhan ekonomi ditargetkan di 5,20% di tahun 2025.
Penciptaan lapangan kerja menjadi sangat perlu untuk memerbaiki daya beli masyarakat Indonesia. “Hal itu menjadi yang terpenting untuk dilakukan.”
