Jakarta, TopBusiness – Di tengah upaya pemulihan kinerja dan penguatan fundamental keuangan, PT Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Artha Kanjuruhan (Perseroda) Kabupaten Malang tetap menunjukkan komitmen yang konsisten terhadap penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG).
Komitmen BPR diwujudkan melalui berbagai program strategis yang tidak hanya mendukung keberlanjutan operasional perusahaan, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan.
Direktur Utama BPR Artha Kanjuruhan, PY Santoso, SE, MM, atau akrab disapa Santoso menegaskan bahwa keberlanjutan bukanlah agenda tambahan, melainkan bagian integral dari strategi pemulihan dan transformasi perusahaan.
“Bagi kami, pemulihan kinerja dan keberlanjutan harus berjalan seiring. Kami tidak ingin fokus pada perbaikan angka semata, tetapi juga memastikan bahwa BPR Kanjuruhan hadir secara bertanggung jawab bagi lingkungan, masyarakat, dan tata kelola perusahaan,” ujar Santoso kepada Dewan Juri TOP BUMD Awards 2026 yang berlangsung secara online melalui aplikasi zoom meeting, di Jakarta, Senin (26/01/2026).
Dari aspek lingkungan (environmental), BPR Artha Kanjuruhan telah melakukan langkah nyata melalui transformasi digital dalam seluruh proses operasional perbankan. Penerapan sistem perbankan berbasis digital dan real-time secara signifikan menekan penggunaan kertas, sekaligus meningkatkan efisiensi kerja.
Seluruh aktivitas transaksi, pencatatan, pelaporan, hingga dokumentasi internal kini dilakukan secara elektronik. Langkah ini berdampak langsung pada pengurangan kebutuhan pencetakan dokumen fisik, termasuk slip transaksi dan laporan operasional.
“Sejak kami menerapkan sistem digital secara menyeluruh, penggunaan kertas turun sangat signifikan. Bahkan dalam lebih dari satu tahun terakhir, kami tidak lagi melakukan pencetakan ulang slip transaksi karena seluruh proses sudah berbasis sistem digital,” jelas Santoso.
Selain ramah lingkungan, digitalisasi juga berkontribusi terhadap efisiensi energi operasional. Proses kerja yang sebelumnya memerlukan aktivitas manual, mobilitas fisik, dan waktu yang panjang, kini dapat dilakukan secara lebih cepat, terintegrasi, dan efisien.
Menurut Santoso, efisiensi ini menjadi penting bagi BPR yang sedang berada dalam masa pemulihan, karena mampu menekan biaya operasional tanpa mengurangi kualitas layanan kepada masyarakat.
Dalam aspek tata kelola perusahaan (governance), BPR Artha Kanjuruhan menempatkan transparansi, kepatuhan, dan akuntabilitas sebagai fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik.
Perusahaan memastikan seluruh laporan keuangan dan laporan kinerja disampaikan tepat waktu kepada pemerintah daerah selaku pemegang saham serta kepada regulator sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain itu, BPR Kanjuruhan juga secara rutin menyampaikan laporan operasional dan kepatuhan sebagai bagian dari pengawasan internal dan eksternal.
“Kami memahami bahwa sebagai BPR milik daerah, akuntabilitas kepada pemilik dan masyarakat adalah hal yang mutlak. Karena itu, ketepatan waktu pelaporan dan keterbukaan informasi menjadi komitmen yang terus kami jaga,” tegasnya.
Sebagai bagian dari prinsip transparansi, BPR Artha Kanjuruhan juga menyediakan informasi layanan dan pengaduan nasabah secara terbuka. Standar operasional prosedur (SOP) pengaduan nasabah disosialisasikan melalui media resmi perusahaan agar mudah diakses oleh masyarakat. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap keluhan dan masukan dari nasabah dapat ditangani secara cepat, terukur, dan profesional.
Pada aspek sosial (social), BPR Artha Kanjuruhan memilih untuk memfokuskan program tanggung jawab sosial pada kegiatan yang bersifat edukatif dan berkelanjutan. Salah satu program utama yang dijalankan adalah literasi keuangan bagi anak-anak sekolah dasar. Program literasi tersebut dikemas dalam kegiatan bertajuk “Satu Bulan Satu Literasi”, di mana setiap bulan jajaran BPR Artha Kanjuruhan secara rutin mengunjungi sekolah-sekolah dasar di wilayah Kabupaten Malang untuk memberikan edukasi keuangan dasar.
Materi yang disampaikan disesuaikan dengan usia dan pemahaman anak-anak, meliputi pengenalan uang, pentingnya menabung, perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, serta kebiasaan mengelola keuangan sejak dini.
“Literasi keuangan tidak harus dimulai ketika seseorang sudah dewasa. Justru akan jauh lebih efektif jika ditanamkan sejak usia dini. Kami ingin anak-anak memiliki pemahaman dasar yang benar tentang uang dan kebiasaan menabung,” ujar Santoso.
Menurutnya, program literasi keuangan merupakan bentuk investasi sosial jangka panjang yang manfaatnya tidak selalu langsung terlihat, tetapi sangat penting dalam membangun generasi yang lebih bijak secara finansial.
Sejalan dengan program literasi, BPR Artha Kanjuruhan juga menjalankan program edukasi menabung bagi anak sekolah dasar dengan tagline “Menyisakan VS Menyisihkan”. Program ini dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan sepanjang tahun 2025. Tagline tersebut dipilih untuk memberikan pesan sederhana namun kuat kepada anak-anak mengenai pentingnya menyisihkan sebagian uang yang dimiliki, dibandingkan menghabiskannya untuk kebutuhan yang tidak prioritas.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa menabung bukan soal besar kecilnya nominal, tetapi soal kebiasaan. Dengan menyisihkan secara rutin, mereka akan belajar disiplin dan bertanggung jawab terhadap uang,” jelas Santoso.
Program ini tidak hanya disampaikan melalui sosialisasi satu arah, tetapi juga melalui interaksi langsung, diskusi ringan, dan contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak.
Fokus Dampak Jangka Panjang
Santoso mengakui bahwa kondisi keuangan BPR Kanjuruhan saat ini masih dalam tahap pemulihan. Oleh karena itu, perusahaan secara realistis menyesuaikan bentuk dan skala program tanggung jawab sosial yang dijalankan.
Alih-alih menggelar kegiatan bersifat seremonial atau jangka pendek, BPR Artha Kanjuruhan memilih program yang berdampak jangka panjang, berbiaya relatif efisien, namun memiliki nilai edukasi yang tinggi.
“Kami menyadari keterbatasan yang ada. Namun justru dari situ kami belajar untuk memilih program tepat sasaran dan berkelanjutan. Edukasi literasi keuangan adalah salah satu bentuk kontribusi yang paling relevan dengan peran kami sebagai BPR,” ujarnya.
Lebih lanjut, Santoso menegaskan bahwa penerapan prinsip ESG bukanlah beban tambahan bagi perusahaan, melainkan bagian dari strategi pemulihan dan penguatan kepercayaan publik.
Menurutnya, keberhasilan pemulihan tidak hanya diukur dari perbaikan indikator keuangan, tetapi juga dari kemampuan perusahaan dalam menjaga tata kelola yang sehat, membangun hubungan yang baik dengan masyarakat, serta berkontribusi positif terhadap lingkungan.
“Keberlanjutan adalah perjalanan jangka panjang. Kami ingin memastikan bahwa setiap langkah pemulihan yang kami lakukan hari ini tidak menimbulkan masalah di masa depan, tetapi justru menjadi fondasi kuat bagi BPR Kanjuruhan,” pungkasnya.
Dengan pendekatan tersebut, BPR Artha Kanjuruhan berharap dapat terus memperkuat perannya sebagai lembaga keuangan daerah yang tidak hanya sehat secara bisnis, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan berkelanjutan.

mantap bpr arthaaa, maju dan bangkit terus