TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Bangkit dari Krisis NPL dan ROA Minus, BPR Padang Pariaman Cetak Laba dan Aset Melesat dalam Setahun

Abi Abdul Jabbar Sidik
30 January 2026 | 11:10
rubrik: BUMD, Event
Bangkit dari Krisis NPL dan ROA Minus, BPR Padang Pariaman Cetak Laba dan Aset Melesat dalam Setahun

Jakarta, TopBusiness – PT BPR Pembangunan Kabupaten Padang Pariaman (PKPP) mencatatkan perbaikan kinerja yang solid sepanjang 2025, ditopang penguatan intermediasi kredit, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), serta penurunan rasio kredit bermasalah (NPL). Dalam pemaparan pada wawancara penjurian TOP BUMD Awards 2026 yang digelar Majalah TopBusiness secara daring, Rabu (28/1/2026), Direktur Utama PKPP Dedviandri menegaskan transformasi kinerja bank daerah itu berlangsung signifikan hanya dalam satu tahun.

Berdasarkan laporan per Desember 2025, total aset PKPP mencapai Rp17,300 miliar atau tumbuh 20,20% dibanding tahun sebelumnya Rp14,39 miliar. Penyaluran kredit juga meningkat 15,12% menjadi Rp13,193 miliar, sementara laba bersih tercatat Rp222,654 juta dengan capaian 105,23% dari target Rencana Bisnis Bank (RBB).

Dedviandri menyebut capaian ini menjadi momentum penting bagi PKPP sebagai BPR milik pemerintah daerah dalam memperkuat kepercayaan masyarakat dan menopang perekonomian lokal di Padang Pariaman.

Perbaikan Fundamental: ROA Berbalik Positif, BOPO Turun Tajam

Dedviandri mengungkapkan, ketika dirinya mulai bergabung pada November 2024, kondisi bank masih menghadapi tekanan berat, terutama dari sisi tingginya kredit bermasalah dan profitabilitas yang negatif.

“Yang pertama, saya bergabung di BPR ini tanggal 11 bulan 11 tahun 2024. Kondisi tutup buku kita waktu itu dengan ROA minus 2,42%. BPO berada di angka 125, interest margin 9,86, KPMM 69,99, NPL gross kita di angka 21,25, NPL net di angka 13,69, cash ratio 18,85, dan LDR 170,79%. Jadi saya masuk ke sini dalam kondisi NPL yang sangat tinggi,” kata Devdiandri mengawali sesi persentasinya.

Namun dalam setahun, sejumlah indikator utama berhasil dibalikkan. ROA bank berbalik menjadi positif 1,55%, sementara rasio efisiensi BOPO turun tajam menjadi 90,48%. NIM juga meningkat menjadi 10,82%, mencerminkan kemampuan bank mengoptimalkan pendapatan bunga.

BACA JUGA:   Perumdam Lawu Tirta Magetan Mantapkan Peran Sosial dan Profit dalam Layanan Air

“Sehingga ditutup buku tahun ini, posisi Desember 2025, kita bisa membukukan ROA menjadi plus 1,55. BPO itu 90,48%, ini sehat juga. NIM-nya 10,82, KPMM 62,59, NPL gross di angka 16,80, dan net-nya 12,31. Cash ratio 27,98, LDR-nya 159,25,” ujar dia.

Perbaikan ini sekaligus memperkuat likuiditas bank, dengan cash ratio naik menjadi 27,98%, memberikan ruang lebih besar dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.

Laba Bersih Tetap Positif, Pendapatan Operasional Melonjak Hampir 50%

Dari sisi kinerja keuangan, Devdiandri mengungkapkan BPR PKPP juga mencatat tren ekspansi yang kuat sepanjang 2025. Pendapatan operasional bank melonjak signifikan mencapai Rp2,67 miliar, naik dari Rp1,81 miliar pada tahun sebelumnya atau tumbuh 48,62%. Peningkatan ini terutama didorong oleh pendapatan bunga kredit yang mencapai Rp1,63 miliar, dengan realisasi melampaui target anggaran hingga 108%.

Di tengah peningkatan pendapatan tersebut, beban operasional tercatat naik menjadi Rp2,43 miliar atau tumbuh 7,40% dibanding tahun sebelumnya. Sejumlah pos biaya mengalami kenaikan tajam, seperti honorarium yang melonjak 56% serta beban lainnya yang meningkat ekstrem. “Meski demikian, bank tetap mampu menekan beban penyisihan kerugian kredit (PPAP) yang turun 20,36%, menandakan perbaikan kualitas aset mulai terbentuk,” tutur Devdiandri.

Pada akhirnya, kata dia, dalam kurun waktu satu tahun, BPR PKPP berhasil menjaga profitabilitas dengan membukukan laba bersih sebesar Rp222,654 juta, melampaui target RBB dengan capaian 105,23%. Walaupun laba berjalan turun dibanding tahun sebelumnya akibat tekanan biaya operasional, capaian ini tetap menunjukkan bank mampu keluar dari fase rugi dan kembali mencetak keuntungan secara berkelanjutan.

Capaian tersebut memperkuat posisi PKPP sebagai BPR milik Pemda yang tetap bertumbuh sehat di tengah tantangan efisiensi dan pengendalian biaya.

BACA JUGA:   Perumda Tirta Buana Bojonegoro Implementasikan Scada untuk Tingkatkan Kinerja Layanan

Strategi Jemput Bola dan Tim Kredit Tekan NPL

Dedviandri menjelaskan, salah satu kunci utama perbaikan kinerja PKPP adalah pembentukan tim kredit khusus yang fokus menangani pembiayaan bermasalah, sekaligus memperluas basis nasabah melalui strategi jemput bola.

“Yang saya lakukan yaitu membentuk tim kredit pertama. Membentuk tim kredit, turun ke lapangan, mengidentifikasi nasabah-nasabah kita yang bermasalah, lalu kita carikan jalan keluarnya yang terbaik, mencarikan solusi-solusi dari permasalahan mereka. Ini kita capai dengan trik yang tadi, yaitu membentuk tim kredit, mengidentifikasi satu per satu permasalahan yang ada, mencarikan solusi dan jalan keluarnya,” jelas dia.

Selain itu, PKPP juga melakukan perluasan wilayah layanan dan memaksimalkan karyawan untuk mendorong pertumbuhan DPK yang naik 22,49% menjadi Rp9,14 miliar. Pertumbuhan tabungan menjadi penopang utama, naik menjadi Rp5,32 miliar atau hampir mencapai 100% target anggaran.

Dedviandri menegaskan model layanan BPR yang berbasis jemput bola membuat PKPP mampu menyasar daerah-daerah yang belum tersentuh layanan perbankan.

“Kita ini di BPR sistemnya jemput bola. Jadi daerah-daerah yang belum tersentuh kita upayakan semaksimal mungkin. Kemarin kita berusaha untuk memecahkan, sebelumnya AO dan funding ini bersamaan. Jadi untuk maksimal, kita lakukan pemisahan dan memaksimalkan daerah-daerah yang belum tersentuh,” imbuh Devdiandri.

Ke depan, PKPP menyiapkan strategi memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, termasuk mendorong pembayaran TPP ASN eselon melalui PKPP untuk meningkatkan DPK sekaligus memperluas segmen kredit konsumtif yang lebih aman.

“Ke tahun 2026 ini kita punya mimpi. Setelah kita dekat dengan Pemda, kita telah melakukan studi tiru ke beberapa BPR Pemda, kita juga meminta campur tangan dari pemerintah daerah nanti supaya TPP dari eselon 1, 2, 3, 4 bisa dibayarkan di BPR kita. Dengan harapan ini bisa meningkatkan DPK kita,” pungkas dia

BACA JUGA:   Kinerja Sehat, Setoran PAD dan Laba PDAM Tirta Kencana Samarinda Meningkat

Sebagai BPR milik Pemda Padang Pariaman, PKPP berkomitmen memperkuat layanan keuangan masyarakat lokal dengan kualitas aset produktif yang semakin terjaga serta kinerja yang semakin sehat.

Tags: BPR Padang PariamanPT BPR Pembangunan Kabupaten Padang PariamanTOP BUMD Awards 2025TOP BUMD Awards 2026
Previous Post

MTDL Gandeng Alibaba Perkuat Layanan Cloud Terlengkap di Indonesia

Next Post

Cadangan Devisa Dikelola dengan Paradigma Baru

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR