Penerapan AI tidak selalu mensyaratkan infrastruktur canggih. Pada sejumlah bangunan yang belum memiliki building management system (BMS) mutakhir, AI tetap bekerja.
Apa sih yang kini tak luput dari rambahan deras sang kecerdasan buatan alias AI (artificial intelligence)? Hampir semua bidang telah ia mudahkan, bukan—terlepas dari kehadirannya sering memicu kontroversi.
Di sektor riil seperti industri properti, rambahan itu pun datang. Pun, bentuk ‘tarian AI’ di sektor properti itu bervariasi, sedari di sistem manajemen properti sampai ke keagenan properti.
Bagaimana contoh hal itu? Oke, baiklah, marilah menyibak beberapa contoh.
Perhatikan, di tengah upaya sektor properti bangkit dari tekanan pascapandemi, AI perlahan menemukan momentumnya. Teknologi yang sebelumnya identik dengan industri digital dan manufaktur itu kini mulai menembus ruang-ruang fisik gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga perumahan, menawarkan efisiensi baru bagi pelaku real estat Indonesia.
Bagi pemilik dan pengelola gedung komersial, AI tidak lagi diposisikan sebagai inovasi futuristis, melainkan alat kerja yang konkret. Dorongan utama adopsi teknologi ini bukan semata tren digitalisasi, melainkan kebutuhan untuk menekan biaya operasional sekaligus menjaga kualitas layanan di tengah tekanan margin.
Disinilah AI memainkan peran strategis. Itu yakni membantu pengambilan keputusan berbasis data, mengoptimalkan penggunaan energi, dan meningkatkan pengalaman penyewa.
Christina Ng, Head of Facilities Management Colliers Indonesia, menilai bahwa perhatian terhadap AI di sektor properti semakin menguat, terutama pada area dengan konsumsi energi tinggi. Sistem pendingin udara atau HVAC, misalnya, dapat menyerap hingga 60 persen total energi gedung. “Melalui optimalisasi berbasis AI, efisiensi energi dapat ditingkatkan secara signifikan, bahkan mampu menekan biaya hingga sekitar 30 persen tanpa mengorbankan kenyamanan pengguna gedung,” kata Christina dalam keterangan untuk media, belum lama ini.
Pengalaman Colliers menunjukkan bahwa penerapan AI tidak selalu mensyaratkan infrastruktur canggih. Pada sejumlah bangunan yang belum memiliki building management system (BMS) mutakhir, AI tetap dapat bekerja melalui pengolahan data operasional untuk menghasilkan pengendalian suhu yang lebih stabil dan reliabel.
Model pembiayaan yang fleksibel, seperti skema shared savings, juga membuat pemilik gedung tidak perlu menyiapkan investasi awal yang besar, karena biaya peningkatan ditutup dari penghematan yang dihasilkan teknologi tersebut
Agen AI
Di sisi lain, penetrasi AI juga mulai terasa di lini pemasaran dan transaksi properti. Lihat saja ini, WGS Ventures (kode saham di BEI: WGSH) memerkenalkan LandLogic, agen properti berbasis AI pertama di Indonesia, yang memadukan proses penjualan konvensional dengan interaksi digital real-time.
Yang menarik, melalui aplikasi pesan WhatsApp, calon pembeli bahkan dapat mengakses informasi properti selama 24 jam, mulai dari spesifikasi unit, harga, simulasi KPR, hingga fasilitas sekitar dan ketersediaan stok.
Bagi WGS Ventures, pengembangan AI bukan semata alat bantu pemasaran, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
Nah, Komisaris Utama WGSH, Ikin Wirawan, menekankan bahwa setiap investasi teknologi harus memberikan manfaat ganda—baik bagi kinerja keuangan maupun sebagai sarana akuisisi pelanggan bagi bisnis teknologi inti perusahaan. Pendekatan ini mencerminkan bagaimana AI mulai dipandang sebagai aset strategis, bukan sekadar biaya tambahan.
Pengembangan LandLogic sendiri masih terus berjalan. “Selain penyempurnaan akurasi dan fitur, perusahaan membuka peluang kemitraan dengan pengembang dan agen properti lain melalui skema bagi hasil komisi,” kata Ikin dalam keterangan pers belum lama ini.
Chief Technology Officer WGSH, Pingadi Limajaya, bahkan melihat potensi AI ini melampaui sektor properti. Mesin AI yang dikembangkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan klien dan diimplementasikan secara on-premise, membuka jalan bagi lisensi teknologi ke sektor bisnis lainnya.
Bagaimana ke depan? Christina Ng dari Colliers Indonesia memprediksi bahwa AI diperkirakan akan semakin lekat dengan dinamika industri properti nasional. Meningkatnya permintaan terhadap bangunan hemat energi, penggunaan digital twin dalam perencanaan, hingga pengelolaan biaya operasional yang lebih presisi menjadi peluang yang sulit diabaikan.
Dalam fase pemulihan yang menuntut ketahanan dan efisiensi, penetrasi AI berpotensi menjadi pembeda utama bagi pelaku properti yang ingin tetap relevan dan kompetitif di pasar yang kian selektif.
Sudahkah Anda siap untuk ‘tarian AI’ yang kian deras?
*Tulisan Ini Menggunakan Dukungan AI ChatGPT, dan telah Ditinjau oleh Penulis Sebelum Ditayangkan
