TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

GRC Telkom Akses Dorong Keselarasan Strategis dan Pengelolaan Risiko Terintegrasi

Agus Haryanto
7 August 2026 | 19:03
rubrik: Event
GRC Telkom Akses Dorong Keselarasan Strategis dan Pengelolaan Risiko Terintegrasi

Jakarta, TopBusiness — PT Telkom Akses menegaskan bahwa penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) tidak lagi diposisikan sekadar sebagai fungsi kepatuhan administratif, melainkan sebagai bagian integral dalam mendukung pengambilan keputusan strategis perusahaan.

Direktur Keuangan & Manajemen Risiko PT Telkom Akses, Hery Sofiadi, mengatakan bahwa nilai utama (value proposition) GRC di perusahaan terletak pada kemampuannya menciptakan strategic alignment antara tata kelola, pengelolaan risiko, dan tujuan bisnis perusahaan.

“GRC kami arahkan untuk mendukung keputusan bisnis yang strategis, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai kepatuhan administratif yang bersifat pasif,” ujar Hery kepada Dewan Juri TOP GRC Awards 2026, secara daring pada Jumat (07/8/2026).

Ia menjelaskan bahwa manajemen menerapkan tingkat toleransi risiko (risk appetite) yang rendah (low) pada seluruh aspek utama perusahaan, baik risiko strategis, operasional, maupun kepatuhan. Pendekatan tersebut dilakukan untuk menjaga keberlanjutan bisnis serta memastikan proses pengendalian berjalan secara konsisten.

Menurut Hery, fungsi GRC di Telkom Akses dijalankan secara terintegrasi melalui beberapa unit utama, yaitu Internal Audit, Corporate Legal, dan Risk Management. Ketiga fungsi tersebut bekerja secara sinergis dalam kerangka tata kelola perusahaan yang terus berkembang (evolve) mengikuti dinamika bisnis dan regulasi.

Dalam materi presentasi TOP GRC Awards 2026, perusahaan menekankan bahwa GRC tidak lagi dipandang sekadar sebagai fungsi kepatuhan administratif, melainkan sebagai instrumen strategis yang terintegrasi dengan pengambilan keputusan bisnis.

Perusahaan menyampaikan bahwa pendekatan GRC diterapkan melalui risk-based strategy review, yang tercermin dari keterkaitan langsung antara Strategic Initiative perusahaan dengan Risk Profile. Dengan pendekatan tersebut, setiap inisiatif strategis dianalisis berdasarkan profil risiko sehingga keputusan bisnis dapat dilakukan secara lebih terukur dan berorientasi pada keberlanjutan.

Telkom Akses memaparkan enam inisiatif strategis utama yang menjadi fokus perusahaan, yaitu pertama, SI.1 – Extensively strategic partnership with telco, penguatan kemitraan strategis secara luas dengan perusahaan telekomunikasi. Kedua, SI.2 – Vast service by provide new technology-based service, perluasan layanan melalui penyediaan layanan berbasis teknologi baru.

Ketiga, SI.3 – Organization transformation align to Group transformation, transformasi organisasi yang selaras dengan transformasi grup. Keempat, SI.4 – Leverage operational efficiency, peningkatan efisiensi operasional. Kelima, SI.5 – Vouch government & group program implementation, dukungan terhadap implementasi program pemerintah dan grup. Dan terakhir, SI.6 – Establishing a group of strategic partners, pembentukan kelompok mitra strategis.

BACA JUGA:   Ini Tantangan Penerapan GRC di Bank Bapas 69

Keenam inisiatif tersebut menjadi bagian dari kerangka transformasi perusahaan yang mencakup aspek Inorganic, Operational Efficiency, Organization, People, Capability & Culture, Sustainability & Governance, Partnership, serta Technology. Kerangka tersebut menunjukkan arah pengembangan perusahaan yang menyeluruh, mulai dari penguatan organisasi hingga pemanfaatan teknologi dan tata kelola berkelanjutan.

Dalam aspek manajemen risiko, Telkom Akses menetapkan Risk Appetite pada tingkat Low dan menyatakan bahwa kebijakan tersebut telah diterapkan hampir ke seluruh risiko utama perusahaan, meliputi risiko strategis, operasional, dan kepatuhan. Risk appetite tersebut menjadi acuan bagi manajemen dalam mengambil keputusan bisnis yang terukur, menjaga keseimbangan antara pencapaian target usaha dan pengendalian risiko perusahaan.

Perusahaan juga menekankan pentingnya integrasi fungsi-fungsi GRC di dalam struktur organisasi. Fungsi Internal Audit, Risk Management, dan Corporate Legal ditempatkan secara terintegrasi langsung dalam struktur direktorat. Integrasi tersebut memastikan bahwa setiap keputusan strategis perusahaan telah melalui proses kajian risiko sebelum dieksekusi, sehingga kualitas pengambilan keputusan dapat ditingkatkan sekaligus memperkuat pengawasan internal.

Melalui penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan yang terintegrasi dengan strategi bisnis, Telkom Akses berharap dapat meningkatkan ketahanan perusahaan, mempercepat transformasi organisasi, memperkuat kemitraan strategis, serta mendukung pencapaian pertumbuhan usaha yang berkelanjutan di tengah dinamika industri telekomunikasi dan teknologi digital. Komitmen tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam membangun budaya tata kelola yang kuat dan mendukung penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Selain itu, perusahaan juga menetapkan Top 10 Risk sebagai acuan bersama dalam pengelolaan risiko. Daftar risiko utama tersebut menjadi panduan bagi seluruh unit kerja dalam mengidentifikasi, memitigasi, dan memantau risiko yang berpotensi memengaruhi pencapaian sasaran perusahaan.

Hery menambahkan bahwa pendekatan terintegrasi tersebut diharapkan mampu memperkuat budaya sadar risiko di lingkungan Telkom Akses sekaligus meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di setiap level organisasi.

“Dengan adanya acuan risiko utama yang disepakati bersama, seluruh fungsi perusahaan memiliki perspektif yang sama dalam mengelola risiko dan menjaga pencapaian target bisnis,” katanya.

Melalui penguatan implementasi GRC, Telkom Akses menargetkan terciptanya tata kelola perusahaan yang lebih efektif, adaptif, dan selaras dengan strategi pertumbuhan perusahaan di masa mendatang.

BACA JUGA:   Melati Bhakti Satya Nanti Status Badan Hukum

Pilar Keberlanjutan Bisnis

Telkom Akses terus memperkuat penerapan GRC sebagai fondasi keberlanjutan bisnis jangka panjang perusahaan.  Menurut Hery, Telkom Akses telah memiliki risk profile yang memetakan risiko-risiko utama (top risks) serta strategi berbasis risiko (risk-based strategy) yang menjadi acuan dalam pengambilan keputusan bisnis.

“Kami sudah memiliki risk profile, top risk, dan risk-based strategy. Bahkan RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) PT Telkom Akses juga sudah berbasis risiko,” ujar Hery.

Ia menjelaskan, penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai potensi risiko yang dapat memengaruhi pencapaian target perusahaan. Dengan pendekatan tersebut, setiap program kerja, investasi, dan alokasi anggaran memiliki mitigasi risiko yang jelas sejak tahap perencanaan.

Hery menambahkan, seluruh kebijakan tersebut telah dituangkan dalam Peraturan Direksi PT Telkom Akses maupun ketentuan perangkat peraturan internal lainnya sehingga memiliki kekuatan implementasi yang mengikat di seluruh organisasi.

“Peraturan direksi merupakan ketentuan pada level tertinggi karena ditandatangani oleh seluruh direktur. Dengan demikian, penerapan manajemen risiko menjadi komitmen bersama di tingkat pimpinan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa GRC dipandang bukan sekadar kewajiban kepatuhan, melainkan instrumen strategis untuk menjaga keberlangsungan usaha  Telkom Akses dalam jangka panjang. Karena itu, perusahaan juga mengimplementasikan Business Continuity Management System (BCMS) guna memastikan operasional tetap berjalan dalam berbagai kondisi, termasuk saat menghadapi gangguan bisnis maupun situasi darurat.

Selain aspek manajemen risiko, Telkom Akses juga memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta keamanan siber (cybersecurity). Kebijakan terkait kedua aspek tersebut telah dituangkan dalam berbagai nota internal yang disampaikan kepada seluruh jajaran perusahaan.

“Manajemen risiko, ESG, dan cybersecurity kami integrasikan dalam kebijakan internal dan disosialisasikan kepada seluruh jajaran melalui nota-nota internal agar implementasinya berjalan konsisten,” jelas Hery.

Melalui pendekatan tersebut, Telkom Akses optimistis dapat memperkuat tata kelola, meningkatkan ketahanan organisasi, menjaga kesinambungan operasional, serta memastikan keberlanjutan bisnis di tengah dinamika risiko yang terus berkembang.

Melalui materi presentasi bertajuk “Value Proposition – Sustainability Protection”,  Telkom Akses menempatkan GRC sebagai pusat strategi perlindungan keberlanjutan perusahaan. Pendekatan ini diwujudkan melalui implementasi sistem keberlangsungan bisnis, pengelolaan risiko ESG, penguatan keamanan siber, serta dukungan terhadap program keberlanjutan perusahaan.

BACA JUGA:   Korlantas Polri Siap Gelar IT Road Safety Expo 2020

Telkom Akses menyampaikan bahwa perusahaan telah melaksanakan Implementasi BCMS sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan operasional perusahaan.  Implementasi tersebut mencakup, seperti, penyusunan dan penerapan Peraturan Direksi BCMS, pelaksanaan simulasi BCMS, kajian risiko terhadap pelaksanaan simulasi, termasuk skenario serangan ransomware.

Dokumen yang ditampilkan dalam presentasi memuat Peraturan Direksi PT Telkom Akses Nomor PD. UM.000/TA-35000/06-2025 tentang Sistem Pengelolaan Keberlangsungan Bisnis Perusahaan (Business Continuity Management System) Direksi PT Telkom Akses.

Melalui implementasi BCMS tersebut, perusahaan menegaskan komitmennya untuk memastikan kesiapan organisasi dalam menghadapi gangguan operasional maupun ancaman yang dapat mempengaruhi keberlangsungan layanan.

Pada aspek keberlanjutan, Telkom Akses memaparkan penerapan Manajemen Risiko ESG. Risiko keberlanjutan seperti implementasi ESG dan dampak reputasi terhadap pemangku kepentingan telah diidentifikasi dan dikelola melalui mekanisme risk treatment.

Perusahaan juga menjelaskan bahwa jenis penugasan roadmap ESG dilakukan dengan melakukan benchmarking ke perusahaan lain, serta kebijakan pengelolaan disusun secara terpusat. Roadmap ESG perusahaan dijalankan melalui pembentukan fungsi ESG resmi di bawah VP Corporate Legal & Secretary pada Oktober 2024. Pembentukan fungsi tersebut didasarkan pada ketentuan SE-5/MBU/05/2022 dan SE-6/MBU/09/2022.

Dalam bidang keamanan informasi, Telkom Akses menyampaikan penguatan Cyber Security untuk merespons ancaman siber, termasuk risiko kebocoran data. Adapun  langkah pengamanan yang diterapkan meliputi enkripsi data, firewall, DCR, MDM/Antivirus, dan Secure Mail Gateway.

Sebagai bagian dari perlindungan keberlanjutan perusahaan, PT Telkom Akses juga menampilkan dokumentasi kegiatan kunjungan manajemen Telkom ke STO Legok. Hery menyampaikan bahwa kunjungan Wakil Direktur Utama Telkom ke Performance Center Telkom Akses di Daikoku menjadi bukti nyata dukungan penuh manajemen Telkom Induk terhadap penguatan operasional dan pengelolaan infrastruktur jaringan di Telkom Akses.

“Kunjungan Wakil Direktur Utama Telkom ke Performance Center kami di Daikoku menunjukkan adanya dukungan penuh dari manajemen Telkom Induk. Dukungan tersebut tidak hanya bersifat kebijakan, tetapi juga diwujudkan melalui upaya optimalisasi aset jaringan dengan konsep recycle dan re-use access network. Karena itu kami memiliki repair center dan refurbish center sebagai bagian dari komitmen untuk meningkatkan efisiensi, keberlanjutan operasional, serta pemanfaatan kembali perangkat jaringan yang masih layak digunakan,” pungkas Hery.

Previous Post

ITDC Terapkan Budaya GRC untuk Mendorong Pertumbuhan Berkelanjutan

Next Post

Tim Pengawalan Streamlining BUMN Perkuat Regulasi Transformasi BUMN

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR