TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

GRC Sebagai Fondasi Keberlanjutan di Waskita Beton Precast

Irawan Djoko Nugroho
10 August 2026 | 06:45
rubrik: Event, GCG
GRC Sebagai Fondasi Keberlanjutan di Waskita Beton Precast

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness — PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) menempatkan implementasi Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai fondasi utama dalam membangun perusahaan yang terpercaya, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Perusahaan juga menjalankan tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, audit internal, serta digitalisasi secara terpadu agar setiap organ perusahaan bekerja secara berkesinambungan dan mampu menghasilkan kinerja yang berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Keuangan, HCM dan Manajemen Risiko Koento Wahyudiat dalam sesi presentasi Penjurian TOP GRC Awards 2026, Kamis (6/8/2026).

Hadir pula dalam Penjurian, Kadiv Corporate Secretary Fandy Dewanto dan Kadiv Kepatuhan dan Manajemen Risiko Teddy Hermawan. Selain itu, Manajer Hubungan Investor dan Tata Kelola Perusahaan ‌Insyira Anindita serta Manajer Enterprise Risk Management ‌Gina Maulidiawati.

Menurut Koento Wahyudiat kembali, implementasi GRC WSBP didasarkan pada berbagai kriteria yang ditetapkan Kementerian BUMN, termasuk budaya AKHLAK, etika, tata kelola perusahaan yang baik, internal audit, serta penerapan standar ISO. Seluruhnya ditopang oleh tiga pilar utama, yakni governance yang baik, risiko yang terukur, dan audit internal yang dijalankan secara konsisten.

“Harapannya, perusahaan tidak hanya menghasilkan kinerja yang berkelanjutan, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan dan para pemangku kepentingan”, katanya.

Pada tahun 2025, hasil implementasi tersebut menunjukkan capaian yang dikategorikan sangat baik. Di mana di antaranya: Nilai GCG sebesar 85,44, Internal Audit Capability Model pada level 3 kategori integrated, RMI pada fase berkembang dengan nilai 2,6. Terakhir, skor ESG dicatat sebesar 35 yang juga berada pada kategori berkembang.

Kepemimpinan dan Budaya Kepatuhan

WSBP menempatkan kepemimpinan sebagai kunci utama dalam membangun budaya kepatuhan. Fungsi kepatuhan berada pada lini kedua organisasi dan dikembangkan secara terintegrasi dalam setiap proses bisnis perusahaan.

Menurut Koento Wahyudiat, faktor leadership and governance dari top management menjadi penggerak utama dalam membangun strategic direction, oversight, dan compliance culture yang berjalan secara beriringan. Pondasi budaya kepatuhan perusahaan dibangun melalui etika dan integritas, sistem whistleblowing yang berjalan secara intens setiap tahun, peningkatan kompetensi dan awareness, serta penerapan digital compliance.

Dalam praktiknya, perusahaan secara rutin melaksanakan regulatory intelligence, compliance obligation register, pembangunan katalog kepatuhan yang melibatkan lini pertama hingga lini ketiga, serta compliance risk assessment terhadap katalog tersebut.

BACA JUGA:   Dukung Pertumbuhan Berkelanjutan, CKB Logistics Gaungkan Program CSR “Cinta Kepada Bumi” dan “BUNDA PAS”

Pendekatan ini kemudian diperkuat melalui monitoring, assurance, compliance evaluation, corrective action, improvement action, dan continuous improvement berbasis siklus PDCA. Dengan cara tersebut, kepatuhan tidak dipandang sebagai fungsi administratif semata, melainkan sebagai bagian dari proses bisnis yang terus berkembang dan selalu diperbaiki.

Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan

Salah satu kekuatan implementasi GRC WSBP adalah integrasi manajemen risiko dengan strategi bisnis perusahaan. WSBP telah meratifikasi ketentuan Kementerian BUMN dan membangun integrasi risiko ke dalam enam komponen utama, yaitu perencanaan strategis, strategi risiko, kepatuhan, audit dan assurance, ISD dan keberlanjutan, serta kinerja perusahaan. Seluruh strategi risiko ditinjau secara rutin setiap tiga bulan.

Perusahaan juga mengadopsi Sistem Manajemen Anti Penyuapan ISO 37001:2025, yang di dalamnya terdapat elemen ISD, sebagai bagian dari penguatan tata kelola. Integrasi tersebut bertujuan agar keputusan perusahaan dapat berbasis data dan risiko, sehingga proses pengambilan keputusan menjadi lebih tepat dan cepat, pengelolaan risiko menjadi lebih efektif dan proaktif, risiko hukum lebih terkendali, serta tata kelola perusahaan semakin kuat dan berkelanjutan.

WSBP juga telah membangun manajemen risiko berbasis kuantifikasi melalui penyusunan risk appetite dan risk tolerance yang dikalibrasi secara periodik dan dibahas dalam rapat komite bersama dewan komisaris dan direksi.

Selain itu, perusahaan mengembangkan key risk indicator yang melibatkan lini pertama, mengintegrasikan seluruh proses ke dalam aplikasi Governance, Risk and Compliance (GRC), serta menerapkan skenario analisis yang tidak hanya digunakan dalam risk modeling, tetapi juga dalam financial modeling oleh fungsi strategi perusahaan.

Penguatan Audit Internal dan Internal Control

Dalam aspek operasional, penerapan manajemen risiko WSBP diarahkan untuk memastikan pengendalian internal berjalan secara efektif. Perusahaan membangun risk control matrix sebagai alat dasar dalam pelaksanaan internal control testing, yang bertujuan mendukung continuous improvement proses bisnis dan meningkatkan akuntabilitas laporan keuangan sebagai perusahaan terbuka.

BACA JUGA:   Dihajar Pandemi, PT PIR Tetap Mampu Bukukan Kinerja Mentereng

Kolaborasi antara lini pertama, lini kedua, dan lini ketiga menjadi pendekatan utama dalam audit dan risk assurance. Internal control testing dilakukan secara rutin, dan perusahaan sedang berupaya mengembangkan pelaksanaannya dari satu kali dalam setahun menjadi setiap tiga bulan.

Hasil pengujian tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui proses perbaikan berkelanjutan untuk memperkuat proses bisnis. Manfaat yang diharapkan mencakup pengendalian internal yang lebih efektif, keputusan yang lebih tepat berbasis data dan risiko, penurunan risiko kerugian maupun fraud, peningkatan efisiensi proses dan kinerja, serta penguatan tata kelola dan kepercayaan para pemangku kepentingan.

Budaya Risiko dan Pengembangan Kapabilitas

Bagi WSBP, manajemen risiko tidak hanya menjadi tanggung jawab unit tertentu, tetapi merupakan budaya yang harus dipahami oleh seluruh level organisasi. Oleh karena itu, perusahaan membangun risk culture secara berkelanjutan dengan melibatkan top management hingga level pekerja. Budaya tersebut diterjemahkan ke dalam kebijakan, piagam, komitmen perusahaan, komunikasi risiko, serta berbagai program awareness yang dilakukan secara berkala melalui media statis maupun video.

Perusahaan juga menyelenggarakan sosialisasi manajemen risiko secara tatap muka maupun digital, forum risiko lintas fungsi dan unit kerja, executive forum, serta program pelatihan dan sertifikasi internal. WSBP dicatat telah mampu menyelenggarakan sertifikasi internal manajemen risiko CRMO untuk level officer. Pendekatan ini memperkuat konsep risk ownership, di mana setiap level jabatan memahami perannya sebagai pemilik risiko sesuai tanggung jawab dan kewenangannya masing-masing.

Keberlanjutan sebagai Bagian dari Strategi Bisnis

Strategi bisnis WSBP juga diintegrasikan dengan aspek lingkungan dan sosial. Pada aspek lingkungan, perusahaan berfokus pada upaya penurunan emisi karbon dari proses produksi beton serta mulai melakukan sertifikasi pada proyek dan produk tertentu.

BACA JUGA:   Indah Kiat Perkuat GRC untuk Topang Strategi Bisnis Berkelanjutan

WSBP juga berpartisipasi dalam program yang digagas Kementerian serta menjalankan program penanaman pohon, di mana setiap pembelian 10 spun pile akan diikuti dengan penanaman satu pohon. Hingga saat ini, perusahaan telah menanam 4.917 pohon sejak 2024 dengan estimasi dampak penurunan karbon sekitar 94.917 ton CO2.

Pada aspek sosial, program TJSL perusahaan tidak hanya mencakup bidang pendidikan dan ekonomi, tetapi juga kesetaraan gender, respect workplace, serta penguatan hubungan dengan para pemangku kepentingan. Berbagai program dijalankan dalam kerangka SDGs, termasuk program Belajar Struktur dan kegiatan onsite yang memperkenalkan industri konstruksi kepada siswi perempuan.

Digitalisasi dan Pemanfaatan AI untuk GRC

Transformasi digital menjadi salah satu enabler penting dalam implementasi GRC WSBP. Perusahaan membangun sistem yang terintegrasi dengan SAP, didukung oleh berbagai aplikasi dalam ekosistem teknologi informasi yang mencakup administrasi, customer, hingga proses bisnis perusahaan. Aspek IT security, IT governance, dan standar ISO menjadi bagian dari fondasi digital tersebut.

WSBP juga mulai mengembangkan pemanfaatan artificial intelligence untuk mendukung asesmen maturity IT governance, asesmen risiko, dan berbagai proses penguatan tata kelola lainnya.

“AI diharapkan dapat membantu mempercepat proses, meningkatkan akurasi, efisiensi biaya, serta mendukung pengambilan keputusan dan proses improvement di masa mendatang,” pungkas Koento Wahyudiat.

Tags: PT Waskita Beton Precast TbkTOP GRC Awards 2026
Previous Post

GRC Jadi Ruh Transformasi dan Penguatan Core Business PT Berdikari

Next Post

Wait and See Data Inflasi AS, Ini Rekomendasi Analis Saham Ipot Pekan Ini

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR