Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit pada perdagangan awal pekan. IHSG ditutup menguat 81,97 poin atau 1,36% ke level 6.118,86 pada perdagangan Senin (5/10/2026).
Penguatan tersebut menjadi angin segar bagi pasar saham domestik setelah IHSG mengalami tekanan cukup berat sepanjang September. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), IHSG sepanjang September 2026 terkoreksi 6,96% ke level 6.071,14. Pada periode yang sama, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp10,24 triliun.
Kinerja perdagangan Senin menunjukkan sentimen investor mulai membaik. Sebanyak 526 saham ditutup menguat, sementara 153 saham melemah dan 114 saham lainnya bergerak stagnan.
Aktivitas transaksi juga berlangsung cukup ramai. Total volume perdagangan mencapai 40,55 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp9,63 triliun.
Penguatan IHSG hari ini menjadi menarik karena indeks sempat bergerak terbatas pada awal perdagangan. Namun, tekanan jual berhasil diredam dan IHSG kemudian menguat hingga penutupan.
Perubahan arah tersebut menunjukkan mulai munculnya minat beli dari investor. Setelah mengalami koreksi cukup dalam pada bulan sebelumnya, sebagian pelaku pasar tampaknya mulai melihat sejumlah saham telah berada pada level harga yang lebih menarik untuk dikoleksi.
Kenaikan yang terjadi secara luas juga menjadi indikasi bahwa penguatan bukan hanya ditopang oleh segelintir saham berkapitalisasi besar. Jumlah saham yang menguat jauh lebih banyak dibandingkan saham yang turun.
Meski demikian, investor masih perlu berhati-hati. Rebound satu hari belum cukup untuk memastikan bahwa IHSG telah memasuki tren kenaikan baru.
Salah satu faktor yang perlu dicermati adalah pergerakan investor asing. Tekanan jual asing menjadi salah satu persoalan utama pasar saham domestik dalam beberapa waktu terakhir.
Sepanjang September, asing mencatatkan net sell Rp10,24 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor global masih berhati-hati terhadap aset Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
Karena itu, penguatan IHSG pada perdagangan Senin perlu diikuti dengan perbaikan arus dana asing. Jika aksi jual asing kembali meningkat, penguatan indeks berpotensi menghadapi tekanan dalam perdagangan berikutnya.
Sebaliknya, apabila investor asing mulai kembali melakukan akumulasi, penguatan IHSG akan memiliki fondasi yang lebih kuat.
Dari sisi teknikal, penutupan IHSG di level 6.118,86 menjadi sinyal positif karena indeks berhasil kembali berada di atas level psikologis 6.000.
Level tersebut kini menjadi area penting bagi IHSG. Selama indeks mampu bertahan di atasnya, peluang untuk melanjutkan pemulihan masih terbuka.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati kemampuan IHSG untuk melewati area 6.150 hingga 6.200. Jika area tersebut berhasil ditembus dengan dukungan volume transaksi yang kuat, sentimen bullish berpotensi semakin menguat.
Namun, jika IHSG kembali turun dan kehilangan level 6.000, penguatan hari ini berisiko hanya menjadi technical rebound setelah koreksi tajam sebelumnya.
Sentimen Global
Pergerakan pasar saham domestik juga tidak terlepas dari perkembangan global. Ketidakpastian terkait suku bunga, kondisi ekonomi dunia, pergerakan dolar AS, serta dinamika geopolitik masih dapat memicu perubahan sentimen investor dengan cepat.
Tekanan terhadap rupiah juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Rupiah yang masih berada pada level lemah terhadap dolar AS dapat membatasi ruang penguatan pasar saham, terutama jika kondisi tersebut mendorong investor asing untuk mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia.
Dengan demikian, pelaku pasar masih membutuhkan sejumlah katalis positif untuk menjaga momentum IHSG.
Penguatan IHSG pada perdagangan Senin memberikan sinyal bahwa minat beli investor mulai kembali muncul setelah pasar mengalami tekanan sepanjang September.
Namun, investor sebaiknya tidak terburu-buru menganggap kenaikan ini sebagai awal dari tren bullish baru. Konfirmasi akan terlihat dari kemampuan IHSG mempertahankan level 6.000, menembus resistance terdekat, serta membaiknya arus dana asing.
Jika ketiga faktor tersebut mulai menunjukkan perkembangan positif, peluang IHSG untuk melanjutkan pemulihan akan semakin besar.
Sebaliknya, jika aksi jual asing kembali mendominasi dan indeks gagal bertahan di atas 6.000, pasar masih berpotensi mengalami volatilitas tinggi.
Untuk saat ini, kenaikan IHSG dapat dibaca sebagai sinyal awal membaiknya sentimen investor. Pergerakan beberapa sesi perdagangan berikutnya akan menjadi penentu apakah penguatan tersebut hanya bersifat sementara atau menjadi awal dari fase pemulihan pasar yang lebih panjang.
Data AI
