TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Pelni Siapkan Strategi Human Capital 2026-2030, Fokus pada Talenta dan Budaya Kinerja Tinggi

Agus Haryanto
5 October 2026 | 18:01
rubrik: Event
Pelni Siapkan Strategi Human Capital 2026-2030, Fokus pada Talenta dan Budaya Kinerja Tinggi

Jakarta, TopBusiness – PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni menyiapkan strategic roadmap human capital (HC) 2026-2030 yang diselaraskan dengan arah dan tahapan transformasi bisnis perusahaan. Strategi tersebut menjadi jembatan antara strategi perusahaan dengan strategi human capital guna memastikan pengembangan sumber daya manusia berjalan sejalan dengan kebutuhan bisnis.

Vice President SDM Pelni, Daniel P. Tampubolon, mengatakan strategic roadmap human capital Pelni disusun mengikuti tiga fase transformasi bisnis perusahaan, yakni Quality-Assured Shipping Operator pada 2026-2027, Total Shipping Solutions Provider pada 2028-2029, dan Sustainable Shipping Provider pada 2030.

“Strategic roadmap HC menjadi jembatan utama antara strategi perusahaan dan strategi human capital. Pada level perusahaan, ini bergerak melalui tiga fase, yaitu 2026-2027 sebagai Quality- Assured Shipping Operator, 2028-2029 sebagai Total Shipping Solutions Provider, dan 2030 sebagai Sustainable Shipping Provider,” ujar Daniel kepada Dewan Juri TOP Human Capital Awards 2026 secara daring di Jakarta, Senin (5/10/2026).

Menurut dia, penyelarasan strategic roadmap human capital dengan tahapan bisnis menjadi penting karena tantangan pengelolaan SDM pada setiap fase akan berbeda. Pada fase awal, Pelni akan lebih dahulu memperkuat fondasi human capital, mulai dari tata kelola, struktur, sistem hingga standar layanan.

Memasuki fase berikutnya, fokus human capital akan diarahkan pada penguatan talenta serta pembangunan budaya kinerja tinggi. Sementara pada fase jangka panjang, human capital dituntut semakin adaptif terhadap perkembangan bisnis dan perubahan industri maritim.

“Pada fase awal, Pelni perlu memperkuat fondasi, tata kelola, struktur, sistem, dan standar layanan HC. Pada fase berikutnya, Pelni memperkuat talenta dan budaya kinerja tinggi. Sedangkan pada fase 2030, HC harus mampu beradaptasi dengan perkembangan bisnis dan perubahan industri maritim,” jelas Daniel.

Daniel menjelaskan, strategic roadmap human capital Pelni 2026-2030 bertumpu pada lima fokus utama. Kelima fokus tersebut meliputi Corporate Value and Culture, Talent Management, Learning and Leadership Development, Performance Management and Reward, serta HC Operations Governance and Policy.

Kelima area tersebut menjadi dasar dalam menyusun berbagai program dan inisiatif human capital agar pengelolaan SDM Pelni dapat berjalan secara terintegrasi.

BACA JUGA:   PGN Tegaskan GRC Jadi Fondasi Ketahanan dan Keberlanjutan Bisnis Energi

Untuk memperkuat implementasi strategi tersebut, Pelni juga mengembangkan model integrasi human capital melalui tagline “HC Pelni SMART“. Konsep tersebut menggambarkan pentingnya pemahaman setiap insan human capital terhadap seluruh siklus pengelolaan HC secara menyeluruh atau end-to-end.

Selain sistem dan proses, penguatan human capital juga dilakukan melalui nilai-nilai perusahaan. Menurut Daniel, strategi roadmap HC akan berjalan optimal apabila didukung oleh nilai dan budaya yang mampu menggambarkan karakter insan Pelni.

“Strategi HC Pelni tidak berdiri sendiri. Seluruh inisiatif yang kami jalankan merupakan turunan dari roadmap bisnis, roadmap HC, fokus utama human capital, serta budaya perusahaan,” katanya.

Dengan fondasi tersebut, program human capital diharapkan menjadi lebih terarah, terukur, dan relevan terhadap kebutuhan organisasi serta perkembangan bisnis perusahaan.

Secara lebih rinci dapat dijelaskan bahwa Pelni menyiapkan strategi HC untuk periode 2026–2030 yang dirancang selaras dengan visi, misi, serta strategi transformasi bisnis perusahaan. Roadmap tersebut diarahkan untuk memastikan kesiapan talenta dalam mendukung perubahan Pelni menuju perusahaan pelayaran yang semakin unggul, kompetitif, dan berkelanjutan.

Strategi HC Pelni tersebut menjadi jembatan antara strategi bisnis perusahaan dengan pengelolaan sumber daya manusia. Melalui pendekatan ini, pengembangan talenta tidak hanya diarahkan pada peningkatan kompetensi individu, tetapi juga pada pembentukan organisasi dengan budaya kerja, sistem kinerja, kepemimpinan, dan tata kelola Human Capital yang mampu menjawab kebutuhan bisnis ke depan.

Dalam materi Strategy House Human Capital Pelni, visi perusahaan untuk periode 2026–2030 adalah menjadi “Perusahaan Pelayaran yang Unggul dan Berdaya Saing Global dalam Mendukung Konektivitas dan Pertumbuhan Ekosistem Logistik Maritim Indonesia.”

Visi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sasaran bisnis yang mencakup peningkatan total passenger carried, penguatan customer satisfaction index, pertumbuhan pendapatan konsolidasi, serta peningkatan EBITDA.

Untuk mencapainya, Pelni menetapkan tahapan strategic roadmap bisnis secara bertahap.

Pada periode 2026–2027, perusahaan diarahkan menjadi Quality-Assured Shipping Operator. Selanjutnya, pada 2028–2029, PELNI menargetkan penguatan posisi sebagai Total Shipping Solutions Provider. Adapun mulai 2030 dan seterusnya, arah transformasi ditujukan menuju Sustainable Shipping Provider.

HC Harus Mengikuti Transformasi Bisnis

BACA JUGA:   Mutu Teruji, RSUD Prof. dr. Soekandar Raih Paripurna

Sejalan dengan tahapan transformasi bisnis tersebut, Pelni juga menyusun Strategic Roadmap Human Capital yang dibangun secara bertahap.

Pada periode 2026–2027, fokus diarahkan pada pembangunan Integrated HC Operating Model for Center of Excellence (CoE). Tahapan ini menjadi fondasi untuk membangun model operasi Human Capital yang lebih terintegrasi sekaligus memperkuat fungsi-fungsi unggulan HC.

Kemudian pada 2028–2029, strategi HC diarahkan pada pembentukan Sustainable Talent to Support Hi-Performance Organization. Pada fase ini, pengelolaan talenta diharapkan semakin terhubung dengan kebutuhan organisasi berkinerja tinggi.

Sementara pada 2030 dan seterusnya, Pelni menargetkan Human Capital yang mampu beradaptasi terhadap perkembangan bisnis atau Human Capital that Adapts to Business Developments.

Dengan demikian, transformasi Human Capital Pelni tidak berdiri sendiri, melainkan mengikuti tahapan perjalanan bisnis perusahaan.

Untuk mendukung roadmap tersebut, Pelni menetapkan lima area utama dalam pengembangan Human Capital.

Pertama, Corporate Value and Culture. Fokus ini diarahkan pada pembangunan nilai dan budaya perusahaan yang mampu menjadi landasan perilaku seluruh insan Pelni.

Kedua, Talent Management. Pengelolaan talenta menjadi bagian penting untuk memastikan perusahaan memiliki orang-orang yang tepat, dengan kompetensi yang sesuai, serta mampu ditempatkan dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan bisnis.

Ketiga, Learning and Leadership Development. Area ini menitikberatkan pada pengembangan kompetensi dan kepemimpinan sehingga Pelni memiliki sumber daya manusia yang mampu menghadapi tuntutan bisnis yang terus berubah.

Keempat, Performance Management and Reward. Pelni mendorong sistem pengelolaan kinerja dan penghargaan yang dapat memperkuat orientasi terhadap pencapaian target serta mendorong budaya kinerja tinggi.

Kelima, HC Operation Governance and Policy. Fokus ini berkaitan dengan penguatan tata kelola operasional Human Capital dan kebijakan HC agar semakin mendukung kebutuhan organisasi serta perkembangan bisnis perusahaan.

Kelima fokus tersebut menunjukkan bahwa strategi Human Capital Pelni tidak hanya berbicara mengenai pengembangan karyawan, tetapi juga mencakup budaya, talenta, kepemimpinan, sistem kinerja, penghargaan, hingga tata kelola.

Dalam implementasinya, Pelni juga memperkenalkan SMART sebagai tagline Human Capital.

SMART tersebut terdiri atas sejumlah prinsip yang menjadi arah penguatan HC, yakni Strategy, Manpower & Workforce Planning, Accelerated Learning & Development, Reward/Performance & Engagement, serta Termination & Employee Experience.

Kerangka tersebut memperlihatkan pendekatan yang menyeluruh dalam mengelola perjalanan karyawan, mulai dari perencanaan kebutuhan tenaga kerja, pengembangan kompetensi, pengelolaan kinerja dan keterikatan, hingga pengalaman karyawan.

BACA JUGA:   CSR Rekind Diselaraskan Konsep EPCC, Disesuaikan Kebutuhan Masyarakat

Pendekatan ini sekaligus menempatkan Human Capital sebagai bagian strategis dalam memastikan organisasi memiliki kapasitas dan kapabilitas yang sesuai dengan arah pertumbuhan perusahaan.

Di sisi budaya, Pelni mengusung nilai SIAP, yang terdiri atas Service Excellence, Integrity, Assure, dan Professional.

Service Excellence menekankan pentingnya memberikan pelayanan terbaik. Integrity menjadi landasan dalam menjalankan pekerjaan secara jujur dan bertanggung jawab. Sementara Assure mencerminkan upaya memberikan kepastian dan keandalan dalam menjalankan tugas. Adapun Professional menegaskan pentingnya standar profesionalisme dalam setiap aktivitas perusahaan.

Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi perilaku yang melekat dalam keseharian insan Pelni, sehingga transformasi perusahaan tidak hanya menghasilkan perubahan pada sistem dan proses bisnis, tetapi juga perubahan pada cara bekerja dan cara berpikir sumber daya manusianya.

Dalam materi strategi HC tersebut, visi Human Capital Pelni diarahkan untuk “mewujudkan talenta PELNI yang kompeten, berdaya saing global, dan siap menghadapi dinamika masa depan untuk mendukung keberlanjutan bisnis perusahaan.”

Pernyataan tersebut mempertegas posisi talenta sebagai salah satu faktor kunci dalam agenda transformasi Pelni.

Perubahan industri pelayaran dan logistik maritim yang semakin dinamis menuntut perusahaan memiliki sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai kompetensi teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, model bisnis, tuntutan pelanggan, serta perkembangan ekosistem logistik.

Karena itu, pembangunan Human Capital Pelni dalam lima tahun ke depan diarahkan untuk menciptakan keterhubungan yang lebih kuat antara strategi bisnis, kebutuhan organisasi, pengembangan talenta, budaya perusahaan, dan sistem manajemen kinerja.

Pada akhirnya, keberhasilan roadmap tersebut diharapkan dapat mendukung perjalanan Pelni dari Quality-Assured Shipping Operator, menuju Total Shipping Solutions Provider, dan selanjutnya menjadi Sustainable Shipping Provider.

Dengan strategi tersebut, Human Capital tidak lagi sekadar berfungsi sebagai pendukung administrasi perusahaan, tetapi menjadi salah satu penggerak utama transformasi bisnis Pelni dalam memperkuat konektivitas dan pertumbuhan ekosistem logistik maritim Indonesia.

Previous Post

Ubah Batu Bara Jadi Bensin dan LPG, Pemerintah Siapkan Skema Insentif Baru

Next Post

20 Pompa Dikerahkan untuk Atasi Kekeringan di Pakisjaya, Karawang

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR