TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

KPEI Jadikan Human Capital Penggerak Transformasi dan Pengembangan Bisnis

Agus Haryanto
19 October 2026 | 18:54
rubrik: Event
KPEI Jadikan Human Capital Penggerak Transformasi dan Pengembangan Bisnis

Jakarta, TopBusiness – PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) atau IDClear terus memperkuat strategi pengelolaan sumber daya manusia (SDM) sebagai salah satu fondasi dalam mendukung transformasi perusahaan dan pengembangan bisnis di masa depan.

Direktur Keanggotaan, Riset, dan Dukungan Bisnis KPEI, Ignatius Denny Wicaksono, memaparkan pentingnya pengembangan human capital dalam menghadapi kebutuhan kompetensi baru seiring dengan perkembangan industri pasar modal.

Berdasarkan profil tenaga kerja per 1 Oktober 2026, KPEI memiliki 209 tenaga kerja yang terdiri atas 180 karyawan dan 29 tenaga nonkaryawan. Sebanyak 97 persen karyawan memiliki latar belakang pendidikan sarjana (S1) dan magister (S2). Selain itu, sekitar 73 persen karyawan berusia 36 tahun ke bawah.

Komposisi tenaga kerja yang didominasi karyawan berusia muda dan berpendidikan tinggi tersebut menjadi modal bagi perusahaan dalam mengembangkan kompetensi SDM untuk menghadapi kebutuhan organisasi pada masa mendatang.

Dalam paparan kepada Dewan Juri TOP Human Capital Awards 2026 yang berlangsung secara daring pada Senin (19/10/2026), KPEI mengidentifikasi sejumlah implikasi strategis dari profil tenaga kerjanya, antara lain penguatan jalur karier, pengembangan karyawan, peningkatan keterikatan karyawan (employee engagement), dan retensi talenta muda.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ossy Oktoviany selaku Kepala Divisi Human Capital dan General Affairs, Aditya Yudha Kesuma (Kepala Unit Strategi Human Capital), Dyah Ayu Larasati (Kepala Unit Operasional Human Capital), Annisa Rahmah Usmani (Staf Strategi Human Capital), Abdau Siroh Amrulloh (Staf Strategi Human Capital), serta Marsha Putri Adani (Strategi Human Capital).

Berdasarkan materi presentasi KPEI, komposisi usia karyawan menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan strategi pengembangan SDM. Dengan sekitar 73 persen karyawan berusia 36 tahun ke bawah, penguatan jalur karier, pengembangan kompetensi, keterikatan karyawan, dan retensi talenta muda menjadi sejumlah prioritas yang perlu diperhatikan.

Sementara itu, kelompok karyawan berusia 37–46 tahun yang mencapai sekitar 20 persen menjadi perhatian dalam percepatan pengembangan kepemimpinan dan penyiapan suksesi untuk posisi Kepala Unit maupun Kepala Divisi.

KPEI juga mengidentifikasi pentingnya transfer pengetahuan dan penyiapan calon pengganti untuk jabatan-jabatan kritikal. Hal tersebut berkaitan dengan keberadaan sekitar 7 persen karyawan pada kelompok usia 52–56 tahun yang mendekati masa pensiun.

Di sisi lain, tingginya tingkat pendidikan karyawan menjadi modal bagi pengembangan kompetensi yang lebih spesifik. Strategi yang diidentifikasi mencakup pengembangan jalur spesialis, sertifikasi profesi, serta penguatan kompetensi di bidang data dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

BACA JUGA:   Bank Kalbar dan MSI Institute Gelar Pelatihan Manajemen Risiko dalam Perbankan

Melalui pendekatan tersebut, pengelolaan human capital diarahkan untuk mendukung kesiapan organisasi dalam menghadapi perubahan kebutuhan kompetensi dan pengembangan bisnis perusahaan.

Selain memperhatikan profil tenaga kerja, KPEI juga berupaya mengevaluasi keterkaitan antara investasi human capital dan kinerja perusahaan melalui indikator Human Capital Business Index.

Denny menyampaikan, indikator Human Capital Business Index periode 2024–2025 menunjukkan perkembangan positif. Pendapatan perusahaan meningkat sebesar 36,2 persen, sementara laba bersih tumbuh 75,8 persen. Pada periode yang sama, biaya kompensasi karyawan meningkat 7,2 persen dan biaya pelatihan naik 15,5 persen.

Menurutnya, peningkatan investasi dalam pengembangan SDM merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memastikan seluruh karyawan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan bisnis.

“Kami selalu mengalokasikan biaya pelatihan yang cukup besar untuk memastikan karyawan KPEI memiliki kompetensi yang memadai dalam menjalankan bisnis, sekaligus terus melakukan pengembangan agar perusahaan tetap relevan dan berkembang,” jelasnya.

Denny menambahkan, indikator tersebut menjadi salah satu dasar evaluasi untuk memahami keterkaitan antara investasi di bidang human capital dan pencapaian kinerja organisasi.

Dengan demikian, keputusan strategis terkait pengelolaan SDM diharapkan tidak hanya didasarkan pada kebutuhan operasional, tetapi juga didukung oleh data dan indikator yang terukur.

“Data ini kami gunakan untuk menghubungkan investasi human capital dengan hasil organisasi, sehingga keputusan pengelolaan SDM dapat dilakukan berbasis bukti,” katanya.

Human Capital Jadi Penggerak Strategi KPEI

Lebih lanjut, Denny memaparkan bahwa KPEI telah memiliki kerangka Human Capital Management System yang dirancang untuk menghubungkan strategi korporasi dengan agenda pengelolaan talenta perusahaan.

Kerangka tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan pengembangan kompetensi, budaya organisasi, dan pengelolaan SDM berjalan searah dengan sasaran bisnis jangka panjang.

Dalam Strategy House 2026–2030, perusahaan menetapkan sejumlah target strategis yang didukung oleh empat pilar utama serta berbagai faktor pendukung atau enabler.

Denny menekankan bahwa dua dari tiga enabler perusahaan adalah value and culture serta people. Hal tersebut mencerminkan besarnya perhatian KPEI terhadap penguatan nilai, budaya kerja, dan kualitas sumber daya manusia.

“Dua dari tiga enabler KPEI adalah value and culture serta people. Ini menunjukkan bahwa perusahaan sangat memperhatikan budaya, nilai, dan manusia sebagai salah satu modal utama dalam mencapai target organisasi,” ungkapnya.

BACA JUGA:   Konsisten Perkuat GCG dan Sarat Inovasi, Bank Jombang Siap Wujudkan Jombang Cashless City

Ia menegaskan bahwa human capital tidak lagi dipandang semata-mata sebagai fungsi pendukung operasional, melainkan sebagai modal strategis yang berperan langsung dalam pencapaian visi dan misi perusahaan.

Karena itu, penguatan budaya perusahaan dan pengembangan kompetensi karyawan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari implementasi strategi korporasi.

Dalam materi presentasi, KPEI memperkuat arah transformasi bisnis melalui penyusunan Strategy House 2026–2030. Strategi jangka panjang ini dirancang untuk mendukung visi perusahaan menjadi Central Counterparty (CCP) terpercaya bagi transaksi bursa, over-the-counter (OTC), dan bilateral, sekaligus menghadirkan nilai tambah bagi pengguna jasa melalui infrastruktur terbaik di kelasnya.

Mengusung semangat “Bridging Success: Navigating Pathways to Opportunities”, Strategy House 2026–2030 menjadi kerangka strategis KPEI dalam meningkatkan kualitas layanan, memperkuat pengelolaan risiko, mendorong inovasi, serta memperluas jangkauan layanan di pasar keuangan Indonesia.

Strategi tersebut merupakan penjabaran dari landasan korporat KPEI yang mencakup visi, misi, dan tujuan perusahaan. KPEI berkomitmen menjadi lembaga kliring dan penjaminan yang andal guna menyediakan layanan terbaik di pasar modal dan pasar keuangan Indonesia.

Untuk mewujudkan komitmen tersebut, KPEI menetapkan dua fokus strategis utama, yakni Service Excellence dan Market Inclusion.

Fokus Service Excellence diarahkan pada peningkatan kualitas layanan melalui penguatan infrastruktur yang andal dan efisien. Sementara itu, Market Inclusion bertujuan menghadirkan layanan yang memberikan nilai tambah sekaligus memperluas partisipasi dan akses bagi pengguna jasa.

Kedua fokus strategis tersebut dijabarkan ke dalam empat pilar utama yang menjadi fondasi pengembangan perusahaan selama periode 2026–2030.

Pilar pertama, Operational Excellence & Robust Risk Management, menitikberatkan pada penyediaan layanan terbaik, aman, dan efisien bagi seluruh pengguna jasa. Penguatan manajemen risiko menjadi bagian penting dalam menjaga keandalan operasional sekaligus mendukung keberlanjutan bisnis perusahaan.

Pilar kedua, Standard & Compliance, berfokus pada pemenuhan standar dan tata kelola domestik maupun internasional. Melalui pilar ini, KPEI berupaya memastikan seluruh aktivitas operasional berjalan sesuai dengan prinsip kepatuhan dan tata kelola yang baik.

Selanjutnya, pilar ketiga, Business & Innovation, diarahkan pada pengembangan produk dan layanan baru yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Inovasi menjadi salah satu instrumen penting bagi KPEI dalam merespons dinamika industri serta membuka peluang pengembangan bisnis.

BACA JUGA:   Memukau! Inilah Tiga Program Adopsi CSV PLN yang Layak Diapresiasi

Adapun pilar keempat, Customer Segment Expansion, berorientasi pada perluasan segmen pengguna jasa guna meningkatkan pemanfaatan layanan perusahaan. Langkah ini diharapkan dapat mendukung pengembangan ekosistem pasar keuangan yang semakin luas dan inklusif.

Selain menetapkan empat pilar strategis, KPEI juga menyiapkan tiga faktor pendukung utama atau strategic enablers, yaitu Value & Culture, People, dan Technology.

Pada aspek Value & Culture, KPEI menekankan pentingnya penguatan budaya perusahaan untuk menciptakan iklim kerja yang kondusif. Budaya organisasi yang kuat diharapkan mampu menjadi landasan bagi seluruh insan perusahaan dalam menjalankan transformasi secara konsisten.

Sementara itu, aspek People difokuskan pada upaya menarik, mengembangkan, dan mempertahankan sumber daya manusia (SDM) unggul. Pengelolaan modal manusia atau human capital menjadi elemen penting untuk memastikan KPEI memiliki talenta yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan industri pasar keuangan yang terus berkembang.

Kedua aspek tersebut juga menegaskan peran strategis fungsi Human Capital dalam mendukung pencapaian agenda transformasi perusahaan. Tidak hanya menjalankan fungsi administratif pengelolaan SDM, Human Capital diharapkan berkontribusi dalam membangun kapabilitas organisasi, memperkuat budaya kerja, serta memastikan kesiapan talenta untuk mendukung pencapaian sasaran bisnis.

Aspek ketiga, Technology, diarahkan pada pemanfaatan teknologi andal untuk mendukung ekosistem pasar keuangan. Penguatan teknologi menjadi bagian dari upaya meningkatkan efektivitas operasional, kualitas layanan, dan kesiapan perusahaan dalam menghadapi perkembangan kebutuhan industri.

Ketiga faktor pendukung tersebut saling melengkapi dalam memastikan implementasi Strategy House 2026–2030 berjalan secara terintegrasi.

Melalui Strategy House 2026–2030, KPEI menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan peran sebagai penyedia infrastruktur kliring, manajemen risiko, dan pengelolaan agunan yang andal.

Keselarasan antara strategi bisnis, penguatan sumber daya manusia, budaya organisasi, dan pemanfaatan teknologi menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan transformasi perusahaan.

Dengan fondasi strategis tersebut, KPEI diharapkan semakin siap menghadapi dinamika pasar, meningkatkan daya saing, serta memberikan kontribusi berkelanjutan bagi penguatan infrastruktur pasar modal dan pasar keuangan Indonesia.

Strategy House 2026–2030 menjadi pijakan KPEI untuk membangun organisasi yang semakin unggul, inovatif, dan adaptif, sekaligus memperkuat posisinya sebagai Central Counterparty terpercaya di Indonesia.

Previous Post

MSCI Usulkan Status Standalone: Bagaimana Dampaknya ke IHSG dan Rupiah? Ini Kata Analis Global

Next Post

OJK Lanjutkan Reformasi Pasar Modal, Fokus Transparansi dan Penegakan Hukum

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR