Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (ISD) pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan melaju di zona merah, meski di sesi pagi bergerak menguat.
Mengutip Bloomberg, rupiah dibuka di level 14.561 atau menguat 19 poin dari penutupan kemarin di posisi 14.580. Peguatan terus terjadi di satu jam pertama hingga ke tangga 14.539.
Reza Priyambada, analis pasar uang dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) menyebut, adanya rils neraca perdagangan yang masih defisit telah mengaburkan harapan akan adanya kenaikan pada laju Rupiah.
“Untungnya, pada perdagangan di Asia, laju USD sempat mengalami pelemahan karena pelaku pasar berspekulasi nantinya The Fed belum akan menaikan suku bunganya. Itu yang membuat rupiah naik,” kata dia di Jakarta, Selasa (18/12/2018).
Bahkan, kata dia, terdapat Jajak pendapat NBC/Wall Street Journal nasional yang menunjukkan bahwa secara keseluruhan, ada 28% warga AS mengatakan ekonomi akan menjadi lebih baik pada 2019.
“Namun sebanyak 33% responden memprediksi yang sebaliknya. Kondisi itu justru dapat membuat laju USD melemah,” terang dia.
Diharapkan, jika kondisi tersebut terjadi maka Rupiah dapat mengambil kesempatan tersebut untuk kembali menguat.
Sebelumnya, rupiah kembali berkubang di zona merah usai merespon rilis defisit neraca perdagangan yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS).
BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit US$2,05 miliar pada November 2018 seiring besarnya defisit di neraca migas.
Nilai defisit ini disebabkan dari posisi neraca ekspor yang tercatat hanya sebesar US$14,83 miliar atau lebih rendah dibandingkan nilai neraca impor sebesar sebesar US$16,88 miliar.
Dengan kondisi demikia, Reza memproyeksikan laju Rupiah akan bergerak di kisaran 14585-14562.
“Namun demikian, tetap waspadai berbagai macam sentimen dan waspadai sentimen yang dapat membuat laju Rupiah kembali melemah,” saran dia.
Penulis: Tomy
