Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diprediksi akan kembali melanjutkan apresiasinya. Hal ini dikarenakan adanya sikap dovish dari bank sentral AS, The Fed yang membuat USD menurun dan rupiah berbalik naik.
Mengutip Bloomberg pada perdagangan hari ini, rupiah dibuka di level Rp14.136 atau menguat tipis hanya 4 poin dari penutupan kemarin di posisi Rp14.140. Namun tak lama setelah itu, mata uang NKRI itu mulai melemah dan dalam satu jam pertama berada di tangga Rp14.157 atau atau melemah 0,12 persen.
Menurut analis pasar uang dari Binaartha Sekuritas Technical Research, M. Nafan Aji Gusta Utama, secara eksternal, pernyataan The Fed yang dovish itu terkait dengan prospek ekonomi AS serta penetapan tingkat suku bunga yang dipertahankan di level 2,5%, tentunya memberikan katalis positif bagi menguatnya stabilitas fundamental ekonomi Indonesia. Termasuk terhadap rupiah maupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Adapun dovish effect tersebut tentunya menyebabkan dolar AS terdepresiasi dibandingkan dengan berbagi instrumen lainnya,” tandas dia di Jakarta, Jumat (22/3/2019).
Dengan kondisi tersebut sangat menguntungkan bagi laju mata uang Garuda itu. Apalagi secara internal juga ditopang sentiment positif.
Para pelaku pasar dianggap mengapresiasi langkah Bank Indonesia (BI) yang tetap menahan suku bunga acuannya, BI 7 Day Repo Rate di level 6%. Ini dilakukan BI dalam rangka menjaga tingkat stabilitas moneter di tengah-tengah ketidakpastian global.
“Dengan sentiment itu, pergerakan rupiah terhadap dolar AS diperkirakan masih dalam tren positif dan akan cenderung melanjutkan penguatannya untuk hari Jumat ini,” jelas dia.
Apalagi secara teknikal, kata dia, terlihat pola downward bar pada chart harian USDIDR yang mengindikasikan adanya potensi penguatan bagi rupiah terhadap USD.
Dengan kondisi sentiment yang melingkupi rupiah itu, Nafan meramal pada perdagangan Jumat ini pergerakan rupiah di rentang Rp14.040 hingga Rp14.200 per USD.
Penulis: Tomy
