Jakarta, TopBusiness – Emiten jasa transportasi laut yakni PT Pelayaran Tempuran Emas Tbk (TMAS) sepanjang kuartal I-2019, mencatatkan laba bersih sebesar Rp 42,32 miliar. Atau naik 25% dari periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp 33,94 miliar.
Untuk itu perseroan makin optimistis menatap kinerja perseroan di tahun ini. TMAS pun menargetkan pendapatan atau penjualan hingga akhir tahun bisa mencapai Rp2,6 triliun.
“Perseroan berhasil mengawali kinerja dalam tiga bulan pertama ini dengan performa positif di tengah kondisi persaingan usaha yang sangat ketat dan tren perlambatan ekonomi global,” ujar Harry usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Rabu (19/6/2019).
Kenaikan laba bersih ini, kata dia, ditopang penjualan dan pendapatan usaha Temas Line yang naik 9% menjadi Rp 608,16 miliar dari periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp 558,25 miliar.
Dengan kinerja yang positif itu, kata dia, perseroan optimistis di tahun ini bisa mendulang pendapatan hingga Rp2,6 triliun. “Kenaikan pendapatan itu karena salah satunya kita sudah lakukan kerja sama dengan Mentari Line sehingga bisa menggenjot kinerja pelayaran,” kata dia.
Selain itu, kata dia, perseroan juga masih konsisten menjalankan dan semakin memantapkan strategi National Network yang sudah diterapkan tahun lalu. Pada 2018, ada penambahan 3 (tiga) pelabuhan yang dilayani, sehingga total jumlah pelabuhan yang dilayani armada Perseroan mencapai 41 pelabuhan.
“Tahun lalu, kami juga berinvestasi dengan menambah alat-alat bongkar muat di pelabuhan. Kami juga meneken perjanjian kerja sama pembiayaan dengan JA Mitsui Leasing Ltd yang akan menyediakan dana untuk rencana pembelanjaan barang modal berupa alat bongkat muat peti kemas,” ujarnya lagi.
Selain itu, Temas Line juga berpartisipasi mengikuti tender Tol Laut yang digelar Pemerintah. Ada dua tender Tol Laut yang diikuti dan dimenangkan yaitu Trayek T-9 (rute Surabaya-Nabire-Serui-Wasior-Surabaya) dan Trayek T-11 (rute Surabaya-Timika-Agats-Merauke-Surabaya).
Tol Laut adalah program pemerintah untuk jalur distribusi barang di dalam negeri guna meningkatkan konektivitas antar-pulau dan mengurangi disparitas harga-harga di wilayah Timur Indonesia.
Direktur Keuangan TMAS, Ganny Zheng menambahkan, untuk kinerja sepanjang tahun lalu, Perseroan mencatatkan pendapatan jasa netto mencapai Rp 2,32 triliun, atau naik 16% dari pendapatan tahun 2017 Rp 2 triliun.
Namun beban jasa perseroan naik 21% menjadi Rp 2,09 triliun dari sebelumnya Rp 1,73 triliun. Naiknya beban itu membuat laba bersih turun 35% menjadi Rp 34,82 miliar dari sebelumnya Rp 53,36 miliar.
“Penurunan laba disebabkan biaya pembelian bahan bakar yang mengalami kenaikan sebesar 42% menjadi salah faktor yang cukup menggerus pendapatan perseroan,” ungkap dia.
Tahun lalu, kata Ganny, harga rata-rata bahan bakar naik 40,4% menjadi Rp 11.459 per liter dari sebelumnya Rp 8.164 per liter. Rata-rata uang tambang per TEUs (twenty’foot equivalent units, 1 peti kemas ukuran 20 kaki) juga naik 17,2% menjadi Rp 3,13 juta per TEUs dari sebelumnya Rp 2,67 juta TEUs.
Penulis: Tomy
