TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Gapensi Hadir di Dunia Perguruan Tinggi

Agus Haryanto
16 December 2019 | 17:24
rubrik: Ekonomi
Produk Dalam Negeri untuk Peningkatan Konstruksi Nasional

Jakarta, TopBusiness – Gapensi tak kenal lelah sambangi 34 kampus di 34 propinsi seluruh Indonesia. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan semangat belajar untuk mendapatkan sumber daya manusia berkualitas, sekaligus menutupi kekurangan jumlah tenaga kerja dalam rangka menciptakan program infrastruktur.

Salah satu tantangan dari program  pembangunan  infrastruktur adalah  belum cukup tersediannya sumber daya manusia baik dari jumlah maupun  kualitasnya.  Sehingga   bisa berimbas pada kualitas konstruksi yang dibangun, atau bahkan kadang masih harus mendatangkan tenaga ahli dari luar negeri untuk mengerjakan proyek-proyek nasional kita. Selain itu meski  sudah  di  tingkat  akhir   pun,   khususnya mahasisawa teknik,   sering kebingungan setelah nanti  lulus mau ke mana,  kerja  apa  dan  ketrampilan  apa  saja yang diperlukan.

Bahkan sering dijumpai mahasiswa teknik setelah mereka lulus, justru banyak bekerja  atau   berwirausaha  di   luar   bidang  keteknikan,   padahal investasi   untuk bisa menghasilkan sarjana teknik memerlukan usaha dan biaya lebih tinggi.  “Atas dasar itulah asosiasi   Gapensi   (Gabungan   Pelaksana   Konstruksi   Nasional   Indonesia)   terpanggil   untuk melakukan   kegiatan   “GAPENSI  Goes   to   Campus   seri   keempat”,   demikian   keprihatinan Iskandar Z. Hartawi,  ketua umum Badan Pengurus Pusat GapensiI saat ditemui di sela-selaacara Kampus Politeknik Ujung Padang, Makasar.

Acara ini adalah rangkaian road show dari rencana yang akan diselenggarakan di 34 kampus di 34 propinsi seluruh Indonesia. Dalam kegiatan yang dikemas dalam acara career workshop, mahasiswa diberikan gambaran tentang   dunia  kerja   nantinya setelah   meraka   lulus   agar   mereka   bisa   menyiapkan   masa depan jauh-jauh hari.  Pilihan berkarir sangat tergantung minat masing-masing, misal team dari Pekerjaan Umum memberikan gambaran bagaimana menjadi regulator (ASN) sektor konstruksi.

Selain menjadi ASN (aparatur sipil negara) ternyata para mahasiswa juga banyak bercita-cita menjadi   pengusaha bidang konstruksi baik itu menjadi  kontraktor maupun konsultan.   Diberikan   juga   gambaran   jika   ada   yang   memilih  bekerja/berusaha   di   bidang penyediaan material atau peralatan konstruksi.

BACA JUGA:   Penerimaan Negara dari Sektor Hulu Migas Lebihi Ekspektasi

Bahkan diberikan gambaran oleh team dari industri konstruksi,   jika mereka  berminat mendirikan  pabrik untuk produksi material-material   konstruksi.

Acara   berlangsung   sangat   meriah   dan   interaktif,   keingintahuan mahasiswa Politeknik Ujung Pandang sangat besar, banyak pertanyaan-pertanyaan tentangsegala sesuatu tentang karir mereka setelah lulus.

“Ini pengetahuan yang luar biasa, sulitkami mendapatkan jika hanya berada di dalam kampus saja, pikiran serta wawasan kami kinimenjadi lebih terbuka,” kata salah satu mahasiswa peserta acara ini.

Perguruan Tinggi akanmendapatkan   manfaat   banyak   sekali   dengan   acara-acara   semacam   ini.   Mahasiswa mendapat banyak  ilmu dari para pelaksana industri konstruksi di lapangan, karena pasti beda dengan apa yang sehari-hari mereka dapatkan dari pelajaran akademis di Kampus.

Dan yang jauh lebih penting, acara ini akan bisa menjadi sarana membangun interaksi antara perguruan   tinggi   dan   dunia   industri.  Keduanya  harus   bersinergi,   saling   mengisi   dan menguatkan   perannya.   Perguruan tinggi   akan   bisa   memperbaiki   kurikulum   berdasarkan masukan dari industri agar bisa menghasilkan lulusan yang lebih siap bekerja, demikian jugadiharapkan industri bisa memanfaatkan temua-temuan dan fasilitas penelitian di perguruan tinggi untuk bisa dimanfaatkan guna menyelesaikan masalah-masalah kontruksi di lapangan.

Iskandar Z.  Hartawi pun sepakat sudah menjadi  komitmen Gapensi.  “Kerjasama antara peguruan tinggi dan industri harus terus dilakukan, untuk itulah saat ini kami mau dan tak kenal lelah mendatangi banyak perguruan  tunggi di seluruh Indonesia”.

Di   akhir   acara   workshop   tersebut,   juga   disepakati bahwa   para   mahasiswa   setelah lulus diharapkan tetap mau bekerja di bidang keteknikan. Karena negara, masih kekurangan tenaga ahli teknik baik untuk jenjang sarjana apalagi untuk tenaga terampil dari pendidikan vokasi.

Salah satu nara sumber menyampaikan data perbandingan bahwa jumlah tenaga ahli teknik di Indonesia kurang lebih 3 ribuan/1 juta penduduk, sementara di Vietnam yang merupakan juga negara berkembang jumlah tenaga teknik mereka sudah mencapai jumlah 8 ribuan/1 juta penduduk.

BACA JUGA:   Kontribusi Dunia Usaha ke Lingkungan Capai Rp50,3 T

“Kita tentu tidak mau kalah dengan negara Vietnam, sementara sumber daya alam kita yang memerlukan keahlian teknik untuk bisa mengolahnya jauh jauh lebih besar dari mereka. Karena jika tidak, justru nanti sumber daya alam kita akan lebih banyak diolah dan bahkan dikuasai oleh tenaga teknik asing, tentu bukan itu seperti  itu maunya  kita.  Kita   harus   bisa   kerjakan   dan   olah   sendiri   untuk   kesejahteraan   bersama”, tutup Iskandar.

 

Albarsyah

Previous Post

OJK Apresiasi Kinerja Emiten dan Perdagangan Saham Terbaik

Next Post

Sentimen Positif AS-Eropa akan Naikkan IHSG

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR