TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Koalisi Indonesia Hebat Kedodoran, Rupiah dan IHSG Turun

Nurdian Akhmad
17 October 2014 | 10:09
rubrik: Ekonomi
Joko Widodo (Viva.co.id)
Joko Widodo (Viva.co.id)

Jakarta, businessnews.id — Investor pasar modal, terutama investor asing, mulai terlihat meragukan kemampuan kepemimpinan presiden terpilih RI, Joko Widodo (Jokowi).

Hal itu ditandai dengan kekalahan Koalisi Indonesia Hebat yang terdiri dari partai-partai pengusung pasangan Jokowi dan Jusuf Kalla (JK) di parlemen. Seperti dalam pemilihan Ketua MPR, DPR, dan disetujuinya Rancangan Undang-undang Pemilihan Kepala Daerah (RUU Pilkada) menjadi undang-undang.

“Rentetan kekalahan diikuti oleh turunnya IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dan nilai tukar Rupiah USD,” kata ekonom Bank DBS Indonesia, Gundu Cahyadi, di Jakarta (16/10/2014).

Gejala tersebut menunjukkan, investor terlalu berharap banyak kepada kepemimpinan Jokowi. Namun, koalisi tersebut tak mampu berbuat banyak di parlemen. Sehingga, platform ekonominya diduga akan sulit berjalan.

“Adanya kekuatiran dari pasar atas efektivitas dan kelancaran program pemerintahan baru, turut menjadi salah satu faktor merosotnya Rupiah dan IHSG.”

Dia menambahkan, hilangnya kepercayaan investor itu terlihat dalam satu bulan terakhir.

Saat pertarungan Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih terjadi di parlemen, pelemahan nilai tukar Rupiah pun terjadi.

“Jika dibandingkan dengan mata uang Asia lainnya, penurunan Rupiah terburuk kedua setelah Won Korea Selatan. Dalam satu bulan terakhir, Rupiah merosot 4 persen, padahal mata uang Asia lainnya hanya merosot 2 persen.”

Sedangkan, IHSG menurun 4,6 persen, lebih besar dibanding rata-rata penurunan indeks saham di Asia sebesar 3 persen.

Sehingga ia berharap, investor jangan terlalu berharap banyak pada Jokowi.

“Investor terlalu berharap banyak kepada Jokowi, ini tidak benar. Seharusnya kita berharap membuat kebijakan-kebijakan baby step yakni langkah kecil, namun kebijakan itu dapat berjalan,” terang dia.

Kebijakan itu seperti reformasi energi, misalnya mencabut subsidi BBM (bahan bakar minyak).

BACA JUGA:   Ini Komentar Jokowi soal Pelemahan Rupiah

Langkah kedua, melakukan pengaturan ulang di sektor manufaktur agar bisa bersaing di tingkat Asean, dan meningkatkan anggaran infrastruktur.

 Penulis/Peliput: Abdul Aziz

Editor: Achmad Adhito

 

Tags: jokowitim ekonomi
Previous Post

Ada 5 Bahaya, Tim Ekonomi Jokowi Harus Profesional

Next Post

Sembilan Bulan, Laba Bersih Danamon Rp 2,53 Triliun

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR