Kisah tentang Kaimana yang bukan cuma jelita dengan panoramanya yang serupa Raja Ampat, namun juga masyarakatnya yang berwarna namun hidup dlam harmoni, pun cerita tentang pembangunan infrastruktur yang masih belum mendektakan jarak masyarakat dengan kesejahteraan, mengemuka pada acara Mari Cerita (MaCe) Mengenal Papua, di Ruang Auditorium Pusgiwa Universitas Indonesia (UI), Depok, pada Kamis (27/2).
Aneka warna Papua dikupas di acara yang dihadiri para mahasiswa aneka jurusan serta sivitas akademika itu, terasa relevan dengan kondisinya yang kini masih menjadi berita akibat letusan konflik itu. Sosok Papua yang ternyata punya putra-putra daerah yang berdedikasi tinggi di bidang akademik sekaligus bisnis, dihadirkan dari Jean Richard Joku,31, yang menjadi salah satu narasumber. Ia adalah doktor asli Papua termuda dari UI. Dosen di President University yang juga pengusaha kontruksi di tanah kelahirannya itu berkisah tentang pentingnya pemahaman pemerintah serta pemangku kepentingan lainnya yang berkegiatan di Papu tentang uniknya karakter masyarakat lokasi di sana.
“Di sana, baik pemerintah pusat maupun swasta atau BUMN, termasuk yang kini intens melakukan pembangunan infrastruktur, harus memahami dan menghargai pengaruh masyarakat asli terhadap proyek di Papua, ini berbeda dengan daerah-daerah lain. Libatkan dan ajak komunikasi masyarakat lokal,” ujar Jean kepada TopBusiness pada Kamis (28/2).
Jean yang mengangkat sola pentingnya interaksi antara pemangku kepentingan yang bergiat di Papua dengan masyarakat adat dalam disertasinya mencontohkan langkah yang ditempuh PT Angkasa Pura yang mengelola Bandara Sentani, Jayapura yang berkontribusi menggenjot pariwisata di Papua.
“Saya memberikan insight tentang kondisi Papua di depan para mahasiswa, saya rasa momennya sangat berharga karena UI adalah salah satu pelaku dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Mereka mendapat gambaran nyata tentang kondisi Indonesia timur terkini,” ujar Jean yang menempuh pendidikan magister dna doktoralnya di UI itu.
Jean mengaku optimistis, anak-anak muda Papua di berbagai kampus negeri ini, termasuk di UI , akan mmeberi warna saat mereka pulang ke tanah kelahirannya. “Saya lihat UI telah memberikan wadah bagi anak-anak Papua, dan saatnya mereka juga makin meningkatkan perannya mislanya di organisasi mahasiswa untuk mengusung warna Papua di sana,” ujar jean.
Senyum toleransi di
Papua Barat
Optimisme pada Papua, salah satunya dihasilkan interaksi kampus dengan
mahasiswa,juga diungkapkan Nanny Uswanas, Direktur Institut Kalaway Muda yang
intens menyebarkan kabar tentang harmoni yang terjadi antaretnis dan antaragam
di Papua Barat, khususnya Kaimana dan Fakfak.
“Kami melakukan konsolidasi dengan kelompok organisasi kepemudaan lintas iman dan etnis serta mengkampayekan narasi perdamaian lewat event lokal dan nasional, termasuk di acara UI ini. Kalaway merupakan terjemahan kultur hidup orang Papua secara umum khususnya wilayah adat Bomberay yaitu Kabupaten Fakfak & Kaimana,” ujar Nanny.
Kalaway, kata Nanny, menyebarkan tentang kultur membangunkan sahur hingga acara natalan yang kental kultur lokal. “Di MaCe Papua, para mahasiswa banyak yang melontarkan teknik untuk berinteraksi dengan orang Papua. Nah ini kesempatan bagi saya untuk memperkenalkan wajah lain dari Tanah Papua yang jarang diketahui orang, apalagi generasi milenial. Dari acara di UI ini, Kalaway memiliki jaringan baru untuk terus dapat bersinergi mengkampanyekan budaya lokal Fakfak Kaimana,” ujar Nany yang kini mencari pendanaan untuk membantu menyusun kurikulum toleransi yang akan diajarkan di sekolah-sekolah Papua.
Ayo berkontribusi
sosial
Kisah yang sarat warna Papua yang berbeda dibawakan Ronald Manoach, seorang
pegiat sosial. “Sehari-hari saya mengelola
Klinik bersalin Non Provit”Bumi Sehat Papua” di Sentani kabupaten
Jayapura-Papua yang non profit setiap harimnya, lokasinya di samping rumah saya,”
ujar Ronald yang juga mengisahkan kiprahnya itu pada para peserta MaCe.
Pada Maret 2019, ketika Sentani dilanda banjir, Ronald secara swadaya menampung korban banjir selama satu setengah bulan. Berikutnya, pada Oktober 2019, terlibat dalam distribusi bantuan dari Kementrian Sosial di Kabupaten Jayawijaya dalam penyelesaian korban kerusuhan. Terbaru, mnampung korban kerusuhan Wamena.
“Saya mencontohkan aktivitas sosial menjadi orang tua angkat bagi anak Papua dan semua aktivitas sosial itu adalah bentuk kontribusi nyata dan itulah wajah Papua, smeoga itu bisa menginspirasi. Kita harus menjadi generasi solutifbagi semua orang yang membutuhkan. Jangan selalu mempersalahkan dan mengaharapkan pemerintah,tetapi dengan bersinergi dan memiliki hati mengasihi sesama pasti akan dibukakan jalan untuk berbuat baik.”
Mempaparkan langsung kisah warga Papua dengan aneka rupa peristiwa, Ronald mengaku bersyukur karena bisa mereduksi isu-isu negatif tentang Papuamdan warganya. “Sebab kita perlu mengangkat diskursus dan publikasi positif tentang Papua untuk meningkatkan jaringan. Saya juga dapat kesempatan berharga memberikan motivasi dan menanamkan nilai-nilai pada mahasiswa Papua di UI dan mahasiswa dari kampus lain agar kelak mereka kedepan dalam berkarya di bidangnya akan lebih produktif.”
Ronald mengaku, berbiacra di nruang-r8uang akademis akan sangat solutif. “Sebab kampus adalah ruang netral,belum terkontaminasi dengan kepentingan politik sehingga dapat menyampaikan pikiran kritis tentang Papua. Semoga langkah UI ini bisa diikuti kampus-kampus lain. Idealnya dibuat focus group discussion secara berkelanjutan dengan membahas kasus sampai tuntas dengan menghadirkan semua pihak yang berkompeten di bidangnya.”
Jean, Nanny dan Ronald menyebarkan Papua yang penuh warna bagi para milenial, mengajak berkontribusi dan memberi pengungkit bagi warga di sana.
