TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Bos Alfamart: Penjualan Ritel Mulai Pulih

Nurdian Akhmad
6 April 2021 | 13:34
rubrik: Business Info
Kolaborasi Alfamart-NFCX Jaga Loyalitas Konsumen via Digital

Foto: istimewa

Jakarta, TopBusiness – Sektor perdagangan eceran atau ritel terutama fast moving consumer goods (FMCG) mengalami kontraksi paling buruk selama 20 tahun terakhir. Di 2020, penjualan FMCG kontraksi hingga 5,9 persen. Kondisi paling parah  terjadi pada pertengahan tahun lalu dan mulai bangkit menjelang akhir 2020.

Lantas bagaimana kondisi dunia usaha ritel tahun 2021? Pelaku ritel tetap optimis, terutama melihat dengan adanya proses vaksinasi yang diyakini bisa mendorong pemulihan ekonomi lebih cepat, khususnya di sektor ritel.

“Bagaimana 2021? kita melihat atau memasuki tahun 2021 dengan optimisme terutama paling kita. Sebutkan program vaksinasi dimulai, kita memandang vaksinasi sebagai kunci pemulihan ekonomi. Saya kira per Maret situasi menjadi lebih baik ya kita masih sangat optimis bahwa 2021 Harusnya bisa lebih baik dibandingkan 2020,” ujar Presiden Direktur PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) Anggara Hans Prawira dalam Forum Indonesia Bangkit Vol.1, Selasa (6/4/2021).

Berdasarkan catatan dari data Nielsen, dalam 20 tahun terakhir industri FMCG tidak pernah mengalami kontraksi sebesar itu. Bahkan pada krisis di 2018, FMCG hanya mengalami kontraksi 1 persen saja.

“Sepanjang yang saya catat ya selama 20 tahun terakhir industri FMCG tidak pernah mengalami kontraksi yang paling jelek itu tahun 2018 kita tumbuh sekitar 1 persen, ini menurut data Nielsen ya,” ujarnya.

Hal itu disebabkan karena penurunan daya beli konsumen di masa pandemi covid-19 pada tahun 2020, terutama bagi segmen menengah ke bawah. Ditambah dengan adanya pembatasan sosial yang diyakini untuk mencegah penularan virus covid-19 semakin meluas, hal itu sangat mempengaruhi sektor ritel.

“Secara umum memang pandemi ini sangat berdampak pada bisnis ritel. kita lihat perjalanan tahun 2020 kita mengawali tahun 2020 dengan sangat optimis kuartal pertama bagus sekali. Apalagi di bulan Maret itu untuk industri ritel mengalami panic buying paling luar biasa animo masyarakat belanja,” ungkapnya.

BACA JUGA:   Laba Rp1,11 T, RUPST AMRT Tak Bagi Dividen

Namun di pertengahan 2020 sektor ritel mengalami masa sulit. Misalnya saja, menjelang bulan puasa dan idul fitri sektor ritel selalu ramai dengan pembeli yang membeli kebutuhannya, namun menjelang akhir 2020 sektor ritel mulai bangkit kembali.

“Tapi pertengahan 2020 itu sangat berat, masa masa periode Ramadan itu biasanya menjadi masa panen retailer tapi 2020 sangat berat bagi kita, lihat dari Juli sampai Desember daya beli termasuk juga industri ritel relatively lemah, tapi terus membaik sampai katakanlah 2020 akhir Desember,” jelasnya.

Tags: alfamartpenjualan ritel
Previous Post

Soal Porsi Kredit UMKM, Pemerintah Diminta Turunkan Suku Bunga Bank untuk KUR dan Ritel

Next Post

PT Great Giant Pineapple, Piawai Ber-CSR dan Low Profile

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR