Jakarta, TopBusiness – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA dalam menjalankan program tanggung-jawab sosial dan lingkungan (TJSL) selalu melakukan monitoring dan evaluasi. Itu diimplementasikan dalam rangka mengetahui seefektif apa program tersebut dapat dirasakan baik oleh perseroan tersendiri, maupun pemangku kepentingan.
“Untuk memastikan apakah kegiatan TJSL beroperasional dengan baik tentunya kita selalu melakukan monitoring dan evaluasi dalam setiap kegiatan kita. Dari situ akan terlihat hasil, kalau itu memang signifikan mendukung kegiatan operasi (perseroan). Kita akan lanjutkan,” kata Head of CSR Yuliana Triwijayanti – Head of CSR, saat sesi pendalaman materi presentasi berjudul Bangkit dengan Menanam Harapan dan Menebar Kebaikan untuk Keberlanjutan Usaha, di Jakarta dalam jaringan aplikasi zoom online, di Jakarta, Jumat (04/03/2022).
Dihadapan Dewan Juri TOP CSR Awards 2022, Yuliana menilai dapat saja perseroan melakukan penghentian program TJSL, jika benar-benar tak bisa ditumbuhkembangkan lagi, selain juga untuk menekan biaya. “Itu tentunya kami akan meminimalisir, kemudian kita carikan kegiatan atau aktivitas lain yang lebih fokus untuk mendukung kegiatan operasional kita,” ungkap dia.
Selain itu, perseroan melakukan pengukuran dengan metode social return on investment (SROI). “Dan tentunya juga kita melakukan pengukuran itu. Pengukuran secara SROI, yaitu social return on invesment untuk beberapa kegiatan TJSL. Nanti akan tampak dari situ. Apakah kegiatan itu layak untuk dilanjutkan ataupun tidak ada. Berarti ada yang tidak sesuai dengan sasaran. Dari situlah akan didapat bagian-bagian yang mana akan kita coba perbaiki,” jelas Yuliana.
Di kesempatan yang sama, Mahendra Vijaya, sebagai corporate secretary WIKA, berpandangan hal yang sama. “Kami selalu melakukan pengukuran terhadap dampak operasi baik itu projek kemudian pabrik kemudian juga kawasan dan sebagainya,” kata dia.
Bahkan dia menyebut beberapa hal yang perlu diukur terkait dengan program-program tanggung-jawab sosial perusahaan atau CSR. “Ada berbagai hal yang kami lakukan pengukuran. Yang pertama adalah dampak karbonisasi, yang kemudian kedua adalah dampak penggunaan energi, dan ketiga juga tentunya adalah dampak sosial,” papar Mahendra.
Dikatakan dia, pihaknya kini berusaha untuk menekan emisi karbon, selain tetap menjalankan program-program yang bersifat normatif. “Dan juga dari dua tahun belakangan ini, yang menjadi konsen kami adalah bagaimana perusahaan itu bisa mengurangi dampak karbonisasi dari hasil operasinya. Inilah yang saat ini sedang kita dorong, selain dari pada program-program normatif TJSL seperti penanaman pohon, kemudian pengendalian sampah dan sebagainya,” katanya.
Diakui Mahendra, unit CSR selalu berkomunikasi dengan divisi-divisi lainnya terkait akan dampak aktivitas yang dilakukan perseroan atas projek-projek yang selama ini berjalan di lini-lini bisnis, bahkan hingga anak-anak usaha perseroan.
“Komunikasi antara unit operasi dengan unit CSR terkait dengan beberapa dampak aktivitas yang dilakukan, ini memang dilakukan secara berkala selama 3 bulan sekali, sehingga kami di pusat itu bisa memonitor setiap aktivitas TJSL yang dilakukan oleh projek, maupun juga oleh anak perusahaan gunanya untuk memastikan apakah program yang kita canangkan di pusat itu inline dengan apa yang dilakukan projek-projek anak usaha,” katanya.
