Jakarta, Top Business – PT Sasa Inti merupakan perusahaan pembuat makanan dan bumbu masakan dengan brand ‘Sasa’ yang begitu terkenal di Indonesia. Seiring perjalanan, perusahaan yang berdiri sejak 1968 ini tidak hanya jago dalam meracik makanan dan bumbu yang laku di pasaran, demikian dengan urusan tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat.
Seperti dikatakan Rida Atmiyanti, Head of Stakeholder Relation PT Sasa Inti, sebagai brand atau produk yang sudah dikenal, Sasa mengalami suatu transformasi sejak tahun 2019.
“Awal dari transformasi itu adalah dengan diluncurkannya ‘CARE’ atau Sasa Basic Mentality. CARE itu singkatan dari Courage, Action Oriented, Respectful, dan Enthusiastic yang menjadi landasan kami untuk kemudian melakukan berbagai aktivitas termasuk salah satunya adalah CSR kami,” ungkap Rida pada sesi penjurian Top CSR Awards 2022 yang diadakan Majalah Top Business, Senin (7/3/2022).
Sasa sendiri telah memiliki tiga pabrik, antara lain pabrik PT sasa Inti Gending untuk produk MSG, pabrik PT Sasa Cikarang untuk produk non MSG, dan pabrik PT Sasa Inti Minahasa Selatan untuk produk santan.
Selaraskan Bisnis dan CSR
Dalam kaitannya antara aktivitas bisnis dengan CSR, Rida mengungkap strategi Sasa, antara lain mempercepat proses inovasi teknologi dan produk; mengoptimalkan kinerja manufacturing; meningkatkan pencapaian sales; keunggulan operasi dan mempertahankan standar kualitas industry; dan memastikan kesiapan organisasi dan SDM.
Lebih lanjut, Rida mengungkap visi dan misi perusahaan terkait CSR dan pembangunan berkelanjutan. Seperti diketahui, Sasa memiliki visi menjadi perusahaan makanan dan bumbu terkemuka dari Indonesia.
“Tentunya ini bukan hanya sekali jadi, tetapi ini adalah program yang berkesinambungan. Kemudian terkait itu, kontribusi perusahaan dalam hal ini adalah pastinya mengidentifikasi, supaya semua stakeholder ini bisa men-support bisnis tetap bisa sustain,” tandas Rida.
Rida memaparkan bahwa sejak tahun 2020, Sasa telah memiliki departemen baru, yaitu Stakeholder Relation, dengan salah satu fokusnya adalah sustainability. “Kami memiliki tiga pilar, yaitu External Communication, baik itu untuk komunikasi dengan government, NGO, Community, Media, Expert, Association, Labour Union, Employee.”
“Kemudian kami juga memastikan bahwa perusahaan ini sudah comply dengan regulasi yang berlaku. Dan pastinya adalah (untuk) bisa sustain kami melakukan berbagai aktivitas CSR, CSV, perbaikan untuk crisis management, dan charity. Yang awalnya hanya charity kami sudah beralih ke CSV perlahan-lahan,” papar Rida.
Selanjutnya, disebutkan guna memastikan keberlangsungan bisnis perusahaan tetap terjaga, hal itu dilakukan dengan memastikan secara dini perubahan konstelasi pasar, persaingan, teknologi, proses bisnis, situasi sosial-politik, regulasi, arah kebijakan pemerintah pusat dan daerah. Kemudian tidak kalah penting adalah memanage dan membina hubungan baik dengan seluruh stakeholder.
Dalam melakukan kegiatan CSR, Rida mengatakan bahwa Sasa menggunakan pendekatan dengan mengidentifitaksi stakeholder. “Jadi, di masing-masing area kami melakukan identifikasi, masalah apa atau isu apa yang banyak atau sedang menjadi problem di satu area stakeholder. Dari sana kemudian kami baru merumuskan action plan, serta strategi jangka panjang dan jangka pendeknya seperti apa. Kemudian baru kami membuat aktivitas-aktivitas yang lebih detail berdasarkan identifikasi staketholder di masing-masing area tersebut,” ungkapnya.
Masih soal keterkaitan strategi bisnis perusahaan dengan CSR, ada tiga hal yang juga menjadi fokus Sasa, yakni People, Profit, dan Planet. Dikatakan Rida, terkait dengan people, yang menjadi fokus perhatian perusahaan adalah aktivitas yang mengutamakan pada pendidikan, kesehatan, dan juga kegiatan yang men-support untuk happiness (kebahagiaan).
“Karena kami punya tagline happiness di Sasa. Sasa membawa kebahagiaan, atau membagi kebahagian melalui makanan yang mudah disajikan, lezat dan sehat. Jadi, itu yang kami tekankan,” jelasnya.
Sementara untuk profit, Rida memastikan bahwa seluruh kegiatan CSR harus memiliki dampak terhadap bisnis, artinya harus bisa membuat bisnis itu menjadi lebih sukses. Untuk jangka panjang, kata Rida, yang menjadi tren itu adalah penambahan kata ‘Sehat’ pada misinya, menyajikan makanan yang mudah disajikan, lezat dan sehat. “Nah, kata sehat ini sendiri memiliki banyak implikasi termasuk kepada kegiatan-kegiatan kami,” tandasnya.
Inisiatif CSR
Sejatinya, banyak program CSR yang telah dilakukan PT Sasa Inti, hanya saja dalam paparannya perusahaan mengungkap beberapa saja, dan yang paling ditonjolkan adalah program CSR yang berkaitan dengan masa New Normal.
“Seluruh kegiatan CSR di masa New Normal ini difokuskan untuk pencegahan penyebaran, percepatan vaksin, dan seterusnya,” kata Rida.
Berikut Program CSR unggulan di masa pandemi COVID-19 dan Kenormalan Baru dari Sasa yang ditujukan untuk kalangan internal:
- Menyediakan bantuan vitamin, obat & buah kepada karyawan yang terpapar Covid.
- Membentuk “group konsultasi” tentang Covid untuk memberikan informasi, memantau kondisi & memberi semangat kepada karyawan yang terpapa Covid
- Bekerja sama dengan pihak asuransi kesehatan untuk memberikan konsultasi gratis terutama bagia karyawan yang melakukan isolasi mandiri di rumah.
- Mengedukasi karyawan secara rutin mengenal berbagai informasi terkait Covid untuk meningkatkan “awareness”.
- Melaksanakan swab antigen rutin kepada seluruh karyawan setiap sebulan sekali.
- Menyediakan karantina mandiri untuk karyawan jika terpapar Covid.
- Bantuan sembako untuk seluruh karyawan di pabrik setiap 2 bulan sekali mulai April 2020
- Menyediakan vitamin dan masker untuk karyawan yang rutin dibagikan setiap bulan.
Selain untuk internal, Sasa juga melakukan CSR untuk eksternal. Di sini disebutkan bahwa program yang menjadi kebanggaan Sasa pada tahun 2021 adalah program Pembinaan UMKM atau Culinary Camp.
“Kenapa ini menjadi program unggulan? Karena di masa pandemi ini menjadi fokus pemerintah, bagaimana kita menggeliatkan ekonomi di masa New Normal, maka (dari itu) UMKM menjadi fokus kami pada tahun ini,” kata Rida.
Tidak berhenti sampai di situ, sejumlah kegitan CSR lain juga telah dilakukan Sasa, seperti donasi generator oksigen di 2 RSUD di 2 kota yang terdekat dengan lokasi pabrik (Amurang & Probolinggo); Pembinaan petani kelapa; Budidaya lebah tanpa sengat; Donasi makanan matang untuk nakes atau relawan yang menangani Covid, bekerja sama dengan Omar Niode Fondation menggunakan kemasan ramah lingkungan; Support kegiatan vaksin untuk masyarakat kolaborasi dengan Walubi dan TNI di sejumlah lokasi di Jakarta; Support kegiatan donor darah yang lebih sulit didapatkan pada saat pandemic; Pelatihan Ayo Cegah Stunting di 2 kota yaitu Amurang dan Gending.
Adapun beberapa capaian dan manfaat yang diraih Sasa hasil dari kegiatan CSR yang telah dilakukan. Untuk internal, Rida menyebut bahwa kegiatan bisnis masih berjalan dan dapat bertahan di era kenormalan baru, meskipun karyawan ada yang terpapar tetapai tidak sampai melumpuhkan bisnis.
Sementara secara eksternal, seperti dikatakan Rida, manfaat yang diraih dengan berbagai kegiatan itu perusahaan memiliki relasi yang baik dengan para kepala daerah sehingga memudahkan perusahaan jika ada masalah terkait penanganan Covid seperti penyediaan vaksin, fasilitas isoman, dan sebagainya.
Kemudian manfaat lainnya adalah awareness tentang Sasa (juga) meningkat dengan banyaknya exposure di media sosial terkait aktivitas CSR di masa kenormalan baru, terutama vaksinasi. Lalu, adanya peluang bisnis baru melalui pembinaan UMKM ada ribuan data yang bisa di follow up.
“Jadi, kami memiliki database dari UMKM yang sudah kami bina untuk di follow up oleh tim sales,” ujar Rida.
Adopsi CSV
Dalam slide presentasi, diketahui bahwa Sasa memiliki sejumlah CSR yang telah mengadopsi Creating Shared Value (CSV). Berikut beberapa program CSR-nya:
- Culinary Camp (Pembinaan UMKM)
- Budidaya Lebah Tanpa Sengat
- Pembagian meal box untuk Nakes dan Relawan Covid
- Produk fortifikasi (memberi nilai lebih kepada produk dengan menambahkan vitamin dan minerla yang sangat bermanfaat bagi tubuh.
- Supply ‘White Meat’ dari UMK (Perusahaan membina UKM untuk mengupas kelapa dan menerima bahan baku kelapa untuk proses produksi).
- Pengelolaan sampah ekonomis
- Pemanfaatan limbah karbon
- Empowerment UKM dalam kebutuhan operasional pabrik
- Transportasi karyawan melibatkan pemilik mobil warga sekitar.
- Pemanfaatan limbah gypsum
Penulis: Fauzi
