Jakarta, TopBusiness – Perumda BPR Bank Jogja merupakan bank BUMD milik Pemerintah Kota Yogyakarta yang pada awal berdirinya tahun 1961 merupakan Bank Pasar.
Seiring perkembangan waktu, namanya berganti jadi BPR Bank Jogja agar pelayanannya lebih luas tidak hanya pedagang pasar, tapi juga masyarakat secara umum di Yogyakarta.
Setelah lebih dari seabad usia Bank Jogja, aset bank terus meningkat dan mendekati Rp 1 triliun. Per akhir 2022, total aset Bank Jogja mencapai Rp 934,86 miliar, naik dari tahun 2021 sebesar Rp 927,41 miliar.
Kredit yang diberikan pada 2022 juga naik dari Rp 759,34 miliar pada 2021 menjadi Rp 767,47 miliar. Sedangkan dana pihak ketiga meningkat dari Rp 620,65 miliar pada 2021 menjadi Rp 641,29 miliar. Namun, pendapatan Bank Jogja turun dari Rp 95 miliar pada 2021 menjadi Rp 76,85 miliar. Demikian pula laba sebelum pajak turun dari Rp 16,8 miliar menjadi Rp 10,51 miliar. Target laba 2022 sesuai RBB adalah Rp 14,44 miliar.
“Laba terkoreksi oleh OJK, sebelum koreksi OJK, proyeksi laba kita tercapai lebih dari 100 persen dari target. Ini akibat adanya restrukturisasi covid-19 maka sesuai ketentuan yang terkena covid dicadangkan lebih banyak, pendapatan bunga juga harus dikembalikan lagi, karena ketentuannya bagi yang tidak mampu membayar tidak boleh diakui sebagai agunan, sehingga itu yang mengakibatkan tidak tercapainya target 2022,” ujar Direktur Utama Bank Jogja Kosim Junaedi SE, MM dalam presentasi penjurian TOP BUMD Awards 2022 yang dilakukan secara daring, Kamis (2/3/2023),
Dalam presentasi ini, Kosim didampingi Direktur Bisnis Bank Jogja Angga Prabudya Santoso dan Direktur Kepatuhan Helpiati Tarigan.
Menurut Kosim, tingkat kesehatan Bank Jogja pada 2022 secara umum dalam kondisi sehat, hanya ROA yang agak turun menjadi predikat Cukup Sehat dengan rasio 1,215 persen. Ini juga terjadi karena koreksi yang dilakukan dalam rangka memenuhi ketentuan OJK. “OJK melakukan asessment ke Bank Jogja akhir tahun kemarin,” ucapnya.
Untuk rasio yang lain seperti KPMM, PPAPP, NPL Netto, BOPO, LDR dan Cash Ratio semuanya berpredikat Sehat.
Kosim memaparkan bahwa Bank Jogja memiliki sejumlah target atau penugasan dari kepala daerah yang tercantum dalam Perda Kota Yogyakarta Nomor 7 tahun 2019 tentang Perumda BPR Bank Jogja (pasal 3). Yaitu membantu dan mendorong pertumbuhan perekonomian dan pembangunan daerah, memperoleh laba dan/atau keuntungan serta menjadi salah satu sumber pendapatan daerah dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat.
Lantas bagaimana dengan pencapaian atas target tersebut? Ada dua pencapaian yang sukses dilakukan oleh Bank Jogja yaitu outstanding kredit kepada UMKM di wilayah DIY sebesar Rp131 miliar atau 110 persen dari total modal disetor sebesar Rp119 miliar.
“Dari Rp 119 miliar itu kami kelola di mana menghasilkan aset di akhir tahun 2022 terealisasi Rp 934,86 miliar. Mudah-mudahan nanti aset bisa tembus Rp 1 triliun,” kata Kosim.
Pencapaian kedua adalah setoran pendapatan asli daerah (PAD) dari Bank Jogja kepada Pemkot Yogyakarta sebesar Rp 4,3 miliar. Setoran ini berasal dari laba bersih Bank Jogja tahun 2022 sebesar Rp 7,9 miliar.
Layanan Nasabah
Kosim juga menjelaskan soal terobosan dan Inovasi yang dilakukan Bank Jogja di bidang pemasaran atau layanan nasabah. Terobosan itu misalnya dengan menyelenggarakan kegiatan gathering secara rutin bersama nasabah.
“Kami ada program literasi dan edukasi keuangan sesuai ketentuan OJK, yaitu gathering bersama nasabah maupun dengan UMKM di wilayah Kota Yogyakarta,” ujar dia.
Tak hanya itu, Bank Jogja juga melakukan “grebeg” atau kanvasing ke kantong-kantong bisnis dan instansi pemerintah.
“Kami juga meningkatkan kerja sama dengan Organ Pemerintah Daerah (OPD) terkait seperti Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dinas Koperasi dan UMKM dalam mengoptimalkan penyaluran kredit ke pelaku UMKM di Kota Yogyakarta,” ucapnya.
Selain itu, Bank Jogja juga melakukan digitalisasi pemasaran melalui WA Blast.
Inovasi lainnya adalah fokus memberikan kredit kepada sektor fixed income yang merupakan captive market Bank Jogja
Untuk memudahkan nasabah, Bank Jogja sudah menggunakan layanan ATM tanpa kartu (cardless) yaitu berupa aplikasi mobile banking untuk melakukan transaksi cek saldo, transfer dan tarik tunai di jaringan ATM tanpa kartu Bank Jogja.
“Bank Jogja merupakan BPR pertama di Indonesia yang memiliki izin Bank Indonesia untuk menggunakan ATM Cardless. Izinnya kami proses selama 4 tahun dan baru kita dapatkan tahun 2022,” ujar Kosim.
Sedangkan terobosan atau inovasi bidang human capital atau SDM antara lain, Bank Jogja secara rutin melakukan lelang jabatan untuk setiap jenjang organisasi sehingga pengisian struktur organisasi berdasarkan kinerja yang berkualitas.
Bank Jogja juga menerapkan sistem jenjang karir yang terbuka membuat seseorang memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan karir di Perumda BPR Bank Jogja.
“Dengan SDM berkualitas dan sistem reward dan punishment yang berjalan dengan baik membuat kinerja Bank Jogja sangat produktif dan efisien,” tutur Kosim.
Hasil penilaian terhadap penerapan tata kelola (GCG) Perumda BPR Bank Jogja mendapatkan nilai dengan kategori “sangat Baik”.
Sedangkan hasil survei kepuasan nasabah pada 2021 dan 2022 skornya sama-sama 4,2 (Puas), dari nilai maksimal 5. Sementara untuk penilaian tingkat kepuasan karyawan telah dilakukan dengan metodologi kuesioner bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan hasil tingkat kepuasan karyawan berada pada skala 4 dari maksimal 4 skala.
Tahun 2021, menurut dia, Perumda BPR Bank Jogja berhasil menjadi BPR nomor 1 di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk kategori Kredit, sedangkan tahun 2017 masih berada di peringkat 3 dari 53 BPR di wilayah DIY.
