Jakarta, TopBusiness – Menjadi salah satu finalis ajang TOP CSR Awards 2023, BSI Maslahat telah melewati sesi penjurian yang digelar secara virtual belum lama ini. Pada sesi penjurian kali ini, BSI Maslahat mengungkap dua program CSR yang dijalankannya.
Yang pertama adalah program development atau empowerment dengan judul BSI Maslahat Sociopreneur Pemuda Masa Depan. Program yang kedua adalah program mitigasi dan pemulihan bencana dengan fokus utama mencegah kemiskinan akibat dampak Covid-19 dan membangun sinergi ekonomi dengan judul program Mitigasi Bencana pada Keluarga Terdampak, yaitu mengejar asa Ibu tangguh. Demikian seperti dikatakan Direktur Eksekutif BSI Maslahat, Sukoriyanto Saputro.
“BSI Maslahat dari tahun ke tahun telah menunjukkan suatu esensi dan profesionalitas dalam pengelolaan ZISWAF dan CSR. Kami juga berturut-turut selama 3 tahun telah meraih hasil audit opini tanpa modifikasi dari Price Waterhouse Cooper yang merupakan The Big Four Auditor,” ungkap Sukoriyanto.
Lebih lanjut, Sukoriyanto menegaskan komitmennya terhadap pengelolaan CSR secara profesional dan menjadi misi utama organisasi.
Program CSR Unggulan
Tidak sendiri, selain Sukoriyanto, hadir pula pada sesi penjurian TOP CSR Awards 2023 ini adalah Fauzi Indrianto, selaku Direktur Innovation & Empowerment di BSI Maslahat. Pada kesempatan kali ini Fauzi mengungkap sejumlah hal terkait tata kelola CSR di BSI Maslahat.
Disebutkan ada tiga hal yang menjadi acuan pada tata kelola CSR BSI Maslahat, yakni impact full, accountable, dan empowerment. Selain itu, taka kelola CSR perusahaan juga didukung oleh kebijakan internal melalui ISO 26.000 serta SAK Pengelolaan Zakat. Demikian seperti diungkap Fauzi.
Adapun tata pengelolaan program CSR dimulai dari tahapan inisiasi hingga implementasi serta dilakukan monitoring dan evaluasi program secara berkala. “Adapun exit strategi dari pengelolaan program disiapkan 3 kanal untuk pengembangan program di antaranya pengembangan melalui sosial-bisnis, dana wakaf, dan menjadi nasabah BSI melalui pembiayaan KUR,” ungkap Fauzi.
Lebih jauh dikatakan Fauzi, bahwa dalam penerapan program CSR, BSI Maslahat mengacu pada Maqashid Syariah, di mana dalam hal ini juga terdapat dalam SDGs serta prinsip-prinsip Triple Bottom Line (3P). “Program Sociopreneur mendukung SDGs nomor 1 dan 8, di mana program ini turut serta mengurangi angka kemiskinan dengan mendukung tumbuh dan berkembangnya para pelaku usaha mikro kecil dan menengah yang mampu menciptakan lapangan kerja yang layak,” tandasnya.
Program ini, lanjut Fauzi, bertujuan untuk mencetak lulusan sarjana yang memiliki alternatif karier sehingga tidak hanya menjadi job seeker, tetapi juga menjadi job creater atau pencipta lapangan kerja.
“Harapannya dengan bisnis yang dibangun untuk mampu melakukan pemberdayaan, edukasi, serta membuka lapangan kerja yang dapat membantu perekonomian masyarakat sekitar. Parameter keberhasilan program ini diharapkan sebanyak 75% mahasiswa menyelesaikan pendidikan dan 50% bisnis dapat berjalan berkelanjutan dan berdampak sosial,” ungkap Fauzi.
Lebih detil disebutkan bahwa program BSI Scholarship mulai berjalan pada tahun 2018, dan saat ini sudah ada tiga angkatan yang tesebar di tujuh kampus dengan 130 mahasiswa sebagai penerima manfaat dan 81 bisnis yang terbentuk.
“Dari 81 bisnis yang terbentuk yang masih berjalan hingga saat ini ada 48 bisnis, di mana dana program yang terserap untuk 3 angkatan ini adalah sebesar Rp13,6 miliar,” ujar Aprilia Eviyanti, Manajer LIKES & Education Group BSI Maslahat.
Dari sisi profil penerima manfaat, peminatan wirausaha itu didominasi oleh laki-laki, yaitu sebesar 54,6% tepatnya dan perempuan sebesar 45,4% dengan usia penerima manfaat yang tertinggi di range usia 23 sampai 26 tahun.
“Karena ada tiga angkatan, Angkatan 1 dan Angkatan 2 ini program kami bersumber dengan dana zakat. Rata-rata mahasiswa berasal dari keluarga yang tingkat ekonominya menengah ke bawah di mana mayoritas pekerjaan orang tua adalah guru dan ada yang tidak bekerja. Nah untuk angkatan yang ketiga menggunakan sumber dana sosial, rata-rata mahasiswa berasal dari keluarga yang tingkat ekonomi menengah di mana rata-rata pekerjaan orang tua adalah berwirausaha,” ungkap Aprilia.
Pada paparan selanjutnya Aprilia mengungkap terkait profil bisnis dari para alumni 3 angkatan, yang disebut menunjukkan hal yang cukup signifikan Before and After mereka bergabung dengan BSI Sociopreneur. Profil bisnis tersebar pada kategori bisnis yang handicraft dan industri kreatif sebanyak 21 bisnis yang terbesar.
“Semua bisnis yang dibangun mengacu pada penerapan tata kelola atau governance di mana para wirausaha diminta memiliki legalitas usaha seperti PIRT, BPOM, dan sertifikasi halal tentunya sesuai dengan produk bisnisnya masing-masing,” kata Aprilia.
Selanjutnya, seperti ditegaskan Apliria, program sociopreneur memiliki core value utama di mana bisnis yang dibangun harus memiliki dampak sosial bagi masyarakat sekitar dan penunaian zakat dan/atau infaq.
“Model bisnis yang dijalankan bersifat pemberdayaan kepada masyarakat sekitar seperti pemberdayaan para pembatik Desa Bayat, petani kopi, tambak udang, dan pemberdayaan di desa lainnya. Selain pemberdayaan bisnis, juga ada yang memperhatikan kebermanfaatan bagi lingkungan, seperti bisnis dalam pengelolaan limbah untuk menjadi pakan ternak dan penggunaan bahan-bahan alami dalam proses membatik,” ungkapnya lagi.
Adopsi CSV
Tidak ketinggalan, dalam paparannya Aprilia juga mengungkap terkait telah diadopsinya prinsip Corporate Shared Value (CSV) pada program CSR.
“Untuk Corporate Shared Value pada ekosistem BSI Sosiopreneur meliputi yang pertama adalah stakeholder utama kami, yaitu Bank Syariah Indonesia. Tentunya dalam setiap program, penerima manfaat memiliki nomor rekening Bank Syariah Indonesia. (Ini berpengaruh pada) adanya peningkatan NOA, transaksi semua menggunakan Bank Syariah Indonesia,” ungkap Aprilia.
Tidak hanya itu, program CSR BSI Sosiopreneur juga berdampak pada penambahan nasabah mikro dari para alumni BSI Sosiopreneur serta bisa meningkatkan brand corporate, meningkatkan dan mendukung program pemerintah, yaitu tumbuhnya UMKM di Indonesia.
Selain itu, yang kedua, untuk masyarakat umum juga bisa memberikan lapangan pekerjaan yang saat ini telah mencapai 175 orang.
“Yang ketiga, (untuk) mitra dan lainnya, di mana bisnis sosiopreneur membentuk supply chain yang berkesinambungan, sehingga bisa menggerakkan para pelaku bisnis UMKM yang akhirnya perekonomian dapat terus berjalan,” tutup Aprilia.
Penulis: Fauzi
