Jakarta, TopBusiness – PT Shenhua Guohua Pembangkitan Jawa Bali (SGPJB) telah menyelesaikan sesi penjurian TOP Human Capital (HC) 2024 sebagai kandidat penerima penghargaan bergengsi bidang Human Capital yang digelar oleh Majalah TopBusiness.
Sesi penjurian Top HC Awards 2024 untuk SGPJB sendiri telah dilakukan pada Rabu (2/10/2024) lalu di mana hadir ketika itu Doddy Nafiudin, Direktur General Affairs mewakili perusahaan dalam wawancara di hadapan dewan juri. Pada sesi penjurian TOP HC Awards 2024 kali ini SGPJB mengusung tagline ‘Lean Management’.
“Kenapa ‘Lean Management’ menjadi tagline kami? Karena di beberapa tahun belakang ini, ternyata hal ini yang sering di-benchmark oleh perusahaan-perusahaan lain. Jadi, kami berasumsi mungkin perusahaan lain tertarik dengan konsep ini. Inilah yang nanti akan kami presentasikan di lini bisnis di tempat kami, dan termasuk juga akhirnya berimbas untuk strategi HCMS [Human Capital Management System] yang ada di (perusahaan) kami,” ungkap Doddy.
Bergerak di industri kelistrikan, SGPJB memiliki visi, yakni ‘terwujudnya perusahaan pembangkit listrik dengan ciri khas budaya Indonesia-Tiongkok yang mendapatkan pengakuan internasional dan menghasilkan keuntungan jangka panjang.’
“Jadi, nanti visi-misi ini akan mendasari dasar-dasar strategi bisnis kami, kemudian juga akan mendasari strategi bisnis di HCMS dan di setiap lini bidang-bidang yang ada di PLTU Jawa 7,” jelasnya.
Adapun untuk misinya, antara lain, ‘memproduksi listrik yang aman, andal, efisien dan ramah lingkungan; mengoperasikan pembangkit melalui tata kelola pembangkitan terdepan; serta mendorong perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia.’
Sebagai bagian dari proyek investasi luar negeri China Energy Group V di Indonesia melalui “Belt and Road Initiative,” SGPJB memiliki komitmen tinggi untuk mempromosikan pembangunan ramah lingkungan melalui penerapan Teknologi Batubara Bersih (Clean Coal Technology/CCT), memastikan kegiatan operasi PLTU Jawa 7 aman, ekonomis, dan bersih dengan efisiensi tinggi untuk jaminan pasokan energi listrik yang andal pada sistem transmisi Jawa-Madura-Bali dan mendukung Pembangunan Hijau (Green Development).
Tak ayal, seperti dikatakan Doddy, PLTU Jawa 7 telah mengintegrasikan prinsip-prinsip investasi dan bisnis sesuai dengan ESG (environmental, social, and governance). Selain itu, perusahaan juga disebut punya fasilitas yang lengkap yang berkonsep mandiri yang ditujukan untuk men-support atau memastikan bahwa kelangsungan operasional perusahaan ini dengan stabil apa pun keadaan di luar sana.
SGPJB telah menerapkan ISO 9001:2015 serta telah menggunakan boiler bernama ‘Ultra Super Critical Boiler’, sehingga pembakaran lebih sempurna dan sisa pembakaran itu lebih sedikit.
“Sudah sisa pembakarannya lebih sedikit, kita punya alat-alat untuk menangkap debu-debu. Sehingga di sisi lain dengan menggunakan teknologi tinggi pembakaran lebih sempurna ini batubara yang ‘dimakan’ lebih bisa dimanfaatkan efisiensinya lebih tinggi dan cost-nya jadi lebih murah,” jelas Doddy.
Tidak berhenti sampai di situ, SGPJB juga menggunakan teknologi Enviro Coal Power Plant, di mana batubara yang masuk dibakar dengan sempurna, serta menerapkan sistem pembakaran Low NOx Burner itu lebih bagus, sehingga NO-nya lebih rendah. Nah, setelah sisa pembakaran keluar, kemudian ditahan oleh mesin Electro Static Precipitator (ESP) yang bisa menangkap debu hingga 99,65%.
Perusahaan juga memiliki apa yang disebut teknologi Wind Breaker, berupa pagar-pagar yang memungkinkan angin masuk, tetapi angin itu sudah menjadi lemah yang ditutup dengan tembok solid, jadi debu itu tidak ke mana-mana.
“Dari teknologi yang bagus tadi, ada pembakaran yang sempurna, ada efisiensi penggunaan batubara, ada perlakukan (treatmen) terhadap batubara yang bagus dan tidak mencemari lingkungan yang itu dari sisi produksi listrik kita jadi murah, kemudian dari sisi biaya-biaya environment cost atau social cost kita jauh lebih murah, karena kita tidak mencemari sama sekali, kita tidak ada konflik dengan masyarakat, kita tidak ada konflik dengan Dinas Lingkungan dan macama-macam, dan kita memang berusaha untuk itu,” papar Doddy.
“Sehingga cost side effect misalnya, cost lingkungan, cost production, itu juga sangat-sangat menjadi rendah. Sehingga apa? Target kami adalah kami ini dalam sisi penjual listrik kita targetnya adalah Higher Dispatch Priority. Jadi diusahakan biaya produksi yang rendah. Itu kami selalu bisa produksi listrik dengan biaya rendah dan itu selalu menjadi pilihan agar PLN membeli pada kami. Sehingga dengan konsep itu, satu adalah menyediakan listrik untuk masyarakat itu listrik yang andal, efisien, dan ramah lingkungan,” sambugnya.
Pengelolaan Human Capital
Keberhasilan perusahaan dalam hal ini SGPJB dalam menyediakan listrik yang andal tentu ada tata kelola yang bagus, termasuk pengelolaan human capital tentunya. Dalam menghasilkan listrik yang andal, Doddy menegaskan bahwa hal itu merupakan ‘buah’ dari listrik yang dikelola dengan tata kelola yang bagus.
“Tujuannya adalah dengan operasi yang bagus dan efisien ini kita memperoleh pendapatan yang stabil, dibeli terus oleh PLN, dan ujung-ujungnya adalah kita bisa mendapat pengembalian investasi yang tepat waktu, karena ini adalah investasi dua negara, ada BUMN China dan BUMN Indonesia. Ini menjadi etalase percontohan di mana ada perusahaan besar, dan dua budaya berbeda, kemudian bergabung bersinergi membuat suatu perusahaan ditaruh di Indonesia.”
“Dari sisi kacamata pemerintah Indonesia ini adalah pertaruhan, menunjukkan bahwa investasi di Indonesia itu menguntungkan lho, investasi di Indonesia itu aman,” papar Doddy.
Karena itulah, berbagai hal yang dijelaskan tadi memiliki keterkaitan dengan strategi bisnis, teknologi human capital yang diterapkan juga bersinergi atau inline dengan hal tersebut.
“Mulai dari perekrutan pegawai, perencanaan kita rencanakan seperti apa, kita butuhnya sampai berapa tahun ke depan, mengikuti tren teknologi, tren operasi, dan tren kebutuhan listrik di Indonesia, rekrutmennya seperti apa, penempatan SDM-nya secara efisien, kita juga ada talent management-nya, kita kemudian ada performance renumeration, reward, dan punishment semua itu ada di perusahaan,” jelas Doody.
Bicara mengenai manajemen rekrutmen karyawan, misalnya, SGPJB memiliki apa yang disebut ‘Localization Plan’, atau rencana lokalisasi atau alih teknologi dari perusahaan China. Proses itupun sudah berjalan, di mana seperti dikatakan Doddy, dalam 10 tahun (pada tahun 2030), 100% tenaga ahli yang dari China harus bisa digantikan oleh tenaga-tenaga dari Indonesia.
“Dan ini sudah mulai berkurang, sekarang posisi tenaga-tenaga ahli China yang bekerja di PLTU Jawa 7 sudah mulai berkurang digantikan oleh tenaga-tenaga ahli kita, dan malah teman-teman itu waktu pertama kali masuk sudah di-training sekitar dua tahun, ada yang setahun di China. Sekarang sudah ada beberapa orang Indonesia sudah menempati posisi yang penting seperti manajer, asisten manajer, dan lain-lain,” tandas Doddy.
Beberapa training yang dilakukan SGPJB untuk karyawan-karyawannya antara lain training bahasa, training teknikal, serta safety training.
“Safety training ini sangat diutamakan di kami. Karena PLTU ini adalah industri yang punya risiko sangat besar, risiko itu langsung mengancam keselamatan pekerjanya, karena teknologi-teknologi yang ada di dalam itu sangat rawan. Hal seperti ini, kalau tidak tidak di-training benar-benar itu sangat-sangat berbahaya untuk keselamatan kerjanya. Training kompetensi ini kami laksanakan di Cina selama dua tahun,” jelasnya.
Adapun secara umum untuk personal rekrutmen, perusahaan menerapkan sejumlah tes, di antaranya Common Sense Knowledge Test, Language Skill Test, Psychological Test, dan Sub-division leader & department Manager interview.
Sementara dalam proses transfer knowledge, dalam hal ini semua karyawan mendapatkan mentor satu-satu dan pelatihan yang intensif. Juga, untuk mendapat pelatihan ini, tentu bahasanya harus sama, jadi teman-teman selain bisa bahasa Inggris mereka juga harus bisa bahasa China.
“Dan sampai sekarang pun kita sediakan kursus pelatihan bahasa China, seminggu tiga kali. Sampai sekarang pun saya termasuk pesertanya, saya juga belajar bahasa China. Kalau teman-teman yagn sudah jago, ya ngga usah ikut. Bagi yang ikut, bagi yang ingin belajar yang terus belajar, karena ini untuk memudahkan proses transfer teknonologi dan komunikasi dalam internal perusahaan,” papar Doddy.
Selanjutnya, Doddy juga mengungkap soal Culture Training yang juga diterapkan di perusahaan serta alasan kenapa training dilaksanakan.
“Kenapa sih ada Culture Training? Karena begini, sistem kerja nggak akan bisa berjalan baik kalau budayanya berbeda, karena setiap kepala orang Indonesia dan China ini mindset-nya berbeda,” ujar Doddy.
“Dan untuk menunjukkan budaya ini bisa membawa ke performance yang lebih baik, membawa kepada kinerja perusahaan yang lebih baik, tentu kami juga harus menunjukkan bukti-bukti nyata. Bukti nyata itu teman-teman kami bawa ke China, ini lho budaya-budaya seperti ini ternyata bisa untuk diterapkan di tempat kerja dan bisa mendapatkan performa yang jauh lebih baik,” katanya.
“Bukan berarti nanti orang Indonesia diganti budayanya dengan budaya China, tetapi terkait budaya kerja saja. Budaya kerja yang bisa meningkatkan performa perusahaan,” pungkasnya.
Editor: Busthomi
