Jakarta, TopBusiness – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) Pabrik Tuban, Jawa Timur kembali terpilih menjadi nominator pemenang penghargaan TOP CSR Awards 2025. Kali ini, SBI Pabrik Tuban mengusung program keberlanjutan atau Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) melalui program “Mliwang Metubanyune.”
Untuk itu, SBI Pabrik Tuban pun baru saja mengikuti penjurian TOP CSR Awards 2025 secara online, Selasa (8/4/2025). Dalam penjurian kali ini, General Affair dan Community Relations Manager SBI Tuban, M. Yunani Rizzal bersama tim membeberkan sederet program CSR. Dengan program andalannya adalah Mliwang Metubanyune.
Kata Yunani, program CSR yang diusung itu sebagai strategi mengurangi dampak. Karena, kata dia, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan menipisnya sumber daya alam, pentingnya komitmen dan strategi keberlanjutan menjadi semakin krusial.
“Menghadapi realitas ini, kami menetapkan tiga aspek pokok yang meliputi ekonomi, lingkungan, dan sosial,” kata dia.
Untuk aspek ekonomi, kata dia, SBI mengedepankan komitmen untuk mengembangkan dan menyediakan produk serta jasa yang inovatif, dengan tujuan khusus mengatasi tantangan urbanisasi dan lingkungan.
Lalu aspek lingkungan, kata dia, SBI menetapkan prioritas utama pada pengurangan emisi CO2, pelestarian keanekaragaman hayati, pemanfaatan sumber daya terbarukan, serta konservasi sumber daya air melalui implementasi teknologi terkini dan metode produksi yang efektif untuk meminimalkan dampak lingkungan yang dihasilkan oleh operasional Perusahaan.
Selanjutnya, dari aspek sosial, SBI senantiasa mengutamakan penghormatan dan penghargaan terhadap karyawan serta berkomitmen memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat, yang menjadi salah satu pilar dalam strategi keberlanjutan Perusahaan.
Program Mliwang Matubanyune
Dan untuk program yang diunggulkan kali ini adalah Program CSR Metubanyune dan Banyusora. Dan program CSR tersebut Program CSR yang terkait 8 Asta Cita dan/atau 17 Program Prioritas Kabinet Merah Putih 2024-2029.
Kata Yunani, program ini merupakan program pemanfaatan air permukaan dan konservasi air bawah tanah yang dilakukan untuk pertanian terkait dengan ketahanan terhadap perubahan iklim. Sehingga konsep ini bisa dilakukan untuk lahan-lahan di daerah sekitar pemangku kepentingan di daerah yang kekurangan air sekaligus melakukan diversifikasi pertanian dengan tanaman rotasi yang menghasilkan nilai ekonomi tinggi.
“Ini keterkaitan Asta Cita Nomor 2 tentang Memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru,” katanya.
Lebih jauh dia menegaskan, program ini dilatarbelakangi oleh Desa Mliwang, Tuban, Jawa Timur yang merupakan desa yang memiliki masalah air bersih. Memiliki formasi tawun yang banyak tersusun dari batuan lempung (clay) yang memiliki porositas dan permeabilitas rendah.
Dan ternyata, batuan formasi ini menghampar luas di area Mliwang dan menyebabkan sulitnya ditemukan air bersih untuk kebutuhan warga terutama untuk hidup sehari-hari. “Dan dari enam desa yang ada di sekitar perusahaan, terdapat sumur dangkal atau sumur dalam atau bor di 5 desa dan tidak ada sumber air. Salah satunya satu desa yaitu desa Mliwang,” katanya.
Karena kualitas air yang ada di Desa Mliwang, itu asin, keruh, berbau, dan mengandung kapur. Padahal air itu dibutuhkan minum, masak, mandi, cuci dan kebutuhan ternak. Masyarakat mengambil air dengan menggunakan jerigen. “Di situ ada 568 KK, 110 ribu meter lahan pertanian padi, 675,02 hektare, dan 2.391 jiwa,” katanya.
Dan program ini diselenggarakan di tahun 2023. “Jadi program Mliwang Metubanyune ini dengan memanfaatkan danau buatan untuk membuat instalasi ketersediaan air dengan tandon volume 27 m3, dengan output pipa 6 inch mampu mengeluarkan debit 5,4 m3 per menit dalam waktu 5 menit pengisian ulang,” kata Yunani.
Dalam program ini ada inisiasi pembuatan kolam lele dan greenhouse system NFT (Nutrient Film Technique) untuk mengurangi risiko kekurangan gizi (stunting) dengan menyuplai sumber protein dan vitamin.
Dampak program ini sangat positif terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Kata dia, sebelum ada program ini, kondisinya hanya satu kali tanam padi, menghasilkan Rp302,5 juta omset produksi padi dari lahan 11 ha, belum adanya produksi pangan alternatif, dan belum adanya kelompok tani dan transfer pengetahuan.
“Sementara setelah adanya pengairan melalui program ini, bisa tiga kali tanam per tahun, menghasilkan Rp907,5 juta omset produksi pada lahan 11 ha, lalu adanya sayuran melon, lele, dan sayuran lainnya, serta adanya akses transfer pengetahuan melalui kelompok tani Metubanyune,” cerita dia.
