Jakarta, TopBusiness – PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM) terus mewujudkan visinya menjadi perusahaan Indonesia di bidang energi yang berintikan inovasi, teknologi, inklusi, dan keberlanjutan.
Dari sisi keberlanjutan atau sustainability, ITM sebagai perusahaan tambang terkemuka di Indonesia menorehkan catatan yang membanggakan dengan diraihnya PROPER Hijau untuk dua anak perusahaan ITM yakni PT Indominco Mandiri (IMM) yang mengelola Kawasan tambang di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) dan PT Jorong Barutama Greston (JBG) di Jorong, Kalimantan Selatan.
Selain itu, PROPER Biru diraih oleh dua anak perusahaan lainnya yatu PT Trubaindo Coal Mining (TCM) yang mengelola kawasan tambang Melak di Kalimatan Timur, dan PT Bharindo Ekatama (BEK). “Itu menunjukkan komitmen kami untuk lingkungan yang baik,” ujar Ivan Manalu, Sustainability Development (SD) ITM dalam presentasi penjurian TOP CSR Awards 2025 yang dilakukan secara daring, Selasa (29/4/2025).
Hadir pula dalam penjurian ini, Ignatius Wurwanto (Direktur ESG ITM), Selani Sihotang (Sustainability Development) dan Kevin Pradityo (Sustainability Development).
Selain meraih PROPER, kata Ivan, ITM juga sudah melakukan ESG Risk Rating dengan mengikuti Rating Sustainalitycs dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil pengukuran Rating Sustainalitycs tersebut, ITM meraih Top 1 coal di Indonesia dan Top 2 coal secara global dengan poin 32,0.
Pencapaian tersebut tak terlepas dengan pemetaan risiko ESG (Environmental, Social, Governance) terhadap perusahaan serta strategi ITM dalam melaksanakan program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Dalam presentasinya, tim ITM juga memaparkan sejumlah program CSR unggulan perusahaan, salah satunya adalah Program CSR Transisi Energi yang merupakan bagian upaya Perusahaan untuk dekarbonasi. Kegiatan yang dilakukan antara lain memanfaatkan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), penggunaan material terbarukan seperti biosolar B35 untuk pengoperasian kendaraan.
ITM juga melakukan transisi penggunaan sumber energi dari pembangkit sendiri dan genset ke PLN yang memiliki sumber listrik dari energi baru dan terbarukan. ITM berkomitmen untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di area Melak, salah satu wilayah tambang yang dikelola perusahaan, dengan menggunakan jaringan listrik PLN.
ITM menggandeng PLN (Perusahaan Listrik Negara) untuk mengelektrifikasi secara penuh tambang di area Melak pada kuartal pertama 2027. Komitmen ini ditandai dengan penandatanganan MoU antara manajemen ITM dan PLN UID Kaltimra pada Rabu, 16 April 2025.
Total kebutuhan energi listrik di Melak Grup dalam tiga tahun ke depan diproyeksikan meningkat menjadi 34 Megawatt (MW) dari saat ini pada kisaran 7 Megawatt. Hal ini mengingat adanya kebutuhan listrik yang besar seiring pengoperasian kendaraan berbasis baterai (EV), pengembangan Pelabuhan Bunyut, fasilitas crushing plant dan barge loader di TCM yang diperbesar kapasitasnya. “Dengan kebutuhan tersebut, penggunaan genset tidak lagi efektif,” kata Selani.
Selaras dengan program ini, PLN juga tengah membangun fasilitas Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV dari Kotabangun ke Melak yang melintasi jalur jalan hauling Grup ITM di Melak. “Pembangunan ini merupakan bagian dari upaya PLN dalam memperkuat jaringan kelistrikan di Kalimantan Timur,” tutur Selani.
Progra CSR unggulan selanjutnya adalah Pembuatan Fasilitas Air Bersih. Program CSR dengan tema Air Roda Kehidupan ini dimulai pada tahun 2013 dan dilatarbelakangi kelangkaan air bersih di beberapa area sekitar kegiatan Perusahaan.
Sebelumnya, masyarakat mengandalkan air hujan sebagai sumber air bersih, atau dari penjual air keliling. “Diharapkan dengan pembangunan instalasi sambungan pemanfaatan air tanah sebagai sumber air bersih, dapat memudahkan masyarakat mengakses air bersih dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,” ujar Selani.
Selain itu, ITM memliki Program CSR Penggunaan Chanel Pengaduan (Pusat Transparansi, IWBC, Pusat Keluhan VoiS). Program ini untuk memfasilitasi setiap karyawan dan semua mitra kerja dalam pelaporan pelanggaran terkait tata kelola perusahaan. Program ini juga bermanfaat untuk memonitoring penerapan tata kelola Perusahaan yang baik (GCG) di ITM.
Dalam pelaksanaan program ini, ITM melakukan sosialisasi kepada semua karyawan dan kontraktor ITM untuk refreshment maupun induction ITM CG dan CG Tools. Sosialisasi juga dilakukan untuk penggunaan CG Tools yaitu IWBC dan VoiS untuk semua kontraktor serta pelaksanaan CG Day yang menjangkau karyawan dan pihak ketiga di seluruh area kerja.
ITM juga melakukan Assessmen Risiko Hak Asasi Manusian (HAM) di tujuh anak usaha yaitu IMM, JBG, TCM, NPR, GPK, TIS yang berhasil mengidentifikasi enam risiko prioritas.
Program Reklamasi Pascatambang
ITM juga memiliki Program CSR yang juga cukup membanggakan dan mendukung ketahanan pangan, yaitu Program Reklamasi Pascatambang PT Kitadin Embalut. Program ini dilakukan karena PT Kitadin Site Embalut atau EMB telah memasuki periode penutupan tambang dengan rencana penutupan tambang yang disetujui hingga Februari 2027.
PT Kitadin Embalut memiliki kewajiban melakukan reklamasi lahan seluas 1.600 Hektare (Ha), di mana 600 Ha dialokasikan untuk reklamasi peruntukan lain termasuk 300 Ha untuk peternakan dan pakan, 100 Ha komoditas jagung, dan 74 hektare lahan persawahan. Sebesar 58 Ha sudah menjadi lahan produktif, dengan total panen sekitar 195 ton gabah basah pada tahun 2024.
EMB memberikan dukungan pada proses penataan dan persiapan lahan, peningkatan kapasitas penerima manfaat, hingga fasilitas pascapanen dengan melibatkan pemangku kepentingan, seperti pemerintah desa.
Menurut Selani, Program CSR ini mendukung Swasembada Pangan Kalimantan Timur serta Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 2. “Tidak hanya itu, program ini diharapkan juga membuka peluang penghasilan baru bagi masyarakat Kecamatan Tenggarong Seberang setelah adanya penutupan tambang,” kata Selani.
ITM juga memiliki Program CSR Keanekaragaman Hayati dan Etnobotani. Program ini didasari oleh adanya tantangan yang dihadapi industri pertambangan terkait dengan perubahan lanskap alam, menggarisbawahi pentingnya pertimbangan lingkungan. Kepatuhan terhadap peraturan nasional dan perjanjian internasional seperti Perjanjian Paris dan SDGs, secara kolektif memandu praktik pertambangan dan memastikan keberlanjutan operasional.
Bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ITM melakukan studi keanekaragaman hayati yang menjadi landasan operasional dan inisiatif bisnisnya. Studi ini meluas ke etnobotani, cabang khusus etnobiologi yang mengeksplorasi hubungan rumit antara manusia, organisme hidup, dan lingkungannya.
“Penelitian yang diterbitkan pada Mei 2023 ini menyoroti temuan keanekaragaman hayati dan etnobotani di Kalimantan, khususnya di dalam wilayah operasional ITM, memperkuat komitmen ITM terhadap keberlanjutan dan pengelolaan lingkungan,” ujar Selani.
Berbagai Program CSR ITM tersebut mendukung Asta Cita dan Program Prioritas Kabinet Merah Putih.
Berkat komitmen terhadap pelaksanaan program-program CSR yang mendukung bisnis berkelanjutan, PT Indo Tambangraya Megah Tbk masuk finalis peraih TOP CSR Awards 2025. Pada 2023 dan 2024, perusahaan meraih TOP CSR Awards Bintang 5.
