Jakarta, TopBusiness – Nur Hidayat adalah salah satu ‘super hero’ pengrajin Kayu Sentigi, yang langsung dapat program pengembangan masyarakat (PPM) dari Kangean Energy Indonesia (KEI) di wilayah kerja operasi produksi Pulau Pagerungan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Pada tahun 2005, Nur Hidayat mengikuti program mitra binaan PPM dari industri migas KEI yang beroperasi di Pulau Kangean. Nur Hidayat masih kuat bertahan sebagai pengrajin kayu Sentigi dengan ciri khas kayu berwarna coklat muda. Setelah melalui polesan dari tangan sang ahlinya kayu Sentigi ini manjadi asesoris berbagai perhiasan yang sangat eksotis, jika dipakai oleh seluruh lapisan umur.
Para pengrajin binaan PPM KEI sebanyak 7 orang yang telah merasakan hasil dari program PPM dari KEI. Berbagai pesanan dari dalam negeri sudah sering dikerjakan Nur Hidayat, bahkan setiap hari pengrajin ini tidak ada henti terus memproduksi berbagai asesoris kerajinan berbagai pesanan dari konsumen. Hampir seluruh Indonesia konsumennya terus bertambah.
Produk berupa perhiasan berupa gelang, kalung, tasbih, ikat pingang, tongkat komando hingga berbagai kapal pinisi Nusantara, dan berbagai pesanan dari para konsumen Nur Hidayat.
Nur Hidayat telah mendapatkan konsumen dari pasar Global, seperti Australia, Malaysia, Libanon dan Turki. Sekarang sedang proses negosiasi dengan pihak Turki yang akan memesan 15.000 tasbih dari kayu Sentigi berwarna coklat. Pembeli dari Turki meminta kiriman produk jadi tasbih serta bahan bakunya.
“Kami telah penuhi permintaan konsumen dari Turki. Proses nego telah berjalan 90 persen, tinggal 10 persen lagi akan gol. Tentunya, konsumen besar ini harus dijaga agar mereka bisa menjadi konsumen setia dan loyal karena layanan dan services yang terbaik dari totalitas, serta produk yang unggul”, tegas Nur Hidayat kepada TopBusiness team media visit CSR wilayah kerja migas di Madura, belum lama ini.
Harga kerajinan Nur Hidayat berkisar dari Rp 20.000 hingga jutaan rupiah.
Di balik sukses pengrajin kayu Sentigi banyak hal yang dihadapi. Seperti, proses produksi masih mengandalkan bahan bakar minyak (BBM), karena keterbatasan listrik. Pengrajin di Pagerungan harus mengandalkan BBM untuk menjalankan alat bantu untuk memproduksi. Setiap hari pengrajin harus mengeluarkan kocek 10 liter BBM setiap hari kerja. Untuk bahan baku kayu Sentigi sendiri terkadang pengrajin harus mendatangkan dari Sulawesi dari sekitar Makassar.
KEI melalukan pembudidayaan tanaman kayu Sentigi di kawasan Pulau Pagerungan. Tanaman kayu Sentigi termasuk tanaman langka yang harus diselamatkan dari kepunahannya, ini merupakan tanaman endemic Indonesia dengan nama Pemphis acidula.
Kayu sentigi tumbuh alami di daerah pesisir yang berkarang, berpasir atau di tepi hutan mangroove. Manfaat kayu Sentigi mampu menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, menahan efek pasang air laut dan mencegah banjir rob.
Secara ekonomis, sering dijadikan tanaman hias, bonsai, dan komponen aquascape karena keunikan bentuk batangnya. Sementara secara tradisional dipercaya memilki kekuatan magis dan digunakan dalam pengobatan tradisional, serta penangkal ilmu hitam.
Ditegaskan Nur Hidayat, dirinya sangat bersyukur dan bangga mendapat pembinaan dari KEI dan akan terus berkarya dan bertumbuh memproduksi kerajinan.
“Permasalahan kami tidak sedikit pula. Kami berada di daerah 3T (Terluar, Terdepan, Tertingal). Lokasi sangat sulit sekali untuk dijangkau, jarak 350 km dari Kota Surabaya dengan waktu tempuh 1 jam 20 menit. Alat transporasi hanya menggunakan pesawat perintis, sedangkan umum via Susi Air dan laut dari Sumenap. Lantas keterbatasan jaringan telekomunikasi, infrastruktur yang minim pun menjadi kendala,” papar dia.
Lalu, ditambahkan Nur Hidayat, untuk transportasi ke Pulau Pagerungan bisa dengan Pesawat Susi Air dari Sumenep setiap hari Selasa-Rabu dengan jarak tempuh 1 jam.
Dia mengklaim, pihaknya telah terbiasa tampil di ajang pameran Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur bahkan pameran di Jakarta. “Harapan kami seluruh stakeholder dapat memberikan dukungan agar pengrajin kayu Sentigi Pagerungan bisa menembus pasar dunia/global, dan menjadi ikon di pentas dunia”, tegas Nur Hidayat, putra asli Madura yang telah berkiprah membangun perekonomian Pulau Pagerungan.


