Jakarta, TopBusiness – Di tengah ketatnya regulasi industri perbankan dan tuntutan digitalisasi, PT Bank of India Indonesia Tbk (IDX: BSWD) atau BOII memilih pendekatan unik dalam memperkuat sistem tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan (Governance, Risk, and Compliance/GRC).
Dengan mengusung tema “Beyond Compliance: Humanizing GRC for Sustainable Banking”, BSWD mencoba untuk membuktikan bahwa bank di skala kecil pun atau Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) I ini mampu bersaing melalui transformasi yang terfokus pada sumber daya manusia dan budaya perusahaan.
Hal ini disampaikan dalam presentasi tim manajemen dari BOII yang dipimpin oleh Dennis Kusuma Halim, selaku Direktur Kepatuhan saat mengikuti presentasi penjurian TOP GRC Awards 2025, secara daring, Jumat (1/8/2025). Hadir dalam penjurian kali ini adalah Ajay Kapoor (Kepala Divisi IT), Defri Kusuma (Kepala Divisi Kepatuhan), Arifin Siswidodo (Kepala Divisi Manajemen Risiko), dan Deni (Unit Manajemen Risiko).
Bank of India Indonesia sendiri terpilih menjadi salah satu nominator penerima penghargaan TOP GRC Awadrs 2025. Untuk itu, perseroan pun baru saja mengikuti proses penjurian untuk memaparkan sederet implementasi GRC selama ini di depan Dewan Juri.
“Kami menyadari posisi kami sebagai bank dalam kelompok KBMI 1, yang dari sisi skala tentu belum sebesar bank-bank besar nasional. Namun justru dari keterbatasan inilah kami memilih untuk membangun kekuatan dari aspek yang paling mendasar: manusianya,” ujar Dennis.
Makanya, manajemen pun mencoba untuk “memanusiakan GRC” agar semua proses dalam perbankan yang dilakukan semua insan BOII tersebut sudah selaras dengan praktik-praktik GRC.
Untuk diketahui, BOII yang dahulu dikenal sebagai Bank Swadesi, memulai perjalanannya dari sebuah bank pasar di Surabaya. Setelah menjadi bank devisa pada 1994, selanjutnya pada 2007 kepemilikan mayoritasnya diakuisisi oleh Bank of India Mumbai—salah satu BUMN tertua di India dengan sejarah lebih dari 112 tahun.
Transformasi BOII semakin terlihat nyata sejak dua tahun terakhir. Salah satu tonggak pentingnya adalah pembaruan sistem core banking yang sebelumnya berusia lebih dari dua dekade, kini digantikan dengan sistem global yang lebih modern.
Langkah ini dikawal langsung oleh Kepala Divisi TI dari India, yang ditugaskan khusus untuk memimpin digitalisasi BOII di Indonesia.
BOI sendiri mengusung visi “Menjadi Bank berstandar Internasional yang aman dan terpercaya dalam memenuhi kebutuhan Nasabah.” Dengan misi “Menyediakan layanan unggulan yang berfokus pada prinsip kehati-hatian Bank dan tata kelola perusahaan yang baik untuk meningkatkan nilai bagi para Pemangku Kepentingan.”
Dengan core values-nya adalah: STAR (Sensible, Trustworthy, Accommodative, dan Responsive).
Selain transformasi digital, BOII juga menjalankan program peningkatan kapasitas SDM melalui Officer Development Program, pelatihan internal, hingga digitalisasi proses kerja seperti e-SOP dan komunikasi berbasis Teams, menggantikan sistem manual berbasis kertas.
Pendekatan Humanis dalam GRC
Disebutkan Dennis, penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan (GRC) yang kuat merupakan pilar penting bagi bisnis BOII yang berkelanjutan, terutama dalam industri jasa keuangan Indonesia yang dinamis dan highly regulated ini.
“Jadi, GRC bukan sekadar kewajiban regulasi, melainkan kerangka kerja strategis yang memungkinkan BOII beroperasi secara bertanggung jawab, memitigasi risiko, dan membangun kepercayaan jangka panjang dengan para pemangku kepentingan (stake-holders),” terang dia.
Untuk itu, agar keberlanjutan bisnis BOII ini dalam melayani para nasabah dan berkontribusi pada kemajuan ekonomi nasional bisa tercapai, GRC memang menjadi pilar utamanya. Salah satunya dengan melakukan strategi “Humanizing GRC” tersebut.
“Strategi ‘Humanizing GRC’ bukan sekadar jargon. BOII menerjemahkannya ke dalam kebijakan, budaya kerja, dan sistem yang mengintegrasikan tiga lini pertahanan GRC tersebut,” terang dia:
—Governance. Dalam aspek ini dijalankan melalui struktur komite yang lengkap, baik di tingkat dewan komisaris maupun direksi, termasuk Komite Audit, Risiko, Kredit, ALCO, dan Teknologi Informasi.
Jadi, dengan Governance menjadi lebih transparan, akuntabel, dan kepemimpinan yang beretika.
—Risk Management. Dalam hal ini dijalankan secara proaktif dan terukur, termasuk dengan penetapan risk appetite statement, limit risiko, dan transformasi pengelolaan risiko kredit melalui analisis Loan at Risk (LAR). “Jadi, kita proaktif daalam manajemen risiko secara terintegrasi,” ucapnya.
–Compliance diterapkan secara ketat namun adaptif, salah satunya melalui sistem whistleblowing yang terintegrasi dengan empat pilar antifraud. Jadi, dalam compliance ini adanya kredibilitas BOII dan kesesuaian dengan ketentuan yang berlaku secara berkelanjutan.
Menariknya, dengan pendekatan ini, BOII berhasil menurunkan rasio loan at risk (LAR) dari sekitar 60% menjadi di bawah 20% dalam empat tahun terakhir. Ini menunjukkan efektivitas manajemen risiko yang berbasis pemahaman terhadap nasabah dan proses bisnis yang lebih manusiawi.
Lebih jau ditegaskannya, transformasi GRC yang dijalankan BOII menunjukkan bahwa good governance tidak hanya milik bank besar. Justru dari skala kecil, fleksibilitas dan kecepatan beradaptasi menjadi keunggulan tersendiri.
“Dengan tim yang ramping dan pendekatan lintas fungsi, kami bisa bergerak lebih cepat, mengambil keputusan lebih efektif, dan tetap memenuhi seluruh kewajiban regulasi,” kata Dennis.
Ia juga menyebut bahwa pengurusan izin dari Bank Indonesia yang biasanya memakan waktu hingga satu tahun, di BOII hanya memerlukan sekitar enam hingga delapan bulan.
Kinerja Keuangan Positif
Dampak nyata dari strategi ini tercermin dalam kinerja keuangan. Beberapa rasio perbankan terlihat lebih positif. Sepeti Return on Asset (ROA) BOII naik menjadi 1,52% (2024) dari sebelumnya di angka 0,96% (2023). Dengan Return on Equity (ROE) mencapai 2,39% dari sebelumnya 1,49%. Dan Net Interest Margin (NIM) tetap stabil di atas 4% yakni 4,58% menjadi 4,63%.
“Ini menunjukkan efisiensi dan profitabilitas yang kuat. Meskipun NPL terlihat tinggi, BOII tetap berada dalam ambang regulasi, dan lebih memilih penurunan bertahap yang tidak mengorbankan profit,” ujarnya.
Net Performing Loan (NPL) per akhir 2024 sendiri berada di angka 6,02% atau membaik dari tahun 2023 di angka 6,28%. Dengan rasio kecukupan modal Capital Adequacy Ratio (CAR) tinggi di 88,58% dan BOPO (biaya operasional terhadap pendapatan operasional) masih rendah di 44,03%.
Secera detail, kinerja keuangan BOII adalah total asset mencapai Rp6,81 triliun meningkat dari sebelumnya dari Rp6,12 triliun. Dengan total kredit yang disalurkan sebesar Rp4,14 triliun (2024) dari sebelumnya Rp3,71 triliun (2023). Adapun dana pihak ketiga (DPK) yang sudah dikumpulkan sebesar Rp3,10 triliun dari sebelumnya Rp2,70 triliun. Dengan modal inti di angka Rp3,38 triliun dari sebelumnya Rp3,32 triliun. Sementara untuk laba setelah pajak di angka Rp78,75 juta naik dari sebelumnya Rp45,83 juta.
Selain itu, BOII mendapat pengakuan dari otoritas sebagai bank dengan predikat sehat sejak 2022. Bahkan, kantor pusat di India memberi penghargaan kepada BOI Indonesia sebagai anak perusahaan dengan transformasi digital tercepat.
Sementara itu, dalam mendukung prinsip ESG, BOII telah menyelaraskan proses internal seperti customer due diligence (CDD) dan kebijakan kredit dengan pendekatan green financing. Meski belum sepenuhnya berbasis environment, aspek keberlanjutan telah menjadi bagian dalam evaluasi risiko dan proses bisnis bank.
“Serta dalam penyusunan Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB), manajemen BOII melibatkan seluruh unit kerja sebagai bentuk keterbukaan dan partisipasi lintas fungsi, yang selaras dengan semangat GRC terintegrasi,” pungkas Dennis.
