TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Implementasi GRC Jadi Senjata Jamkrida Jakarta Hadapi Tantangan Bisnis

Abi Abdul Jabbar Sidik
12 August 2025 | 16:20
rubrik: Event, GCG
Implementasi GRC Jadi Senjata Jamkrida Jakarta Hadapi Tantangan Bisnis

Jakarta, TopBusiness – Di tengah iklim bisnis yang penuh tantangan pada 2024, PT Jamkrida Jakarta (Perseroda) berhasil membalik keadaan menjadi momentum emas. Tidak hanya meraih pertumbuhan signifikan secara finansial, Jamkrida juga mengukuhkan diri sebagai pionir penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) di kalangan BUMD.

Dalam ajang TOP GRC Awards 2025 yang diselenggarakan Majalah Top Business secara daring pada Jumat (8/8/2025), Direktur Utama PT Jamkrida Jakarta, Agus Supriyadi, tampil percaya diri memaparkan bahwa GRC bukan sekadar perangkat pengendalian, melainkan pondasi yang menopang setiap langkah bisnis.

“Kami memandang keberhasilan jangka panjang Jamkrida sangat bergantung pada kemampuan mengintegrasikan prinsip tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan ke seluruh aktivitas bisnis,” tegas Agus di hadapan dewan juri.

“GRC bukan hanya kontrol, tapi fondasi untuk menciptakan bisnis yang tangguh dan berkelanjutan.”

Agus mengatakan, GRC yang efektif akan membawa empat dampak utama: transparansi, manajemen risiko adaptif, kepatuhan terhadap regulasi, dan peningkatan kepercayaan publik. “Kalau empat hal ini kuat, perusahaan akan lebih siap menghadapi perubahan, bahkan krisis,” tambahnya.

Kinerja Melonjak di Tengah Tantangan

Berdasarkan laporan 2024, total aset Jamkrida Jakarta naik 41 persen dari Rp 813,86 miliar pada 2023 menjadi Rp 1,15 triliun. Total kewajiban naik dari Rp 395,49 miliar menjadi Rp 512,88 miliar, sementara ekuitas tumbuh 53 persen menjadi Rp 638,36 miliar.

Pendapatan usaha meningkat dari Rp350,93 miliar menjadi Rp398,26 miliar, sementara laba bersih melonjak 41 persen dari Rp 19,46 miliar menjadi Rp 27,40 miliar. Kenaikan laba yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan menunjukkan peningkatan efisiensi dan strategi pengelolaan biaya yang lebih matang.

“Pertumbuhan laba bersih ini bukan kebetulan. Kami menjalankan semua proses bisnis berdasarkan mitigasi risiko yang jelas, memastikan setiap keputusan mengarah pada hasil yang optimal,” ujar Agus.

Belanja modal juga meningkat dari Rp102 juta menjadi Rp322 juta, sebagian besar untuk mendukung pengembangan teknologi informasi dan infrastruktur digital. “Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan memberikan nilai tambah nyata bagi perusahaan,” lanjut Agus.

Dari sisi bisnis, volume penjaminan 2024 berada di angka Rp 30,83 triliun, sedikit di bawah capaian 2023 sebesar Rp 31,01 triliun. Meski begitu, imbal jasa penjaminan tetap terjaga di Rp 339,78 miliar atau 93 persen dari tahun sebelumnya.

BACA JUGA:   Pan Brothers Usung Tujuh Prinsip Strategi HRM untuk Profit dan Keberlanjutan

“Turunnya volume penjaminan sedikit, tapi yang terpenting adalah kualitasnya meningkat. Kami menjaga portofolio tetap sehat, sehingga risiko gagal bayar bisa ditekan,” jelas Agus.

UMKM yang dijamin mencapai 5,11 juta unit, mendekati capaian tahun lalu, sementara serapan tenaga kerja berada di angka 5 juta orang. Menurut Agus, angka ini menunjukkan kontribusi nyata Jamkrida terhadap perekonomian daerah. “Kami bukan hanya bicara laba, tapi juga dampak sosial,” katanya.

Transformasi Digital dan Penguatan Tata Kelola

Memasuki 2025, Jamkrida Jakarta menjalankan strategic policy yang fokus pada transformasi menuju ekosistem digital. Langkah ini mencakup pengajuan izin nasional untuk memperluas cakupan bisnis, inovasi layanan berbasis teknologi, serta penguatan tata kelola berbasis prinsip TARIF: Transparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi, dan Fairness.

“Kami ingin Jamkrida tidak hanya hadir di Jakarta, tapi juga memberi kontribusi secara nasional. Dengan izin nasional, kami bisa memperluas jangkauan, membantu lebih banyak pelaku usaha, dan membawa standar GRC ke level yang lebih luas,” ungkap Agus.

Budaya perusahaan juga menjadi perhatian. Nilai BETAWI—Makna, Komitmen, Kompetensi, Kolaborasi, Kontributif—ditanamkan ke seluruh karyawan. “Budaya ini adalah identitas kami. Dengan nilai ini, semua orang di Jamkrida tahu bagaimana harus bertindak, bukan karena disuruh, tapi karena sadar itu benar,” kata Agus.

Penguatan tata kelola juga diwujudkan melalui pembentukan Komite Tata Kelola dan Risiko, penyusunan laporan keuangan transparan, serta evaluasi kinerja rutin melalui RUPS. “Kami terbuka pada evaluasi, karena itu bagian dari perbaikan berkelanjutan,” tambahnya.

Salah satu inovasi yang menjadi kebanggaan Jamkrida adalah Aplikasi Portal Klaim, yang memungkinkan mitra memantau status klaim secara real-time. Aplikasi ini mengurangi potensi miskomunikasi dan meningkatkan transparansi.

“Dulu, kalau mitra ingin tahu progres klaim, harus telepon atau kirim email, kadang bolak-balik konfirmasi. Sekarang cukup buka aplikasi, semua status ada di sana,” jelas Agus.

Inovasi ini juga menjadi salah satu faktor yang menarik perhatian BUMD lain untuk belajar ke Jamkrida Jakarta.

GRC yang Terintegrasi: Dari Governance hingga Compliance

Penerapan GRC di Jamkrida dilakukan melalui empat pilar utama yang saling terhubung:

1. Tata Kelola (Governance)
Jamkrida menanamkan GCG di seluruh tingkatan organisasi, memastikan peran dewan komisaris dan direksi berjalan efektif, dan mengimplementasikan sistem pengadaan barang/jasa yang mematuhi SOP internal.

2. Manajemen Risiko (Risk)
Menggunakan pendekatan Enterprise Risk Management (ERM), perusahaan melakukan identifikasi, mitigasi, dan monitoring risiko secara rutin. Risk Register dan Risk Appetite disusun untuk memastikan pengambilan keputusan sesuai toleransi risiko perusahaan.

BACA JUGA:   TWC Perkuat GRC Demi Destinasi Berkelanjutan Kelas Dunia

“Manajemen risiko itu bukan menakut-nakuti, tapi memberi panduan agar kita tahu kapan harus maju, kapan harus mengerem,” kata Agus.

Jamkrida juga menerapkan model Three Lines of Defence: lini pertama adalah unit kerja operasional, lini kedua adalah divisi manajemen risiko dan kepatuhan, dan lini ketiga adalah SPI yang bertindak sebagai auditor independen.

3. Kepatuhan (Compliance)
Fungsi kepatuhan dijalankan secara independen, memiliki akses langsung ke direktur pembina, dan fokus pada pembentukan budaya kepatuhan. Jamkrida menerapkan SMAP sesuai ISO 37001:2016, kode etik yang ditandatangani seluruh insan perusahaan setiap tahun, serta saluran whistleblowing yang aman.

4. Keberlanjutan (Sustainability)
Jamkrida mengarahkan GRC untuk mendukung SDGs, khususnya penjaminan bagi UMKM dan sektor prioritas daerah, serta mengukur dampak sosial dan lingkungan dari setiap kebijakan.

“Kami ingin bisnis ini bertahan bukan lima atau sepuluh tahun, tapi puluhan tahun. Itu hanya mungkin kalau keberlanjutan jadi prioritas,” ujar Agus.

Whistleblowing dan Anti Penyuapan: Menutup Celah Kecurangan

Jamkrida Jakarta memiliki Whistleblowing System (WBS) yang memungkinkan karyawan atau pihak eksternal melaporkan dugaan pelanggaran, termasuk gratifikasi dan suap. Pelaporan bisa anonim, namun harus memuat detail kejadian seperti what, who, when, where, dan how. Semua laporan diterima oleh Unit Pengendalian Gratifikasi (UPG) dan dijamin kerahasiaannya.

“Kami ingin semua orang merasa aman untuk bersuara ketika melihat hal yang tidak benar. Budaya diam itu berbahaya,” ujar Agus.

Selain itu, Jamkrida menerapkan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) sesuai ISO 37001:2016. Setiap tahun, seluruh direksi, komisaris, dan pegawai menandatangani pernyataan kepatuhan terhadap kode etik perusahaan.

Manajemen Risiko yang Bukan Sekadar Dokumen

Salah satu aspek yang membuat penerapan GRC di Jamkrida Jakarta terasa nyata adalah sistem manajemen risiko yang mereka terapkan. Agus Supriyadi menegaskan bahwa manajemen risiko bukan sekadar tumpukan dokumen atau prosedur yang dibacakan saat audit, melainkan bagian dari keseharian setiap pegawai.

“Kalau manajemen risiko hanya berhenti di dokumen, itu percuma. Kami memastikan setiap pegawai, dari level staf sampai direksi, paham risiko apa yang mereka hadapi di pekerjaannya, dan tahu bagaimana mengelolanya,” ujar Agus.

BACA JUGA:   Ditopang 4 Pilar, CSR WOM Finance Jangkau Masyarakat, Karyawan dan Konsumen

Di Jamkrida, setiap pengajuan penjaminan, baik dari mitra perbankan maupun non-perbankan, dianalisis melalui dua jalur:

  • Analisa CAC (Automatic/Perjanjian Kerja Sama) bagi mitra yang sudah memiliki perjanjian kerja sama.
  • Analisa CBC (Case by Case) melalui peninjauan dokumen dan kunjungan langsung ke lapangan (visit on site).

“Kita tidak mau memutuskan hanya dari atas meja. Kalau perlu, tim kita turun ke lapangan untuk memastikan kondisi riil,” tegas Agus.

Jika sesuai ketentuan OJK, penjaminan dapat dilakukan bersama pihak lain (co-guarantee), diikuti pengaturan reasuransi untuk memitigasi risiko. Proses klaim pun dianalisis ketat sebelum persetujuan pembayaran diberikan oleh Komite Klaim.

Contoh Nyata: Menolak Penjaminan Berisiko Tinggi

Agus membagikan salah satu kasus nyata yang menunjukkan bagaimana GRC diterapkan di lapangan. Tahun lalu, Jamkrida menerima permintaan penjaminan dari sebuah proyek besar yang secara nominal menjanjikan imbal jasa tinggi. Namun setelah melalui analisis risiko mendalam, ditemukan bahwa proyek tersebut memiliki potensi gagal bayar tinggi.

“Secara bisnis, imbal jasanya menggiurkan. Tapi setelah kita lihat lebih dalam, risikonya tidak sebanding. Jadi kita tolak,” cerita Agus.

“Keputusan itu mungkin mengecewakan pihak yang berharap proyek jalan, tapi ini menunjukkan GRC kita bukan formalitas. Kita berani bilang ‘tidak’ demi menjaga kesehatan portofolio.”

Dampak Nyata: Kepercayaan dan Posisi sebagai Benchmark Nasional

Implementasi GRC membawa dampak langsung pada kinerja dan reputasi Jamkrida. Kepercayaan mitra bisnis, investor, regulator, dan publik meningkat. Perusahaan mampu bertahan menghadapi fluktuasi ekonomi dan perubahan regulasi.

Jamkrida juga menjadi benchmark nasional. Penghargaan seperti BUMD Award dan TOP BUMD mengukuhkan posisi ini. Banyak Jamkrida dari daerah lain melakukan kunjungan kerja untuk mempelajari strategi Jamkrida, termasuk inovasi seperti Aplikasi Portal Klaim yang memungkinkan pemantauan klaim secara real-time.

“Benchmark itu artinya kita dijadikan contoh. Tapi buat kami, itu juga beban tanggung jawab. Kita harus memastikan standar kita tidak turun, bahkan terus naik,” tutup Agus.

Menutup presentasinya di TOP GRC Awards 2025, Agus menegaskan bahwa Jamkrida Jakarta akan terus berinovasi dan memperkuat GRC sebagai pilar utama keberlanjutan bisnis.

“Kami ingin Jamkrida Jakarta bukan hanya sukses hari ini, tapi juga di masa depan. Keberlanjutan bukan pilihan, tapi keharusan. Dan GRC adalah kendaraan yang akan membawa kita ke sana,” pungkasnya.

Tags: Jamkrida JakartaPT Jamkrida Jakarta (Perseroda)TOP GRC Awards 2024TOP GRC Awards 2025
Previous Post

Daya Group Tegaskan Komitmen GRC dan Keberlanjutan di Ajang TOP GRC Awards 2025

Next Post

Bangun Masa Depan Energi Hijau, PT TGI Tancap Gas dengan Tata Kelola GRC Terintegrasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR